Friday, May 30, 2014

Karena Kita Istimewa


Seharusnya cinta kita sederhana
semudah Zaini dan Nurmala
yang menikah setelah lulus SMA
dan kini telah beranak dua

Lihatlah mereka bahagia
memancarkan canda dan tawa
dari rumah tua peninggalan ayahnya
yang bahkan tak punya jendela

Seandainya mereka adalah kita
cukuplah sawah sepetak di desa,
perahu kecil pencari tuna
dan sekawanan sapi di sabana

Itulah hidup seadanya
tak perlu rekening bank di kota
cukup warung kecil tempat bertukar benda
dan mainan anak ala kadarnya

Sekolah itu untuk apa?
hanya sebuah taman bermain saja
cukuplah ilmu berumah tangga
yang penting hidup dan bergembira

Tak perlulah itu sosial media
ataupun gadget harga berjuta-juta
romantis itu sepiring berdua
saling menyuap tersenyum mesra

Tapi kau bilang, kita itu berbeda
Kita punya segudang cita-cita
Hidup tak bisa hanya begitu saja
Kita butuh menjadi istimewa


A.S


Thursday, May 29, 2014

Peluit


Peluit itu ia berikan, sebelum aku pergi perlahan
Peluit yang padanya aku percayakan rasa takut, rindu dan angan
Selalu kutiup bilamana air mata mulai menggenang,
rasa takutku seketika datang, dan
kakiku mendadak goyang.
Rindu, ah iya, selalu tentang rindu
Kunikmati rindu layaknya hari yang mula dingin lalu menghangat
dan kemudian ranum jingga di ujung barat
Rindu yang terkadang membuat kami lepas tetawa,
Namun tak jarang pula membuat pilu bagai hilang nyawa
Kami melewatinya dengan cukup baik,
walaupun ada bekas luka yang tak cukup resik

Di suatu sore yang mulai remang,
akupun kembali pulang
Dari rumah seberang, kulihat kau berlari datang
memastikan diri kau tak salah orang
Kau melihatnya, peluitku yang memantulkan cahaya
Ini milikku, katamu
Bukan.
Ada namaku.
Lalu aku tahu, di mana dunia baruku


A.S

Thursday, May 22, 2014

Film dan Temannya

Ada seorang teman yang sangat baik dan punya bakat yang luar biasa. Salah satu bakatnya adalah membuat orang lain merasa nyaman dan senang. Satu dari berbagai hal yang menyenangkan darinya adalah stock film yang dia miliki sangat banyak dan sebagian besar dari film-film itu merupakan jenis film yang saya suka. Entah berapa perbandingan kapasitas film di tiga harddisc-nya dengan file-file yang lain. Terakhir kulihat, folder skripsinya bahkan hanya beberapa megabyte. Selain hobi kuliner, kami hobi nonton. Kami bahkan sudah membuat jadwal film yang wajib ditonton di bioskop sepanjang tahun semenjak tiga tahun yang lalu. Perbincangan kami banyak berputar di sekitar jadwal bioskop,  ratting film di rottentomatoes, pemeran film, timeline cerita, musik pengiring dan hal-hal yang tak jauh dari dunia per-nonton-film-an, termasuk akumulasi tarif parkir mall jika mau menonton film secara marathon. Hebatnya, dia selalu mampu menceritakan (dengan sangat sabar) hal-hal di luar alur cerita yang bisa membuatku lebih mengerti timeline antara film yang satu dengan yang lain tanpa memberikan spoiler berlebihan. Misalnya, hubungan antara Peter Parker – Gwen Stacy – Mary Jane yang tidak terceritakan secara jelas (menurut saya) atau Ra’s Al Ghul yang disebut-sebut di Batman juga Arrow, lalu ada hubungan campur-campur antara Captain America, Iron Man, Hulk dan Thor, dan masih banyak lagi hal-hal yang membingungkan lainnya.


Kemarin saya merasa sangat kehilangan sosoknya ketika saya nekat menonton X-Men The Days of Future Past sendirian tanpa panduan dari siapapun. Dan oh Tuhan, itu sama sekali tidak direkomendasikan bagi orang-orang yang belum pernah menonton X-Men sebelumnya, atau orang-orang pelupa seperti saya. Tanpa membolak-balik timeline dari future ke past lalu ke future lagi saja sudah cukup membingungkan bagi saya. Apalagi film itu dengan sekonyong-konyong menyajikan masa depan, lalu tiba-tiba menyodorkan masa lalu yang pada akhirnya menghilangkan masa depan yang tergambarkan di awal. Lalu bagaimana nasib saya sebagai penonton di masa kini? Kebingungan saya masih belum terjawab hingga sekarang. 


Oh iya, saya berencana untuk menonton Godzilla. Apakah ada hal-hal yang perlu saya pelajari sebelum menonton film tersebut? Bagaimanapun, menonton film selalu menyenangkan.

Tuesday, May 20, 2014

Upacara Kebangkitan Nasional

Na-si-o-nal bersifat kebangsaan; berkenaan atau berasal dari bangsa sendiri; meliputi suatu bangsa. (KBBI)

Tiga hari yang lalu saya nyekar ke makam eyang di Taman Makan Pahlawan Giri Tunggal Semarang. Pemakaman yang dikelilingi tembok hitam itu tertata apik dengan topi perang di atas pusara dan tanaman melati di atas kepala nisan. Setelah gerbang masuk ada semacam pergola yang diselusuri oleh tanaman rambat yang cukup rimbun, menjadikannya terowongan teduh bagi para peziarah yang masuk ke dalam lingkar tengah makam. Sore itu, ada sekumpulan pekerja makam yang sedang duduk merokok disepanjang jalan setapak, mengeluhkan lembur. Menunggu datangnya batu kerikil hitam penghias makam, katanya. “Bos ndhawuhi harus beres sebelum tanggal 20 mbak.” Oh, saya hanya manggut-manggut pura-pura paham. Berarti mereka hanya punya waktu kurang dari tiga hari untuk menaburkan batu-batu hiasan itu di makam sebanyak ini, batinku. Selesai mengirim doa dan menaburkan sedikit bunga di pusara eyang, saya melihat-lihat daftar nama yang di makamkan di tempat itu. Di atasnya terdapat tulisan, AKU GUGUR MEMBELA NEGARA, LANJUTKAN PERJUANGANKU. Dan semerta-merta aku ingat jika tanggal 20 Mei itu adalah peringatan hari kebangkitan nasional. 


Lagi-lagi tentang peringatan. Upacara yang terus menerus di ulang-ulang tiap tahunnya hanya menjadi prosesi seremonial tahunan yang tidak bermakna. Sebuah momentum, katanya. “Momentum untuk bangkit.” kata amanat pembina upacara yang membacakan pidato buatan tim naskah kepresidenan. Di saat Indonesia seharusnya sedang bangkit secara nasional, jujur dan akur, kita justru melihat calon-calon pemimpin kita sedang sibuk menghitung jatah kursi, jatah menteri, berebut kubu koalisi yang memegang media televisi dan mengumbar janji-janji yang tak pasti. Nasional itu bukan tentang satu-dua orang atau sekumpulan orang dan partai politik. Nasional itu tentang suatu bangsa yang besar, tentang semua yang ada dari Meulingge sampai Merauke, dari Sangihe hingga pulau Rote. Bagaimana kita, bukan kami ataupun mereka, tetapi kita bangkit bersama-sama. Kita sama-sama rindu akan rasa bangga terhadap bangsa kita sendiri, bangga bahwa kita adalah bagian dari bangsa itu, bangsa yang membanggakan. Leluhur kita tak perlu bangkit dari makamnya untuk berjuang karena kita ada di sini, di segala lini roda kehidupan yang akan melanjutkan perjuangan mereka. Berhentilah merasa benar, jadilah manusia yang benar. Berhentilah merasa pintar, jadilah manusia yang pintar. Kita sama-sama jenuh akan keterpurukan, jijik akan kebiadaban, bosan dengan kemiskinan dan jengah atas kebodohan. 

Saya sadar, saya di sini hanya berbicara. Jadi tolong ajari saya untuk menjadi orang yang berguna, yang bisa bangkit dan membangkitkan. Mari kita belajar bersama-sama untuk bisa melakukan tindakan nyata yang bukan hanya semata-mata prosesi upacara. Saya percaya bahwa kita bisa membangkitkan Indonesia.


Nyekar           : berziarah
Pergola    : jalan untuk pejalan kaki, di atasnya terdapat para-para untuk tanaman merambat sbg peneduh yg                                                ditopang oleh deretan tiang di kanan kiri jalan
Ndhawuhi     : (jawa) memerintahkan

Kulihat ibu pertiwiSedang bersusah hatiAir matamu berlinangMas intanmu terkenang

Hutan gunung sawah lautanSimpanan kekayaanKini ibu sedang laraMerintih dan berdoa

Kulihat ibu pertiwiKami datang berbaktiLihatlah putra-putrimuMenggembirakan ibu

Ibu kami tetap cintaPutramu yang setiaMenjaga harta pusakaUntuk nusa dan bangsa

Friday, May 16, 2014

Sebuah Kotak Berpita



Di dalam sebuah kotak berpita,
ada sekumpulan cerita
tentang indahnya cinta
yang melintasi jalur kereta

Di dalam sebuah kotak berpita
ada sebentuk cita-cita
tentang dua hati dan empat mata
yang berharap menyatu adalah nyata

Di dalam sebuah kotak berpita
ada kita, tentang kita


A.S

Sebuah Perenungan

Hanya yang pernah kehilangan yang tahu arti kepemilikan
Saat tahu bahwa "memiliki" bukanlah hak manusia, 
maka "hilang" hanyalah ketiadaan yang kembali ke asalnya
Semua itu adalah tentang keseimbangan
Datang - pergi, lalu besama - sama kembali

Hanya yang punya penyesalan yang tahu arti kesempatan. 
Saat tahu bahwa waktu relatif adalah semu, 
maka putaran hidup hanyalah akibat dari sebab di masa lalu
Atas - bawah, usaha kemudian berserah.

Hanya yang pernah menderita yang tahu arti berbahagia
Saat tahu bahwa memberi bukan tentang pengurangan, 
maka kegembiraan hanyalah perkalian dari apa yang diberikan
Suka - duka, hadiah Tuhan yang jenaka.

Kita itu tentang tidak ada menjadi ada lalu kembali tiada
Kita itu tentang penantian tepatnya masa
Kita itu tentang usaha untuk berbahagia


A.S.

Monday, May 12, 2014

Dekat itu di sini, bukan di sana

Aku mau kamu dan mauku cuma kamu
Kamu begitu dekat tapi mengapa tak lekat
Kamu pun tak jauh namun mengapa pula tak bisa ku sentuh

Aku milikmu walaupun kita tak kunjung bertemu
Aku jatuh cinta meskipun memang tak kasat mata

Hai cinta, mengapa kau bisa menjadi duka?
Kau begitu mencekat saat kau tak cukup rekat
Hai rindu, mengapa kau tak pergi saja dulu?
Aku ingin sejenak lupa tentang jarak yang ada

Apa yang kau harapkan sayang?
Apa aku harus diam saja pasang senyum bersahaja?
Sedang aku pun ingin sesekali bisa memanja
Atau aku harus tetap tertawa saat mungkin kau telah lupa,
bahkan telah berdua?
Aku khawatir, aku cemburu dan aku egois
Aku terus saja berpikir dan tak jarang pula menangis

Mengapa kau di sana dan tak kunjung kemari?
Sedang di sini ada cinta yang bisa kita miliki


A.S

Sunday, May 4, 2014

Beri Tahu Aku

Aku tahu, sudah lama tahu
Saat aku pertama kali menangis karenamu,
aku tahu kau tak seberapa menyayangiku
Aku tahu, sejak lama tahu
Sejak aku bukan menjadi pilihan utamamu,
aku tahu kau tak begitu menginginkanku
Aku tahu, dari dulu tahu
Sedari kau pergi waktu aku begitu membutuhkanmu,
aku tahu aku tak sedemikian berharga bagimu

Aku tahu,
hanya saja aku mendebat logikaku
hanya saja aku menyangkal keadaanku
Aku tahu, hanya saja aku menolak untuk tahu

Aku tahu,
kamu terlalu menyenangkan untuk jadi kenyataan
Akupun tahu,
kamu menjadikan dirimu sebentuk kebiasaan di dalam zona nyaman

Tapi kini aku tak tahu,
saat dengan gamblang kau ganti harapan menjadi kenangan
Aku malah tak tahu,
saat kau hentikan usahamu untuk terlihat meyakinkan

Aku tak tahu, apa aku akan terus berpura-pura untuk tidak tahu.


A.S

Wednesday, April 23, 2014

Surat untuk Pacar Baru

Salam sayang, 

Apa kabar Mas? Semoga Mas selalu sehat dan berbahagia. Ada yang ingin adik ceritakan Mas. Siang ini adik mendapat kiriman kaos yang pernah adik pesan sejak hampir dua bulan yang lalu. Sehelai kaos yang pasangannya ada pada seseorang yang dulu teramat adik sayang. Mas masih ingat lelaki yang dulu adik ceritakan dengan terbata-bata dan berlinang air mata? Lelaki yang pernah membuat adik melantur tentang waktu yang tidak lagi presisi linimasa-nya. Waktu itu, Mas mungkin sempat bingung bahkan jengkel karena tak tahu harus berbuat apa. Mas hanya bisa pasrah merelakan sapu tangan serta pundakmu sembari mengusap kepalaku dan tersenyum takut. Adik ingat betul samar-samar di antara isak adik sendiri, adik mendengar Mas berucap lembut:
"Sekarang saatnya mencoba untuk rela agar tak ada lagi sesalan. Sekarang saatnya belajar maaf agar tak ada lagi bara dendam. Namun kau tak perlu menjadi lupa, hanya perlu ikhlas menerima."

Sore itu gerimis. Tak ada binar senja yang memeluk kita. Hanya saja, semenjak itu aku melihat Mas dengan cara yang berbeda. Entah apa, entah bagaimana. 

Kini adik mulai terbiasa, mulai rela, dan mulai bisa menerima, seperti pintamu Mas. Dan jika takdir bersama kejenakaannya mempertemukan adik kembali dengan pemilik pasangan kaos itu, adik mohon doa-mu, agar adik sanggup untuk berkata dan meminta padanya:

Dulu aku mencintaimu dengan begitu kerasnya. Kau orang yang luar biasa baik, sabar dan penyayang. Kita pernah punya bahagia yang mungkin tak bisa aku lupakan. Dan bersamamu pula aku mengenal teman-teman yang begitu menyenangkan. Sungguh, engkau orang yang teramat baik. Jika tak keberatan, ada yang ingin aku pintakan. Kelak, saat mungkin kita bertemu kembali di pantai kita, saat itu mungkin kau sedang bermain bola dengan anak lelakimu dan aku sedang membuat istana pasir dengan puteri kecilku, kita bisa saling tatap dan bertukar senyum. Saat anak kita bertanya,"Siapa dia?" kita dapat sama-sama menjawab seraya berjabat tangan,"Dia seorang teman. Teman yang teramat baik."

Begitulah Mas, terima kasih atas kesediannya mendengarkan. Oh iya Mas, seandainya kamu, sapu tangan itu dan senyumanmu di sore yang gerimis lalu bukan hanya delusiku, aku akan sangat bahagia.


Yang kini mencintaimu dengan sepenuh hati,
-pacarmu yang baru-



Backsound: Let It Go by Indina Menzel


NB: terinspirasi dari #suratuntukmantan-nya @dedekintan dan surel-nya @ekolalutriono. Terimakasih. :)

Tuesday, April 22, 2014

Tentang Rindu

Tak peduli jatuh sedalam apa ataupun patah serusak bagaimana, hati pada dasarnya butuh untuk ditemani. Karena membutuhkan teman itulah, maka rindu bisa hadir. Dia mampu hadir di sela derai tawa maupun di dalam rinai air mata.

Kamu bertanya, "Bagaimana kabar rindumu? Apakah dia segemuk tahun lalu saat kau beri dia makan jarak sejengkal pulau? Ataukah kini dia kurus kering akibat vonis sakit yang tak bisa disembuhkan?"

Tidak, kataku. Rinduku sehat meskipun tak segemuk dulu. Dia jauh lebih tangguh walaupun sedikit linglung sebab tak tahu kepada siapa dia ditujukan. Hanya sebatas bayang-bayang samar akan seorang lelaki yang entah seperti apa wujud nyatanya. 
Sesekali dia bertanya padaku bagimana lelaki itu kelak. Apakah dia tampan, menyenangkan dan suka makan? Bagaimana genggaman tangannya? Apakah sehangat sarung tangan wol yang digosok penggaris plastik hingga mampu membuat rambut tanganku tegak berdiri? Bagaimana kecupannya? Apakah selembut dan semanis jus alpukat? 
Jawabku, jangan terlalu tinggi berkhayal. Mungkin lelaki itu hanya lelaki biasa, sebiasa-biasanya lelaki. Lelaki biasa dengan sepatu futsal atau gitar atau stick playstation-nya atau lelaki yang punya kebiasaan menebar kaos kaki bau serta handuk basah. 

Sepertinya rinduku tidak keberatan dengan itu, asalkan dia lelaki yang punya senyum manis yang tidak terbatas. Rindu bilang, dia menginginkan lelaki yang tetap tersenyum saat di hadapannya hanya ada nasi lembek dan tempe goreng asin yang sedikit gosong. Pemilik senyum yang dirindukan saat tak nampak dan menambah rindu saat dia tepat menatap.

Begitulah rinduku. Dia hadir saat aku butuh teman untuk menstabilkan emosi, untuk mengusap kepalaku saat lelah demikian mengacau dan untuk meredakan rasa takutku dalam menghadapi dunia yang tak lagi ramah.

https://www.flickr.com/photos/ropemonkey/3418110715/

Kemarilah Tuan, rinduku menantimu.

(backsound: Vanilla Twilight by Owl City)

Monday, April 7, 2014

Sesulit Itu

Aku kembali gagal. Untuk kesekian-kalinya aku tidak bisa bertahan. Tiga tahun tidak juga bisa membuat kami cukup kuat untuk tetap berjuang. Sesulit itukah?

Angan-anganku, dia adalah pangeran itu. Pangeran yang atas izin Tuhan menyelamatkanku, yang bisa aku cintai atas izin Tuhan pula. Sesulit itukah?

Lalu ada kamu, kalian. Mempesonaku dengan angan-angan yang sama. Angan-angan yang hingga kini masih juga berwujud angan. Bahkan, kita sendiri belum sanggup meyakininya, apalagi cukup berani untuk mewujudkannya. Sesulit itukah?

Selamat ulang tahun, Adelina. Jadilah gadis 24 tahun yang berbahagia dan membahagiakan. Yakinlah, bahagia tidak sesulit itu.


Backsound: https://soundcloud.com/adelina-shafetsila/hari-untukmu by: Hendra Bagus Pamungkas

Monday, January 20, 2014

Turun Tangan

Gerakan Turun Tangan diinisiasi oleh Anies Baswedan, Peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat. Gerakan ini diawali kesadaran bahwa masalah di negeri sebesar ini tidak mungkin dapat diselesaikan satu orang. Sekadar urun angan tak akan menyelesaikan masalah, kita pilih untuk turun tangan rame-rame.(http://aniesbaswedan.com/ikut-turun-tangan)



Saya ikut program itu dan saya ikut pula memasang twibbon turun tangan. Untuk apa saya ikut melakukan itu? Karena saya ingin turun tangan. Saya bukannya mau men-dewa-kan Anies Baswedan, saya hanya salah satu orang yang terinspirasi oleh beliau. Saya bukan orang yang tidak ikut pemilu jika pak Anies tidak menang konvensi. Bukan. Saya hanya ingin turun tangan. Saya ingin turun tangan untuk bangsa ini, untuk negara ini, siapapun presidennya, gubernurnya, bupatinya, camatnya ataupun ketua RTnya. Jika dengan turun tangan berarti saya mendukung Anies Baswedan, maka saya akan mendukung beliau sepanjang beliau mendukung kebaikan untuk bangsa ini. Jika bentuk kebaikan di negeri ini berbentuk orang lain (bukan Anies Baswedan), saya rasa pak Anies akan merelakan kekalahannya dan tetap akan turun tangan bagaimanapun caranya untuk kebaikan.

Gambarannya, Anies Baswedan mencanangkan program Indonesia Mengajar, salah satu turun tangan beliau kepada Indonesia. Saya ingin ikut turun tangan seperti itu walaupun kapasitas saya tidak sebanding dengan beliau. Saya tidak lolos seleksi Indonesia Mengajar. Lalu, apakah keinginan saya tersebut hanya saya simpan sebagai angan-angan saya? Saya harap tidak. Saya mengikuti program serupa yang walaupun mungkin lebih tidak bagus, lebih tidak tertata, lebih tidak siap dan lebih banyak kurangnya, tetapi itu mungkin lebih cocok dengan kapasitas saya. Saya ingin turun tangan untuk Indonesia. Saya sadar, turun tangan yang telah saya lakukan tidaklah sebanding dengan apa yang telah sebagian orang lakukan untuk bangsa ini. Oleh karena itu, saya ingin berbuat lebih. Saya ingin turun tangan lebih. 

Saya rasa Turun Tangan untuk Indonesia akan terus dilakukan meskipun Anies Baswedan tidak menjadi presiden. Saya berharap pak Anies akan sependapat dengan saya.

Ayo, turun tangan! ^_^9

Monday, January 13, 2014

Anniversary

Udah maghrib kan ya? Berarti udah waktunya ANNIVERSARY-an. Judul kali ini, anniversary. Banyak anak-anak muda yang suka anniversary-an tiap bulan. Hal itu yang ditentang keras sama teman twitter saya si @dedekintan. Dia berangan-angan membuat seminar yang menjelaskan bahwa anniversary itu diperingati setiap satu tahun sekali, bukan satu bulan sekali (ditanggal yang sama). Kemudian saya sempat bertanya kepadanya, (memohon restu)"Apakah boleh anniversary dihitung berdasarkan kalender hijriah?" Sebenanya saya bukan tipe orang yang suka meng-istimewa-kan sebuah hari atau benda, jadi sebenarnya bagi saya, ulang tahun atau anniversary kapanpun tidak pernah jadi soal. Akan tetapi, terkadang anniversary ditanyakan dalam beberapa kesempatan. Misalnya, ketika memilih status "in relationship" di facebook, kita diminta mencantumkan kapan relationship itu dimulai. Kebetulan yang kami ingat (saya dan pasangan saya di facebook), kami memulai relationship itu disaat hari Maulid Nabi  tiga tahun yang lalu. Jadi, kami putuskan untuk menandai satu hari ) yang memang sudah ditandai dengan warna merah) sebagai hari kami, hari di mana kami berdua mulai menerbitkan mimpi kami bersama-sama.

Petang ini,melihatmu di depan asrama, rasanya masih sama seperti saat melihatmu di depan kos di balik pagar, di bawah pohon rambutan tiga tahun lalu. 

HAPPY ANNIVERSARY....semoga kita diberi kesempatan untuk memeluk mimpi-mimpi kita bersama.

Sunday, January 12, 2014

2013



Bye..bye.. 2013...!!! Bagiku 2013 berarti: RPP, RPP, RPP daaannn RPP sepanjang tahun. (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran -red). Akan tetapi, ketika sekarang (2014) aku ditanya, “Apa yang kamu ingat di tahun 2013?” Jawabku, “Singapore!” Hohoho,, Walaupun (mungkin) sudah mainstream jalan-jalan ke sana, dan katrok (rong ngewu telulas, lungo Singgapur wae ribut!) tetapi setidaknya 4 hari di sana cukup menghapus derita setahun. Pengalamanku ini aku rasa sama sekali tidak bisa dijadikan patokan bagi orang-orang yang ingin melancong ke negeri Singa Dugong (merlion –mermaid lion) itu, baik yang a la backpacker maupun a la koper. Yahh..cerita orang beda-beda kan? Daaaannn....inilah Singapura versi-ku:

Semarang, 24 Desember 2013 (04.00-05.30)
Berangkat menuju stasiun Tawang dibonceng sepeda motor sambil masih kucek-kucek mata (padahal udah mandi lho!). Banyumanik-Tawang kala itu masih lengang, cantik, wangi bunga yang baru turun dari Bandungan, harum bolang-baling yang baru digoreng, menyenangkan. Setibanya di Tawang, Argo Sindoro sudah menunggu di jalur 1, dan berangkatlah kami.

Jakarta, 24 Desember 2013 (12.30)
Argo Sindoro telat setengah jam. Di jemput salah seorang sepupu di Gambir, lalu aku melanjutkan perjalanan ke Tangerang, tempat aku menginap malam itu.

Tangerang - Jakarta – Singapura, 25 Desember 2013
Dari Tangerang, kami ber-taksi (bertujuh) menuju Cengkareng (bandara Soekarno Hatta). Tik-tak-tik-tok...lamaaa...nunggu boarding. (secara, kita sampai jam setengah 7, baru terbang jam 9). Sempet bongkar koper dan bagi rata bawaan untuk dimasukin ke kabin juga gara-gara overload kacang bawang, gula kacang, gula merah, empek-empek, tahu bakso, tahu petis, bandeng presto, kripik tempe, seriping pisang...bla-bla-bla-bla. Keren ya?!! *enggak!* Bagi yang jarang atau baru pertama kali ke Soetta (kayak aku ini), bandara ini kelihatan guedhee..kereennn... Tapi bagi yang sudah berpengalaman di sini (kayak sepupuku), bandara ini kelihatan jorok. Sampai-sampai dia bisa nemuin tikus berkeliaran-mabok lem di samping vending machine. (padahal udah lama aku bengong-kagum sama mesin yang bisa ngeluarin kopi kalau dimasukin uang 5 ribuan itu, aku enggak ngelihat tuh, si tikus mabok).

Kalau  ngelihat bandara Soekarno-Hatta aja aku udah kayak Alice in Wonderland, di Changi airport aku kayak Alice in Super-Wonderland-So-Much. (ah, lebay ding!). Changi mungkin 3 atau 4 kali lipatnya Soetta. Tapi herannya, di dalam sini nggak kayak di dalam bandara (bukan karena nggak ada tikusnya lho, ya!), tapi kayak di dalam mall.

Karena itu tanggal 25 Desember 2013 = Hari Natal = Seminggu sebelum tahun baru 2014 = liburan semester ganjil ana-anak sekolah di Indonesia, jadi rame bangetlah itu bandara bertebaran orang-orang Indonesia di mana-mana, di toilet, di sebelah pohon cemara lebih-lebih di antrian yang nge-cek-in passport. Eng-ing-eng... sepupuku sudah siap menjemput dan muncul di antara kerumunan sambil nunjukin “kartu sakti” nya kepada petugas. Setelah dia ngobrol-ngobrol (kami duduk-duduk serta foto-foto), kami diizinkan lewat hanya dengan senyum kepada petugas. (curang ya? Ya, sudah yaa..maafkan kami ^_^). Keluar Changi kami naik mobil gedhe (sejenis shuttle) menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia.



Sorenya, selepas ashar kami pergi mengunjungi nenek Singa-Dugong dan bayi Singa-Dugong di Merlion Park (FYI, katanya di Singapura itu ada lima merlion resmi. Di Merlion Park ada 2, yang tertua dan yang terkecil, di Pulau Sentosa yang terbesar, terus ada di Gunung Faber sama di Orchard Spring Lane). Aku nggak sempet liat yang dua terakhir. Dari Merlion Park, kita bisa melihat bangunan megah, mall, hotel, casino berbentuk kapal yang nyangsang di atas hotel (kata budhe, itu Noah Arc), flyer dan lain-lain. Di teluk tempat nenek Merlion memuntahkan airnya banyak balon-balon berisikan wish untuk tahun 2014 yang ditulis oleh pengunjung (khusus untuk akhir tahun mungkin). Sedangkan yang setiap malamnya ada di sana, yaitu pertunjukan laser. Semacam layar tancep di atas air yang layarnya menggunakan semburan air dan entah bagaimana caranya bisa begitu indah, indah banget sebab gratis.




26 Desember 2013
Empat keponakan ngebet ke USS (Universal Studio of Singapore) dan aku ngeri ngebayangin wahana di sana (terutama ngeri harga tiket masuknya: 65 SGD). Jadilah mereka ke USS dan aku bersama para tetua-tetua rombongan cabut ke Garden by the Bay.  Taman yang diresmiin sama pangeran Inggris dan istrinya: ayam yang beratnya setengah ton, Kate Middleton (ahahahaa...just kidding! –garing). Jadi intinya taman itu merupakan gabungan taman-taman kecil beserta spesies khasnya dari seluruh dunia. Tanaman yang menonjol (kalau dilihat dari souvenir yang ditawarkan) adalah anggrek dan raflesia arnoldi. Padahal, menurut kabar yang pernah aku baca di akun twitter @AndaTahu, bunga nasional Indonesia ada 3: Melati, anggrek dan raflesia arnoldi. Nah lho, sisa melati doang tuh! Udah tinggal sisa satu, dibilang bunga “murah” pula. (hotel melati = hotel yang terjangkau oleh masyarakat ekonomi lemah – KBBI).
Malamnya kami ke Mustofa Center. Tempat belanja di kawasan Little India (mungkin pemiliknya juga orang India) yang menjual apa saja, kecuali (mungkin) tuyul.

27 Desember 2013
Shopping time! --- Aku nemenin doang sih!
Pertama, ke swalayan yang namanya pakai huruf China, kasir dan kebanyakan pembelinya orang Tionghoa juga bahasa yang digunakan bahasa Mandarin. Belinya: banyak mie instan dan keperluan rumah lainnya. Hal-hal unik, yaitu: sebelum masuk supermarket ambil troli belanja dulu. Caranya: masukin koin 1 SGD supaya bisa melepas rantai yang mengikat troli sebagai jaminan kalau troli rusak atau sampai dicuri dibawa pulang ke rumah (serius). Soalnya troli boleh dibawa dan ditinggal begitu aja di halte bis. Dan kalau kamu (maaf) seorang nenek-nenek tua, cerewet, dan (mungkin) Cina, kamu boleh masuk ke dalam swalayan naik sepeda listrik yang beroda tiga, membawa belanjaan dikeranjangnya sambil ngomel sepanjang waktu pakai bahasa Mandarin.
Kedua, Anchor Point. Si mbak sepupu ngebet beli tas ber-merk yang katanya lebih murah kalau beli di situ. Kami masuk ke kiosCharles & Keith lengkap dengan belanjaan mie instan. Akhirnya setelah sekian lama memilih antara hitam dan cokelat, dapatlah tas pujaan hati dengan harga “murah”. Karena aku belum pernah menginjakan kakiku ke C&K, jadi aku tidak bisa membayangkan semahal apa tas itu jika berada di kios C&K di Jakarta atau di Semarang atau di manapun selain di situ.
Ketiga, Orchard Road. Malioboronya Singapura kali ya! Sepanjang jalan itu berderet Mall. Kami masuk ke Lucky Plaza. Belanja gantungan kunci merlion 10 SGD = 1,5 lusin, gantungan kunci kepala Barbie 10 SGD = 3 buah, Kaos I love Singapore 10 SGD = 3 buah, tas jinjing 10 SGD = 3 buah dan lai-lain. Pokoknya satuan yang digunakan di situ adalah 10 SGD. Nggak tahu kalau seandainya beli eceran jadi berapa. Itu mall murahnya, mall mahalnya yang bisa aku ingat: Paragon (karena namanya sama dengan mall di Semarang). Kalau ada game QuizLogo tentang fashion, aku yakin bisa menebak semua logonya. Disitu komplit-plit-plit barang-barang bermerk terkenal (baca: mahal). Yang aku suka dari Orchard Road adalah es krim Orchard (Nggak tahu nama aslinya apa). Es krim batangan di antara dua tumpukan roti atau wafer. Bisa buat kasih makan burung yang banyak bertebaran disitu juga.
Keempat, Queensway. Ini yang aku tunggu-tunggu. Bukan belanjanya, tapi dari Orchard Road, kami naik MRT. Siapa tahu aku keburu mati sebelum MRT yang di Jakarta itu selesai dibangun. Di situ, para  keponakan ngubrek-ubrek sepatu.
Kelima, yang paling aku tunggu-tunggu: Pulaanggg... T,T

28 Desember 2013
Pulau Sentosa. Para tetua ingin berkunjung ke S.E.A (South East Aquarium) sebelahnya USS. Aku sendiri nggak masuk, karena nggak begitu kepingin. Jadi, hanya duduk-duduk di mini teather yang menayangkan ekspedisi Cheng Ho setiap 15 menit sekali. Yang aku suka adalah bentuk kapal Cheng Ho yang mirip kepala Kura-kura di Avatar the Legend of Korra 2 part avatar Wan. Setelah menonton video kurang lebih 12 kali, rombongan yang masuk ke aquarium akhirnya keluar. Kami akhirnya meninggalkan pulau Sentosa yang dibangun pakai tanah yang diambil dari Indonesia (ngangkutnya pakai apaan ya?) setelah sempat nengokin papa Merlion. Kemudian para sepupu kepingin belanja (lagi) dan para ponakan kepingin nonton bioskop. Akhirnya aku memutuskan untuk ikut para tetua yang kepingin pulang. Hohohoho,,

29 Desember 2013
(09.00) Changi Airport – Pesawat – Bandara Soekarno Hatta – Bis Damri – Stasiun Gambir – Kereta Argo Sindoro – Stasiun Tawang – Sepeda Motor – Banyumanik (00.30). Huwaaaa...!!!! Besoknya harus presentasi dan belum menyiapkan apapun.

Postingan kali ini panjang dan nggak informatif juga ya? Hahaha,, terimakasih sudah sabar membaca hingga selesai. :D

Selamat Tahun Baru and Happy New Year..!! ^_^

Thursday, October 24, 2013

Disiksa Kebosanan

Sudah hampir 8 bulan aku tinggal di asrama tetapi belum juga kerasan. Rutinitas monoton dan kegiatan teoritis yang di"ada-ada"kan membuatku jengah. Aku menjadi penasaran sebenarnya akhir dari semua ini itu apa? Kata-kata penghiburan yang sering aku dengar adalah:
"What will be, will be...bersyukurlah...kamu ini sudah sangat beruntung...nikmati saja...let it flow...sabar..." hingga kalimat yang lebih masuk akal, seperti "halah, nanggung. Udah menderita lebih dari separuh perjalanan. Dikit lagi." atau "Kamu bisa apa? Mau ngembalikin duit yang udah terlanjur kamu makan?"

Penderitaan sejauh tidak membunuh, seharusnya membuatku semakin kuat. Tapi kuat dalam hal apa? Kuat menjadi "yes man", menjadi pion, atau menjadi boneka kayu? Aku merasa seperti bidak (atau budak?) yang dijalankan oleh orang-orang berkuasa atas dalih "proyek" peningkatan pendidikan bangsa. Grand design yang luar biasa (terlihat) bagus, aku rasakan sebagai rencana pengalihan yang melibatkan beberapa kepentingan.

Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal dan yang dilanjutkan oleh Pendidikan Profesi Guru (PPG) dilaksanakan selama 5 periode (5 tahun). Selama 5 tahun itu pula, diambil putra-putri daerah dari berbagai Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal yang juga di-beasiswa-kan dan di PPG-kan di universitas pencetak gelar sarjana pendidikan yang ditunjuk oleh pemerintah. Setelah putra-putri daerah tersebut selesai merampungkan beban beasiswanya, mereka akan dikembalikan ke daerahnya untuk mengabdi (menjadi guru pegawai negeri sipil).

Lalu bagaimana dengan ribuan pasukan pengalihan yang sudah dikorbankan demi terciptanya pegawai negeri sipil putra-putri daerah tersebut?

Itulah pertanyaannya.

Apakah aku harus memikirkan alternatif pekerjaan lain? Ini pertanyaan selanjutnya.

Pertanyaan akhir, lalu siksaan ini untuk apa?

Thursday, October 17, 2013

Pain for Beauty

Cantik itu apa? Bagaimana? Rambut panjang dengan ikal di ujung, wajah tirus, lesung pipi, leher jenjang, ketiak putih, kaki jenjang, dan kuku diatur rapi sepanjang 3 mm? Berbagai hal sepertinya dilakukan untuk mencapai arah tersebut. Rebonding/smoothing, blow sana-sini, pakai make up tebal plus shading pipi, pakai blouse dengan potongan leher rendah, waxing di beberapa bagian tubuh, pakai high heels atau wedges, hingga pedicure dan manicure. Teringat waktu itu di candi ke lima Gedong Songo, ada perempuan yang memakai wedges yang terlihat berat kesulitan menuruni jalan setapak yang akhirnya melepas alas kakinya dan rela berkotor-kotor menginjak kotoran kuda setelah lelaki yang bersamanya menyerah untuk menggendong di punggungnya.

"Pain for Beauty" Kalimat tersebut tercetus dari kisah asli Cinderella yang ketika itu para saudara tiri harus memotong jarinya atau melindaskan kakinya ke gerobak agar kaki mereka bisa muat memakai sepatu kaca. 



Dengan ini, aku yang punya rambut lurus kaku memerah, pipi tembem tanpa lesung pipi, dada dan pantat rata serta kaki yang selalu kram jika terlalu lama memakai sepatu hak tinggi berikrar menganggapmu sebagai yang terindah....

....meskipun bagimu dia-lah yang tercantik.

Monday, October 14, 2013

Gantinya Telaga Warna dan Candi Dieng

Berminggu-minggu yang lalu aku mencoba browsing tempat wisata yang bisa dikunjungi untuk mengisi liburan Idul Adha (13-14 Okt). Terpikir untuk menyeberang ke Karimunjawa atau rafting di Banjarnegara, tetapi akhirnya kuambil keputusan untuk nanjak (naik motor) ke Dieng. Murah meriah kabarnya. Tidak muluk-muluk harus mendapatkan golden sunrise Sikunir, hanya berfoto dengan sekawanan teletubbies di kawasan candi Dieng sekiranya cukup. Okay, setelah deal-deal-an sama Fuad, diputuskan untuk berangkat selepas subuh di hari Minggu. 

Yah, apalah kuasa manusia ketika ternyata Fuad bangun kesiangan, diketok pintu kosnya tidak ada yang membukakan, dan telepon, sms, whatsapp-pun tiada guna. Matahari sudah meninggi dan bayangan tentang Telaga Warna serta candi Arjuna memudar. Pukul 6.30 Fuad keluar,"Jadi?"

Speechless....

Setelah berjuang meredakan gejolak hati dan Fuad sudah mandi ala kadarnya, kuboncengkan dia. Mampir pasar krempyeng untuk membeli sate ayam 5000/bungkus, kami menuju "telaga warna". Gazebo embung UNNES menjadi tempat sarapan kami. Embung yang warna airnya hijau menjijikan kiranya cukup mewakili "indah"nya Telaga Warna  dan Telaga Pengilon. 





Next, untuk mengganti candi Dieng yang terdiri dari: candi Arjuna, Srikandi, Sembadra, Puntadewa, Semar, Gatotkaca, Setyaki, Nakula, Sadewa, Petruk, Gareng, Dwarawati, Abiyasa, Pandu, Margasari, Bima, aku putuskan untuk ke Candi Gedhong Songo yang konon kabarnya mirip Candi Dieng.

Tetap tanpa kata tanpa aba-aba aku membawa "kami" melewati jalur Bandungan untuk "nanjak" menyambangi candi-candi yang sebenarnya jumlahnya tinggal 5. Ini adalah kedua kalinya aku menginjakan kaki ke kompleks candi Gedhong Songo setelah kurang lebih 8 tahun silam. Terjadi banyak perubahan seperti sudah ada jalan setapak (yang banyak eek kudanya), kios penjual yang ditata apik, dan tentunya kuda yang semakin banyak dan bertarif mahal (90 ribu rupiah untuk keliling ke sembilan a.k.a kelima candi). Sejauh yang aku ingat, dahulu ada hamparan bunga ungu di antara puhon-puhon pinus yang bergerombol di sana. Kini gerombolan pohon pinus itu sudah dipagari Perhutani dan hamparan bunganya ditimpa oleh bangunan ala camp musim panas. Memutari kompleks candi sudah tidak sebegitu melelahkan dahulu jadi tak perlu menyewa kuda kalau memang tidak ingin naik kuda, sumber air panas belerang-pun sudah dialirkan ke kolam pemandian dengan paralon-paralon yang seliweran di beberapa tempat.

 Candi 1

Banyak anak pramuka yang menjadikan jalur ini untuk kegiatan mencari jejak.


(Akhirnya) Candi 5 (sekaligus 6-7-8-9)

Perjalanan mengitari kompleks candi selesai, saatnya makaaannn!!! Bermacam-macam buah di pasar Bandungan dan ikan bakar Jimbaran bisa jadi alternatif. Atau untuk penggemar sapi dan turunannya (daging, sosis, susu segar, milkshake, yougurt,  dan lain-lain) Cimory juaranya!

Baiklah, belum saatnya Tubby berjumpa... Takkan lari gunung dikejar... Dieng, suatu hari....

Saturday, August 31, 2013

You are the Only Exception

Kamu tahu sawang sinawang? Teman-temanku banyak yang bilang kita itu punya banyak kecocokan dan selalu tampak menyenangkan. Begitukah? Apa kita selalu baik-baik saja? Kita berbeda, atau bagiku kita demikian berbeda. Kita tidak selalu menyenangkan atau aku merasa aku tidak selalu senang. Ini bukan tentang apa yang kamu suka dan tidak aku suka.

Oh, bukan...bukan begitu. Kamu menyenangkan. Bahkan teman-teman sekamarku ingin membuat fans club tentangmu. Mereka seolah-olah mengerti, mengenalmu, ikut memilikimu dan menjadikanmu sebagai temannya. Seluruh duniaku menyukaimu. Kamu bisa melebur dengan sempurna. Sebaliknya, apa yang aku ketahui tentang duniamu? Tentang hobimu? Tentang teman-temanmu? Tentang cita-citamu? Aku tidak tahu. Mereka tampak demikian asing. Kamu mungkin menganggapnya aku membecinya. Aku tidak mendukungmu. Bukan. Aku hanya merasa tersingkir di sana.

Aku ingin memberi, ingin merasa dibutuhkan, tapi kamu tidak pernah meminta. Sejalan dengan itu, aku ingin melihat duniamu, ingin tahu apa yang bisa membuatmu tertawa, tapi kamu tak pernah menawarkan. 

Aku takut jika suatu saat kamu akan lebih bahagia jika tidak denganku. 

Aku tidak suka makan bakwan, tapi aku dengan senang hati akan memasakkannya untukmu. Aku bukan orang yang lapang, tapi aku akan belajar untuk bisa maklum. Aku bisa tidak menonton Sendratari Ramayana, jika memang kamu lebih suka kartun Jepang. 

Aku bisa saja pergi, kecuali pergi meninggalkanmu.

#backsound "When You were My Man"

Asmara yang Terhalang Asrama

Asrama lagi? Iya, soalnya banyak yang nanya sih, kenapa tinggal di asrama. Beginilah ceritanya: awal mula gara-gara program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal). Salah satu masalah besar di Indonesia: terlalu banyak singkatan. Program ini semacam Indonesia Mengajarnya Anies Baswedan tapi ini dikelola oleh pemerintah (Ditjen DIKTI: kepanjangannya dari?). Jangan ditanya deh, bedanya apa sama Indonesia Mengajar. Yang jelas tuh bedaaaa...banget! Selengkapnya tentang SM3T di sini. Singkat cerita (proses daftar sampai penempatan beribet minta ampun), aku di tempatkan di Kabupaten Aceh Besar, kecamatan Seulimeum, kemukiman Lampanah-Leungah, gampong Lampanah (mau kasih link tapi ternyata lokasinya gak kelihatan di Google Map karena ngeblur). Nah, setelah ditugasin di sana, aku (dan yang lainnya) dikembalikan ke kampus untuk penggemblengan berikutnya yang disebut PPG (Pendidikan Profesi Guru). Salah satu dari sekian BUANYAK kewajiban selama PPG adalah tinggal di asrama. Ternyata, yang satu ini menarik salah BUANYAK yang lain. Kalau mau tahu jadwal kami, yang mau tahu aja sih.. (ikh, om-nya kepo) :D, bisa diunduh di sini. Itulah mengapa hingga saat ini aku nggak bisa pulang rumah sering-sering, nonton bioskop malem-malem, nonton Fuad openmic, selalu ngomel kalau Fuad pergi openmic sampai pagi (nggak lagi dah..kan kamu udah lulus :p), dan nggak bisa sering-sering makan enak juga tidur nyenyak. 


Ya Alloh, paringono kuat...paringono Fuad... Aamiin... ^_^9


Thursday, June 20, 2013

Anak Asrama Nyasar di Jogja #1

“Tapi yang menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah menemukan diri kita sendiri; sebuah rumah yang sesungguhnya. Yang membuat kita tak akan merasa asing meski berada di tempat asing sekalipun…
…because travelers never think that they are foreigners.” ― Windy Ariestanty, Life Traveler.

Dan kemudian terlintas kata Jogja begitu saja, sore lalu sepulang kegiatan asrama. Jenuh dengan semua aturan-aturan yang bahkan nggak aku ngerti tujuannya untuk apa. Pagi berikutnya (06.00), bersama dua orang teman (@rossyoktaviani dan Mbak Tiwi) nekat meluncur bersepeda motor melintasi Semarang-Jogja (rekor baru bagiku mengendarai sepeda motor sejauh itu). Dengan nasi pecel alun-alun Magelang sebagai sarapan, pukul 10.00 kami sudah tiba di tujuan pertama: Taman Sari.  (Jelas, lengkap dengan tersesat). Cukup melelahkan untuk mendapatkan beberapa spot foto yang baik. Lalu kemana? Perjalanan tanpa rencana memang bisa sangat membingungkan. Baiklah, diputuskan kampus Universitas Gadjah Mada berikutnya untuk menghampiri adikku (@AfrindaSwastika) yang akan menjadi guide kami selanjutnya. Masjid kampus UGM membuat saya flashback mengingat masjid di kampus-kampus lain. Mungkin ini yang terbaik. ^_^

Malam menjelang, dengan bulan samar setelah hujan, House of Raminten menjadi pilihan kuliner. (Lumayan.... soal rasa, satu hingga sepuluh, dapet tujuh dehh..!). Selanjutnya, kami meluncur ke Tugu 0 kilometer. Atas petunjuk guide jadi-jadian @AfrindaSwastika dengan pengetahuan wisata Jogja yang pas-pasan, jadilah kami nongkrong di tugu 0 kilometer Jogja. Tugu berbentuk kaki dengan akar-akar  menjulang menjadi simbol titik mula Jogjakarta. Beberapa komunitas meramaikan malam itu. Musik perkusi, sepeda (yang bisa jungkir balik), pelukis dan masih banyak lagi. 

Perjalanan kali ini seharusnya ditemani juga oleh @fuadfuu, namun karena kesibukannya dengan komunitasnya, jadi kami harus berpuas diri mengambil gambar secara bergantian. hehe,, ^_^v
Satu hal yang aku sadari sejak malam itu adalah komunitas itu seperti rumah di mana (mungkin) tidak ada rumah lain yang bisa menampung mimpi unik kita.

*Tulisan kali ini absurd ya? hahaha,, Tenang, masih ada Jogja in Action hari kedua dan tiga. Mungkin ceritanya bisa lebih bagus ^_^