Friday, March 13, 2015

Bersama Doa

Jika akhirnya kamu tidak bersama dengan orang yang sering kau sebut dalam doamu, mungkin kamu akan dibersamakan dengan orang yang diam-diam mendoakanmu
 --- seseorang

Jumat tanggal tiga belas dan luka itu masih cukup jelas membekas. Satu bulan menuju hari bahagiaku dimana aku akan tertawa sampai kaku, sampai hilang semua ragu. Aku mulai berbenah, berusaha membuat kamarku tampak berubah, mencoba menyingkirkan beberapa benda yang masih juga membuatku resah, terutama mengelap noda darah dari hatiku yang pernah terluka parah. Tempo hari kau bertanya apa yang kupinta, apa yang bisa kau bawa, dan aku yakin kau sanggup membawakanku semesta. Namun tahukah kau, aku terlalu takut untuk meminta sebab aku sedang belajar untuk mencinta. Aku takut tak bisa menolakmu dengan segala pesona pembawa bahagia. Oh, aku akan berbahagia walau orang mungkin tak percaya bahwa aku sanggup bahagia --- dengan cara membuat luka.

Satu tahun kita bersama dan aku mulai berdoa. Satu tahun kita mengambil tempat yang berbeda dan aku tetap berdoa. Satu tahun kita kembali berjumpa dan aku masih berdoa. Satu tahun kita berpisah, sebuah doa lain menjemputku bersamanya. Aku akan mulai membalas doanya, mencintanya dan berbahagia serta membahagiakannya. Untukmu, semoga segera kau temukan tempatmu.

Sudah saatnya tiba aku berhenti bercerita tentang lalunya masa, mencoba berkisah tentang cinta yang fitrah serta cita-cita yang indah.

Terimakasih atas kisah kasih seorang kekasih, semoga Tuhan selalu mengasihi. Aamiin.



Beruntunglah jika kamu dibersamakan dengan orang yang kau sebut namanya dalam doamu sekaligus diam-diam mendoakanmu. 

Wednesday, December 31, 2014

Aku Hanya Manusia

Aku, kau dan dia, kita berbagi peran,
mengocok dadu lalu mengambil bagian
Kita bisa bergaya apa dengan cara bagaimana
Hanya kita tak bisa menentukan alur cerita

Ini tentang waktu di mana
kau terlampau dini untuk hadir
karena waktumu sudah ditentukan di akhir
Lalu kau  seperti memaksa berbalik aliran air
yang terlampau sulit penuh pahit dan getir

Ini tentang waktu bilamana
dia terlalu lambat untuk berperan
karena waktunya seharusnya di depan
Lalu dia seperti mendobrak pintu bendungan
yang terlalu keras susah untuk diruntuhkan

Kemudian aku terjepit dan berdarah
Di antara saling silang alur cerita yang tak tentu arah
Aku bisa saja berlaku marah bukannya pasrah
Namun ketahuilah akupun manusia lemah


Backsong : Human, Christina Perri 

Saturday, December 13, 2014

Sepotong Lasagna dari Tempat yang Jauh



Hubungan jarak jauh bagaimanapun itu ADA dan banyak orang yang menjalaninya. Beragam orang memandang hubungan tersebut dengan cara yang berbeda. Dari anggapan romantis tentang “Selalu berteduh di bawah abadinya rindu” hingga pemikiran “Seperti berpacaran dengan hantu”

Namun satu hal yang saya yakini dengan pasti (setidaknya hingga tulisan ini dibuat) bahwa tidak ada orang waras satupun di semesta raya ini yang menginginkan hubungan jarak jauh. Rindu itu bagai sembilu, yang mengiris pilu pembuat sendu.

Saya ingin menganalogikannya begini:
Saya mempunyai hubungan yang sulit dijelaskan dengan sebuah makanan bernama lasagna. Sangat disayangkan di kota tempat saya tinggal saat ini tidak kunjung dibuka kedai makanan magis ini. Saya merindukannya dan berbagai cara saya berusaha untuk mendapatkannya. Melihat videonya di youtube, memasang gambarnya sebagai wallpaper handphone saya, membayangkan dan memimpikannya, Lalu apa? Hal yang saya lakukan tersebut sama sekali tidak mengobati kerinduan saya, justru memperparah. Tentu akan sangat berbeda ceritanya jika saat ini ia terhidang di depan saya lengkap dengan segelas jus semangka.

Begitulah, sepasang kekasih bisa saja saling menyapa melalui suara, pesan pendek hingga video call, tetapi rasanya akan sangat jauh berbeda jika mereka dapat bersama. Apapun sebutannya, entah berdua atau bersatu, sepasang kekasih yang berada di ruang dan waktu yang sama, itulah yang disebut bahagia bersama.

Tuesday, December 9, 2014

Jenuh

Saya jenuh dengan kata "tunggu" yang bergaung sendiri
Saya jenuh dengan janji yang tak kunjung tertepati
Saya jenuh dengan kesabaran yang tak bisa abadi
Saya jenuh dengan ego yang maunya menang sendiri
Saya jenuh dengan dosa yang tak layak diampuni
Saya jenuh dengan kita yang masih saja begini

Monday, November 24, 2014

Pilihan



Andy terpaksa melakukan semuanya. Dia terpaksa mengubah penampilannya. Dia terpaksa "mengkhianati" rekan kerjanya. Dia terpaksa memutuskan hubungan dengan pacarnya. Dia terpaksa "menomorsekiankan" hal-hal yang dia sayangi karena dia "harus" mengikuti Miranda. Benarkah demikian? Benarkah ia tak bisa melawan? Benarkah ia sama sekali tak punya pilihan? 

Oh, tentu saja ia bisa menentukan apa yang seharusnya diprioritaskan. Demikian pula denganku, begitu juga denganmu.

Friday, November 21, 2014

Seberapa Sayang?

Mengapa kita sering membiarkan orang yang kita sayang menunggu?

“Sebentar Nak, tangan ibu masih belepotan.” Jawab seorang ibu yang sedang sibuk di dapur ketika diminta anaknya mengucirkan rambut. Itu sebelum telepon berdering dan si ibu asyik bergossip dengan dharma wanita lain sambil tak sadar melumuri gagang telepon dengan bumbu kuning.

“Nanti ya, kalau ayah udah pulang kantor.” Jawab seorang ayah yang sedang sibuk memakai sepatunya bersiap pergi ke kantor ketika anaknya sedang meminta pendapat sang ayah tetang tugas menggambarnya di sekolah. Kemudian si ayah pulang larut malam dan sama sekali lupa.

“Sebentar Mah!" Jawab seorang suami yang sedang asyik memainkan PS4-nya ketika dimintai bantuan oleh istrinya untuk mengangkat jemuran. Kemudian hujan keburu datang dan membuat semua kembali basah.

“Sebentar, Pah!” Jawab seorang istri yang sedang asyik berdandan ketika diklakson suaminya yang sudah berada di atas motor yang sudah menyala sejak 30 menit yang lalu. Lalu si istri keluar rumah dengan penampilan biasa saja.

“Sebentar Bund!” Jawab seorang anak yang sedang sibuk membuka facebook, twitter, path, instagram, dan blog-nya ketika  ibundanya meminta bantuan untuk berbelanja di warung sebelah.


Lalu pertanyaanya adalah, “Seberapa sayangkah kita?”



Backsong : When you love someone --- Endah n Resha

Wednesday, November 19, 2014

Time Capsule


Hai, apa kabar? Jika kau membaca surat ini berarti kau masih hidup. Semoga hidupmu diberkahi Tuhan dengan kesehatan. Dulu kau sering mengeluh maag dan migraine sebab makan dan tidurmu kurang teratur. Mungkin saat ini kau sudah bisa menenangkan pikiran dan mengelola emosi dengan lebih baik. Katanya, waktu mengajarkan perubahan. Kuharap badanmu tak sekurus dulu. Aku selalu prihatin ketika memandang cermin melihat deretan tulang yang menonjol di pangkal leher dan dada. 
Oh ya, bahagiakah dirimu? Sibuk apa sekarang? Siapa suamimu? Berapa anakmu? Saat kutulis surat ini, hal-hal itulah yang memenuhi benakku. Kau pasti menganggapku bodoh setengah mati. Kau ingat, saat aku patah hati berulang kali dan  menangis menjadi-jadi? Kau pasti akan menasehatiku dengan bawel bahwa aku ini perempuan yang teramat rewel. Sebelum kau mengomeliku, kiranya aku akan mendahuluimu.

Serahkanlah segala sesuatu kepada Tuhan, jika usahamu tidak lagi bisa kau paksakan maka sudah saatnya kau memasrahkan. Kau bisa memulainya dengan membaca Al-Quran. Ingatkah kau dengan ayat sakti yang aku baca dengan tidak sengaja ketika sakit hati? fabiayyi alaa 'iraabikumaa tukadzdzibaann? Kau pasti lebih tahu tentang hal itu. Tentang syukur dan sabar. Kuharap kau bukan sosok emak-emak yang berpikiran repot dan merepotkan. Eh, kau bukan perawan tua yang judes, bawel, dan menyebalkan kan? Kalau iya, berubahlah. Kudoakan kau masuk surga dan punya suami tampan di sana. Oh iya, tentang hal itu. Kau ingat, sudah berapa kali dulu kau jatuh cinta? Secara pribadi aku meminta maaf yang sebesar-besarnya karena kelakuanku dulu memberimu lara yang tragis bahkan lebih banyak dari cinta bahagia.

Kau punya anak? Berapa? Cantik dan tampankah? Pasti mereka segalanya. Tentang anakmu, ada yang ingin aku pintakan: bekali mereka dengan ilmu agama yang baik, bebaskan mereka melakukan apa yang mereka suka sejauh mereka mampu menjadi yang terbaik dalam hal itu, dan jangan persulit mereka ketika mereka mulai menemukan belahan hatinya juga restui mereka selama ikatan mereka dalam kaidah norma yang baik. Aku tahu, kau mempunyai pemikiran sendiri, kaupun orang yang selalu merasa benar sendiri. Kau bisa menilai tetapi jangan sekali-kali memaksa tanpa alasan yang cukup bagus. Oh, kau pasti bisa membedakan alasan logis dan sangat pintar membuat serta berargumen tentangnya.


Sudah ya, kapan-kapan kita berbincang lagi. Aku selalu mendukung dan mendoakanmu. Kau tak pernah sendiri.

Tuesday, November 18, 2014

Guru Honorer



Dalam sebulan, kami bekerja (dengan dibayar) selama satu minggu, sisanya kerja bakti. Jadi perhitungannya seperti ini.
Misal:
Gaji pokok = Rp. 15.000,00 / jam
Dalam seminggu kami mengajar sebanyak 24 jam. (24 jam adalah standar guru profesional yang disertifikasi)
Berarti gaji yang kami dapat (hanya)        = 24 x Rp. 15.000,00
                                                                   = Rp. 360.000,00 / bulan

Beberapa di antara kami cukup banyak yang berani mengambil resiko keberlangsungan hidupnya (dan keluarganya) dari penghasilan yang demikian.


-- Maaf, teman-teman…… karena saya pernah meng-iya-kan anggapan orang bahwa pekerjaan tersebut hanya pengisi waktu luang, bukan sumber penghidupan.

Monday, November 17, 2014

Idul

Saya punya kucing. Sebenarnya ada tiga, namun saya ceritakan salah satunya saja. Idul, namanya. Kucing berwarna cokelat jingga yang (tadinya) gemuk. Idul senang sekali merebahkan tubuhnya di samping kaki kami berharap untuk dijadikan keset. 

Suatu hari, berbulan-bulan lalu Idul pulang ke rumah dengan muka bersimbah darah. Bola mata kirinya terluka. Ajaib, Idul bisa sembuh walau dengan mata kiri yang buta. Runtut cerita, Idul berkelahi dengan pejantan lain karena memperebutkan seekor betina. Iyalah, dia kalah. Tipe kucing rumah yang melawan tikuspun ia pasrah. 

Kemudian tiga malam lalu, Idul ditemukan tergeletak di tengah jalan. Diam tak bergerak, mendengking pelan. Di sebelahnya, masih betina yang sama, yang menjadi alasan dia buta, tergeletak dengan usus terburai tak bernyawa. Ayah yang malam itu sedang ronda, mengangkat Idul dan membawanya ke rumah. Semenjak itu Idul selalu diam, Tampaknya dia telah terpuruk terlalu dalam.


-- Manusia saja tak sebaik dirimu, kawan.


Thursday, October 30, 2014

UUN = Ujung-Ujungnya Nikah

“Kenapa sih ya, sekarang ini obrolanku sering banget tentang nikah? UUN. Ujung-ujungnya nikah. Apa kamu juga iya?”
 – Dwi, 25 tahun, Guru Matematika

Dan saya-pun akhirnya meng-iya-kan pertanyaannya setelah “kena batu”nya sendiri. Saya yang sebelumnya sudah cukup lama menjalani hubungan yang (katanya) serius namun akhirnya putus, terjatuh pada lubang yang sama. Saya jatuh pada hubungan abu-abu yang TIDAK BISA saya putihkan maupun saya hitamkan (dengan segera). Iya, saya tidak tegas, pengecut dan bodoh setengah mati. Saya kembali bertaruh dengan waktu, bahkan setelah saya merasakan sendiri betapa magisnya kekuatan waktu. Saya kembali tertampar oleh teguran Tuhan bahwa DIALAH YANG MENENTUKAN! 

Saya kembali teringat akan tulisan alay seorang Adelina di masa silam. Boleh dicek di adelataulina.blogspot.in/2011/10/making-plans-and-targets.html. Kemudian, (mungkin) atas jalan-Nya pula belum lama ini saya kembali mengaktifkan handphone butut saya yang lama. Ada note  beralarm pada aplikasi kalender yang isinya:




Saya membayangkan jika seandainya pesan tersebut tidak saya buka di hari itu, esok pada tanggal 1 November tepat tengah malam akan ada alarm berbunyi yang mengingatkan saya tentang target menikah yang saya buat entah sedari kapan. Jika anda tidak percaya ada orang yang bisa menertawakan kebodohannya hingga terpingkal-pingkal lalu menangis sejadi-jadinya segera setelah ia tertawa, mulai saat ini, percayalah. Saya sudah melakukannya.

Lalu apa yang harus saya lakukan?

Tuhan,
“Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Oh, saya harus beriman, berbuat baik, mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran.


NB: saya tidak akan selamanya murung. Saya hanya sedang memulihkan perasaan dari perasaan tertolak dan gagal. Saya jelas tidak akan membiarkan diri saya berantakan, apalagi di usia saya yang bisa dibilang "wagu" untuk bersedih secara lebay. Saya hanya butuh waktu. Katakanlah, saya sedang merasa patah hati untuk kesekian kali. Dan kepadamu, juga siapapun, saya akan lebih berhati-hati.

Backsound: Berhenti Berharap -- So7

Saturday, September 6, 2014

Seorang Guru


 

Selalu terbesit dalam hati saya ketika berhenti di persimpangan lampu merah, “akankah saya patuh ataukah kebiasaan buruk membuat saya kalah.” Saya seorang guru, dan sayalah orang yang seharusnya ditiru. Lalu saat tangan saya menggenggam sampah, akankah saya membuang pada tempatnya atau cuek melemparnya tak tentu arah. Karena saya seorang guru, dan sayalah orang yang tak pantas berbuat saru.

Saya sadar ternyata saya bukanlah mengajar siswa, tetapi sayalah yang belajar dari mereka. Saya belajar tentang perjuangan, tentang beragam indahnya “skenario” hidup garapan Tuhan. Suatu hari seorang siswi membentak saya ketika saya memaksa dia menyebutkan nama kecil ibunya. Masalah kecil, sekedar data peserta didik biasa, sebuah administrasi belaka. Namun tidak baginya. Dia tak pernah tahu, dan tak ada yang mau memberi tahu siapa sebetulnya sang ibu. Terlalu banyak sakit hati, terlalu banyak duri, yang lebih baik disimpan tanpa peduli perihal jati diri.

Di lain hari, seorang siswi mengeluh sakit pada pinggang sebelah kiri. Kami bicara pelan, kemudian terurai kisah tragis yang memilukan. Tentang pekerjaannya mencari uang, dari para pendatang yang masuk lewat pelabuhan. Para lelaki hidung belang, yang ingin sekedar mencari hiburan di kala senggang.  

Dan hari ini, saya tersentak kembali. Penyebabnya adalah seorang siswa lelaki yang begitu sering aku marahi sebab rambutnya panjang berponi. Berkali-kali dia selalu lari dan hanya meringis geli ketika dia berhasil membuat saya berteriak emosi. Lalu tadi, kami duduk saling berbagi. Dengan ancaman gunting di tangan kiri, dia berjanji akan memperbaiki diri esok hari. Dengan buku catatan pelanggaran siswa di tangan kanan, aku catat nama ayahnya untuk sasaran aduan. Namun katanya, ayahnya tak lagi ada. Bukan karena pergi tertutup nisan tetapi memang tak ada yang tahu di mana si ayah gerangan. Dia hanya tinggal bersama sang eyang karena ibunyapun sedang merantau di negeri seberang.

Guru itu belajar. Belajar tentang syukur dan sabar. Bukankah kunci hidup bahagia ada di keduanya? Dan guru itu mengajar. Mengajar berdasarkan apa yang sudah dia dapat dari prosesnya belajar. Bukankah hidup memang berputar begitu adanya?



-- Untuk Novian, pemilik cengiran tengil a la Monkey D Luffy, maafkan ibu sudah begitu sering memarahimu. Tetapi kamu memang begitu menyebalkan. XD

Thursday, August 28, 2014

Pusing yang Bercerita

Belum pernah ada hari dimana aku tak mengingatmu. Sedari hal makan nasi hingga potong kuku, bahkan saat tawaku bukan lagi karenamu. Banyak hal yang aku rindu, entah itu kau sekedar mendengar atau beri nasehat tak bermutu. Banyak hal yang ingin aku ceritakan, cerita berulang yang biasa membuat kamu bosan. Seperti rusaknya (lagi) laptopku dan banyaknya (lagi) administrasi guru. Kau tahu, aku tak lagi semanja dulu. Lebih sedikit tidak merepotkan, atau mungkin memang hanya padamu aku bisa mengutarakan keluhan. Setidaknya aku mau tetap makan walaupun duduk sendirian. Akupun tetap rutin nonton walaupun hanya berteman popcorn.

Sekarang aku sadar, bahwa kau dulu begitu sabar. Aku lebih bergantung padamu daripada dirimu akanku. Mungkin karenanya lebih sulit bagiku untuk menahan tangis saat kenangan tajam mengiris. Hari ini aku kembali cengeng. Eh, mungkin hanya karena bensin tak lagi cukup dua kali goceng. Atau laptopku yang sekarang sudah jadi rombeng.


*maaf, mungkin ini yang disebut pusing tujuh keliling. Seharusnya saya sedang mengetik RPP bukan malah curhat lewat HP.


Bunga



Berbunga adalah fase terindah  dalam rangkaian anugerah. Di mana pesona yang sedang mekar dan angan-angan mulai terpapar. Bunga itu menyapa, bunga itu berbicara, dan bunga itu merasa. Bunga tidaklah kekal, namun dari sanalah cikal bakal semua berawal. Bunga itu hati. Dan hati yang mekar di tempat yang tepat, akan menemani 'till death do us part. Bunga, buah kemudian benih, walau perjuangannya tak jarang menggores perih. Dapatkah mencipta tunas, karena memang kehidupan terkadang keras. 

Kalian bilang cinta tidaklah boleh terlalu, agar tak mati tersiksa oleh masa lalu. Namun bukankah kita ini bunga? Memberikan semua, syukur diterima pasrah bila jatuh terluka. Ketika hati diharuskan mengabdi, maka harapan dianggap abadi. Karena pengabdian tanpa cinta yang tak berkesudahan adalah perbudakan tanpa belas kasihan. 


Thursday, July 24, 2014

Tuan Pelangi


Kupunya bekas luka yang nyerinya masih terasa.  Nyeri yang mengeja sejarah, hingga lupa itu tak punya celah. Seribu alasan ada untuk meninggalkan, namun masih saja ada satu sangkalan untukku bertahan. Darinya kumengenal canda tawa, bahagianya sebuah keluarga, dan indahnya mendewasa. Melalui matanya aku belajar terbuka. Melalui tawanya aku tahu apa itu jenaka. Melalui genggaman tangannya aku merasakan nyamannya bersama. Darinya pula kumengerti bahwa tak semua mimpi bisa terjadi, elegi itu perlu kelapangan hati, dan sakit hati bukan hanya perih di sini tapi seluruh tubuh terasa nyeri. Pandanganku berubah. Imajinasiku goyah.  Hujan sekejap mampu membuatku meratap melesap dalam sembab dan tanpa sebab senyumku pun lenyap.

Dan kau kah itu, pelangi setelah hujan serta garis perak di tepian awan? Tuan pelangi, kau indah dengan warna yang mempesona mewah. Namun bukankah kau hanya bulir hujan yang dibias sinar secercah. Sekejap lalu lenyap. Aku tak mungkin lancang meminta keabadian, aku hanya butuh sebuah kepastian. Seperti mentari, tuan pelangi. Yang pasti datang menyapa pagi walau kadang mendung tak merestui. Seperti bulan, Tuan. Walau purnama tak selalu bisa bersama.

Hatiku tak lagi lunak, tidak pula luluh lantak. Ia mengeras seperti gelas. Pecahnya merajam, mungkin bisa menyakitimu tajam. Mustahil kembali utuh, yang ada hanya rapuh, melepuh tak dapat sembuh. Apa yang bisa kupercayakan selain tipisnya perasaan? Takkan bisa kuberkilah curang, walaupun kau jauh mundur ke belakang. Tuan, pernikahan memang bukan jaminan,  tapi itulah restu Tuhan. 

Friday, July 11, 2014

Akupun Sayang


Telah kunyatakan perasaan dalam setiap helaan, kuulang hingga terdengar usang. Berbagai cara aku hadirkan demi hatimu yang sekian lama kurindukan. Saat akhirnya bibir tipismu mengiyakan, bahkan air mata terlalu sederhana untuk mewakili kebahagiaan. Lalu semalam, hatiku remuk redam, kau buat tiada dalam tangismu olehnya. Pengorbananku tak seberharga kenanganmu tentangnya. Andai saja kau bahagia, maka sakitku tidaklah seberapa. Sialnya kutemukan kau dalam keadaan hampa, nyaris tak bernyawa. Kau, perempuan yang begitu lama kudamba, hanya bersisa gema masa lalumu dengannya. Sesekali memang wajahmu merona, berbayang ponimu yang sealis mata. Kaupun tertawa dan aku mulai percaya bahwa kau memberiku cinta. 

Gadisku, katakanlah pintamu. Jikapun kau memilihnya, tak peduli caranya kau harus berbahagia. Dan bila ternyata bersamaku adalah inginmu, aku tak ingin lagi ada sendu yang memilu. Sayangku, jawablah tanyaku. Haruskah tetap kugenggam tanganmu saat kau tolehkan wajahmu pada masa lalu?

Sayang, ini yang aku punya. Mungkin tidak terlalu banyak tawa, namun tak akan pernah kubiarkan ada lara. Mungkin tak terlalu banyak waktu, tapi kupastikan semua ini tidaklah palsu. Pilihlah, putuskanlah, berbahagialah. Percayalah, ini bukan pasrah. Satu hal tentangku terhadapmu: aku tak akan pernah menyerah. 

Thursday, July 10, 2014

Petang


Di mana kita? Petang berselimut pilu menyandang kenangan. Belumlah malam, siangpun bukan. Aku tak bisa berhenti di tempat dan waktu yang memang seharusnya aku berdiri. Seperti halnya mencintaimu, berhenti itu mati. Kau tahu apa yang begitu menyebalkan? Aku terus menunggumu dan kamu selalu bilang kelak kita akan. Kau tahu apa yang begitu jahat? Kau menyuruhku bahagia tanpa berani mengawal bahagiaku dari dekat. Lalu kau menggerutu, mengiba dan mengubahku menjadi sosok nenek sihir yang mengambil puteri terkasihmu.

Kau meninggalkanku di keadaan yang pernah terpikirkan olehku pun enggan. Sadarkah kau aku begitu ketakutan saat kau jatuhkan vonis perpisahan. Bagaimana rasanya tak buta namun tak lagi ada warna, bagaimana rasanya tak tuli tapi semua mendadak sunyi dan bagaimana bisa aku ada tapi tak merasa. Tak cukupkah setiaku hingga tak pantas menemani perjalanan hidupmu. Berlebihankah manjaku sampai kau menolak ada berjuang bersamaku. Entah apa itu janji suci mengapa begitu sulit untuk dipenuhi.

Hujan pun jatuh, tergesa-gesa tanpa gemuruh. Sekelebat jingga yang memudar membentuk bayanganmu samar.  Betapa setiap garis wajahmu yang begitu kukenal tak pernah membuatku merasa menyesal. Mungkin aku hanya bimbang, bisakah aku terus berpura-pura senang. Sepertimu, seperti tawamu. Haruskah aku melangkah pergi atau berbalik kembali.

Aku, sayang bagaikan petang. Belumlah malam, siangpun temaram. Ajari aku memanja pada cantiknya senja, berjuang layaknya terik siang atau biarkan aku pergi mendatang malam, mengulang pagi.

Thursday, July 3, 2014

Pintaku Saat Kita Jauh


Saat aku sedang ragu, yakinkanlah aku tentang setiamu
Saat aku sedang rindu, tataplah mataku dan nyatakan cintamu
Saat aku sedang marah, dengarkan omelanku dan beri aku waktu
Saat aku sedang sedih, ceritakan masa depan dan pancing tawaku
Saat aku sedang bosan, nyanyikanlah untukku sebuah lagu
Saat aku sedang letih, bimbinglah aku pada lelapku
Saat aku mulai menyerah, datanglah dan kuatkan aku


Juli

Hujan Bulan Juni
-- Sapardi Djoko Damono
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu


Andai aku rintik hujan, akulah hujan bulan Juli
Yang  tak tabah, bijak apalagi arif
Aku begitu tergesa-gesa, keras kepala dan egois
-- Adelina Eka Shafetsila

Saturday, June 7, 2014

Surat Balasan

Tulisan ini aku tulis di halaman kedua dari sebuah surat yang begitu lugu dan sedikit gombal juga disertai typo di sana-sini. Mungkin si penulis sudah tak sabar menyatakan benaknya atau dia sedang meringkuk di pojok kamar, terburu-buru agar tak terpergok teman satu kos. Jatuh cinta memang dapat menjadi sesuatu yang memalukan. Bagaimana hal seperti itu bisa membuat degup jantung tak beraturan, tangan gemetaran, dan tak ada sepatah katapun yang sanggup terucapkan.



Hai Cancerian yang mencinta, aku percaya padamu, pada cintamu, pada ketulusanmu. Kamupun segigih Scrat akan kacang kenarinya dan sesabar beruang besarnya Masha. Aku mengenalmu begitu lama, semenjak kita mengenakan baju serba putih kala dokter kecil dulu. Lalu kita tumbuh bersama dalam seragam putih biru dan disatukan di ruang putih abu-abu. Selama itu, apakah aku cukup mengenalmu? Kita memang sama-sama saling tahu tentang cinta monyet masing-masing. Begitu lugu, begitu lucu. Aku tahu seberapa tinggi nilai-nilaimu di kelas seni dan olahraga. Begitu ironi, mengingat akulah yang terburuk di kelas itu. Sungguh setengah mati aku iri padamu. Dan apakah kau mengenalku? Perempuan kaku, jutek, pendiam dengan ukuran pipi yang tidak proporsional? Baiklah, kamu tahu bagaimana mengeja nama belakangku dengan benar atau tahu mengenai rumor seberapa galak ayahku. Tapi bukankah hanya sebatas itu?

Hai tetanggaku, aku baru sadar bahwa ternyata kita begitu dekat. Sialnya, hubungan kita justru mendekat saat jarak kita demikian jauh. Hampir setiap hari kulewati depan rumahmu yang dipergola pohon pare. Hampir setiap pagi kulewati sekolah yang menjadi tempat pertama kali kita bertemu. Anehnya, sudah berapa lama aku tak melihatmu? Lima tahun? Bisa kau bayangkan itu? Waktu itu sedang masanya pak Prabowo akur dengan bu Mega. Kau lihat bagaimana waktu lima tahun cukup lama untuk bisa membalikkan keadaan. Iya, itu lama. Kudengar kini kau tak sekurus dulu. Syukurlah, kau lebih beruntung dariku.

Hai teman lamaku, bisakah kau---aku---kita sanggup mempertahankan rasa? Aku telah mencobanya beberapa kali dan sebanyak itu pula aku gagal. Cukupkah percayamu padaku untuk kau pertaruhkan dengan masa depan? Cukup beranikah kita menghadapi kekhawatiran kita sendiri yang tak semua orang sanggup melakukannya di usia kita? Bisakah “aku-kamu” membuat “kita” ini berhasil? Cukup teguhkan “kita” untuk tidak menyerah satu sama lain? Tidaklah bijaksana membuat janji di saat kita bahagia. Iya, aku bahagia bersamamu. Paling tidak, aku tertawa sebanyak dulu.

Mas, menyukaimu, menyayangimu, mencintaimu itu tidaklah sulit. Kamu begitu suka-able, sayang-able dan lovable. Biarkan jarak dan waktu yang memantaskan kita. Ada banyak pertanyaan yang butuh jawaban pembuktian. Bukankah selama ini kita sudah terlalu sering kecewa dengan janji tanpa bukti? Mari belajar mendewasa. Kau tahu rumahku, ayahku di rumah. Belnya masih di pojok kiri pintu gerbang. Akan kutunggu kau datang.

Saturday, May 31, 2014

Karena Kita Istimewa 2



Siapa bilang kita tak berani
takut itu bukan seperti ini
Kita justru menolak mati
walau terpisah seluas negri

Kita itu bukan lari
apalagi menyerah sembunyi
Kita hanya menunggu hari
di waktu yang tepat pasti

Kita ini sedang bersiap
agar kelak melangkah tegap
tak peduli kata orang berucap
Perlukah kita banyak cakap?

Kalian tanya pengorbanan?
Kita bahkan tak bergandeng tangan
lama pula tak berpandangan
Apa itu bukan perjuangan?

Namun ini cara kita berkisah
tak pantas bila kita berdua menyerah
Takdir itu tak lalu menjadikan pasrah
bukan pula pelampiasan amarah

Kita kan terus mencinta
dari pagi hingga datang senja
lalu sampai hari berikutnya
Karena kita percaya,
- - kita begitu istimewa

A.S


Backsound: Asmara Nusantara (Budi Doremi)