Wednesday, August 3, 2016

Cerita Lahiran

Eaaa..akhirnya cerita juga. Belum pernah cerita ke siapa-siapa lho.. Suami aja belum diceritain. Hahaha,, habis kesel sama dia! Kesel tapi cinta!  I'm that kind of women who blame the husband for everything.  kasihan yak, dia.. Kenapa kesel? Check it out!

Flashback agak jauh, aku adalah orang yang sangat benci muntah. Ada kali fobia muntah. Beruntungnya (atau sial), aku ngalamin morning sickness yang cukup parah. Nggak tahan bau-bauan apalagi bau nasi. Alhasil, nggak makan nasi. Terus makan apa? Makan pisang! Semoga bukan karena itu anakku seneng gelayutan sama emaknya. Berhubung bau nasi aja bikin mual, nggak mungkin dong aku masak. Nah, praharapun muncul. Boro-boro mijetin aku tiap kali muntah, dia ngomel karena aku gak pernah masak. Yak, kita marahan sampai morning sicknessku ilang. Untung aku punya teman-teman kerja yang sangat baik hati yang menyuplai gizi selama aku hamil. I love you, guys. Sejak saat itu, sambil meringkuk dipojokan (lebay), aku kapok hamil. Cukup 1 anak saja.

Mana cerita lahirannya?!! Oh iya, jengjengjeeeng...! Minggu ke 34, aku dipulangin ke rumah orangtua. (nyanyi: pulangkan saja aku pada ibuku...) Menjalani hari dengan makan banyak, tak terasa sudah minggu ke 39. Suatu pagi, aku merasakan sakit luar biasa di perut bagian bawah. Sumpah deh, gak bohong soal "luar biasa"nya. Lalu ngeflek cokelat gitu. Karena panik, semua orang panik, dibawalah aku ke UGD RS Pertamina Cilacap (RSPC). Eng..ing..eng...!! Cuma Braxton Hicks. Apa itu? Cek google deh yaa..

Sejak saat itu aku lebih waspada dan was-was. Gila, kontraksi palsu aja begitu sakitnya, apalagi kontraksi beneran. Tepat di minggu ke 40 pas HPL adalah jadwal periksa obgyn. Apa itu HPL? Apa itu obgyn? Cek google yaa.. Jadwal obgyn jam 2 siang. Kami berangkat jam 8 pagi karena kebetulan bapak ibu mau sekalian takziah. Aku punya firasat dari sehari sebelumnya kalo aku bakal lahiran hari itu. Makanya udah sekalian bawa tas serba serbi lahiran plus nyuruh si calon ayah untuk pulang dari kemarin (tapi si ayah gak percaya, jadi dia tetep kerja). Selama bapak ibu takziah, aku" dititipin" di rumah budhe.
Sedari berangkat, aku mulai ngerasa ada tendangan dari langit eh, dari dalem yang lebih keras daripada biasanya ke arah bawah. Tapi rasanya belum bisa dikatakan sakit. Cuma sedikit menegang saja. Aku cek, sensasi seperti itu muncul 15 menit sekali. Aku masih cuek. Masih bisa dibawa jalan-jalan. Jam 2 siang, kami ke RSPC. Aku sebagai pasien terakhir. Nunggu lama, masih tetep ada tendangan itu tiap 10-15 menit. Begitu giliran tiba, aku cerita ke dokter. Udah ngerasa sedikit kontraksi (kalo bisa disebut kontraksi, soalnya aku kan gak tau kontraksi beneran kayak apa). Kata dokter janin sudah turun panggul, tapi belum masuk proses persalinan. Kemungkinan 2-3 hari lagi. Oke, jam sudah pukul 5, kita pulang. Sampai rumah setengah 6, buru-buru shalat ashar. (ibu hamil macam apa yang shalatnya nelat? Jangan ditiru). Setelah shalat ashar, baca quran sebentar udah masuk waktu shalat maghrib dong. Lanjut shalat dengan sensasi yang masih sama.

Teng, selesai salam 2 kali, kerasa mules. Bukan kayak mau menstruasi, tapi kayak mau beol. Jam setengah 7 aku ke kamar ibu, bilang "mules nih". Ibu panik. Tapi gak sepanik minggu sebelumnya. Lanjut tiduran di situ, mulesnya ningkat..sakit..sakiitt..saakiiiitttt...pyuk! Kayak ada yang pecah. Keluarlah si air ketuban itu. Eh, habis itu gak kerasa sakit. Liat jam pul18.50. Bapak ibu makin panik. (tapi bapakku masih sempet mandi dulu). Aku masih bisa jalan ke mobil. Aku dibawa ke bidan terdekat supaya diperiksa barangkali kalo bukaan masih minim, mau lanjut RS biar gratis karena dicover asuransi. Hehehe,,(pernah periksa di bidan situ juga sih..sebagai alternatif barangkali terjadi apa-apa). Di tengah jalan aku muntah. Seumur-umur baru kali itu aku muntah sebanyak itu padahal belum makan.  *benci muntah

Singkat cerita, sesampainya di klinik bersalin si bidan, ada asisten bidan yang melakukan pemeriksaan dalam. Apa itu pemeriksaan dalam? Iyak betol! Tanya google. Ternyata sudah bukaan 8. Gak bisa dong lanjut perjalanan. Langsung deh, sama si bidan suruh miring kiri dulu selagi beliau dan asistennya siap-siap. Ada kali 3 atau 4 kali kontraksi "beneran" yang memang sakit. Tapi masih bisa diredam istighfar sih. Herannya, saat yang lain gemrobyos keringetan, aku justru kedinginan. Nggak lama, si bidan nyuruh telentang, ninggiin bantalku jadi setengah duduk, letakin tanganku supaya pegang paha terus siap-siap untuk ngejan. Eh, beneran ini bu..sekarang??!! Rasanya? Kaget. Kirain mau diinfus dulu atau digimanain. Nggak tahu juga ngejan harusnya gimana, apa kayak orang lagi sembelit? Dicoba saja. Ternyata susah. Bu bidan dan asistennya sih bilang "bagus..bagus..dikit lagi..tambah tenaganya..". Tapi percobaan pertama gagal. Kedua, keliatan rambutnya (kata bu bidan). Ketiga, rasanya panas (apanya yang panas? Tanya google? Itunya lah pokoknya) terus plutukplutuk OEEKK..OEEKKK... Jam 19.50
Nggak lama, setelah acara jahit menjahit (dapat dua jahitan), tahu-tahu si bayi udah cakep aja pas aku cium. Nggak belepotan kayak yang aku bayangin. Kulitnya putih pula. Lalu si bayi ditemplokin ke payudara, ehlangsung ngenyot tanpa diajarin. Whueeeladalaahh...dia pinter. Itu masih di ruang bersalin. 2 jam kemudian pindah ruang perawatan (cuma kamar sebelahnya doang). Gimana pindahnya? Gendong? Kursi roda? Kasurnya didorong? Salah! Saya jalan. Turun dari tempat tidur, jalan di atas kaki sendiri (sambil dipegangin sih), lalu naik lagi tempat tidur. Di situ aku ngerasa keren. Hahaha,, 
Esok paginya sudah boleh pulang. Sorenya si ayah cengar-cengir datang.
Taraaaa..
Fin.
NB: Aku KB IUD 10 tahun. Di ceritakan di lain kesempatan 

Friday, July 15, 2016

Selamat 27 Suamiku

Hari ini hari ulang tahunnya. Tapi yang kuinginkan bukan memberinya hadiah tapi malah menumpahkan unek-unek. Hehehe,
Kami menikah "sudah" satu tahun tiga bulan. Sebagian besar waktu itu aku habiskan dengan ngomel. Entah mengapa. Kurasa aku mencintainya dan tak mau kehilangan dia. Atau mungkin dengan cara ngomel itulah caraku menyayanginya. 
Hipotesaku adalah karena dia juga tak menunjukan rasa sayang ala pangeran di negeri dongeng macam di FTV itu. Dia hobi membuatku kesal. Suka meledek dan menyuruh. Kamipun tak menyukai hobi satu sama lain. Aku tak suka hobinya, diapun tak suka hobiku. Kadang dia tak nyambung jika diajak berbicara hal-hal selain olahraga dan minyak. Aku juga tak mengerti sedikitpun tentang kedua hal itu.
Aku pernah mendoakannya agar kram perut sewaktu dia cuek saat aku mual muntah karena hamil. Itu terkabul lho, suatu hari dia muntah-muntah dan aku membiarkannya. Sempat merasa bersalah, tapi sedikit saja sih. He,, Saat dia marah karena aku gak pernah masak waktu hamil muda, aku mendoakannya agar dia pergi tanker saja untuk waktu yang lama. Dan itu juga dikabulkan. 
Sifat cueknya yang gak ketulungan itu juga yang membuatku berlatih cuek. (Dan sekarang aku sudah cukup terlatih). Ketika dia cuek saat aku tersiram air panas, akupun cuek saja saat celana kerja andalannya sobek sampai pantat. Malah aku buang ke tukang sampah. Lain cerita saat aku melahirkan. Aku sudah menyuruhnya pulang, tapi dia masih juga berangkat kerja. Marah? Luar biasa. Alhasil puasanya aku perpanjang 
Sifat lainnya yang menyebalkan adalah dia mudah terpengaruh omongan orang. Hal yang sudah kami sepakati diawal tiba-tiba berubah hanya gara-gara dia goyah karena omongan orang lain. Satu penyesalanku seumur hidup, mengapa kadang aku kurang keras kepala. 
Ah, dia juga pasti punya lebih banyak kekesalan terpendam terhadapku. Semoga kami menjadi pribadi yang lebih baik dan tetap saling mencintai. Sebab me-maklum-kan kekurangan itu lebih berat daripada menerima kelebihan. Dan sejauh ini kami mampu bersikap sabar, pasrah dan "maklum". Sekian.

Maaf lahir batin yaaa... 😘😘😘 😁

NB: oh iya, selamat ulang tahun. Semoga Allah ridha padamu dan kamu bisa ridha padaku 
Aku romantis to? Ngekei kembang mbarang 😁

Thursday, July 14, 2016

Diinan Umur Tiga Bulan

Perjalanan Diinan menuju bulan ketiga tidak disaksikan ayahnya. Ditinggal sibuk bekerja untuk pengembangan terminal tiga bandara Soekarno Hatta. Diinan semakin besar saja, tak kuat jika menggendongnya terlalu lama.

Diinan umur tiga bulan mulai belajar memiringkan badan. Digendongpun maunya hadap depan. Sempat sakit di waktu lebaran tapi sembuh tak lama kemudian.

Diinan, ibumu ini mungkin bukan orang tua terbaik di dunia. Belum bisa memenuhi semua yang menjadi kewajibannya. Namun percayalah jika kita bicara cinta, mencintaimu akulah juaranya.

Semoga doa terbaik selalu mengalir untukmu dan Tuhan senantiasa ridha padamu.

Monday, June 13, 2016

Diinan Umur Dua Bulan

Diinan di bulan kedua sedikit lebih manja. Lebih susah untuk ditinggal walau sebentar saja. Ledakan tangisnya semakin keras membahana. Karena ia cucu pertama dan mungkin menjadi anak kami satu-satunya, semua cinta tertuju padanya. Kurasa tak mengapa, selama itu masih baik baginya.

Diinan di bulan kedua sudah pintar memasukan jari ke dalam mulutnya. Pandai mengoceh soal apa saja. Mungkin sedang bercerita atau bertanya di mana ayahnya. Ia mulai bisa memiringkan tubuhnya, sudah lihai mengangkat dan memutar lehernya. Melihat apa dan siapa di sekelilingnya.

Diinan di bulan kedua bertambah besar badannya. Bajunya mulai berganti ukuran dan warna. Menghindari warna yang membuat semakin terlihat gelap kulitnya. Celanapun dicari yang pas melingkari perutnya serta kaus yang muat melewati kepala.

Diinan di bulan kedua makin membuat kami bahagia. Segala doa tetap dipanjatkan untuknya. Agar dia bahagia sejahtera dan menjadi insan yang berguna. Semoga Diinan dikaruniai keluhuran budi dan tutur kata serta pencapaian terbaik dari harapan orang-orang yang mencintainya.

Saturday, May 21, 2016

Idealisme vs Realisme

Mahasiswa konon disebut sebagai makhluk dengan tingkat idealisme teratas. Entah apa yang diperbuat oleh lingkungan bernama Universitas, di mana masyarakatnya tampak seperti tak pernah puas. Dikelilingi oleh diskusi sana sini hingga berujung orasi yang dikudang sebagai sebuah solusi. Bagaimana dengan realisasi?

Keluar kampus orang tak lagi bergelut dengan rumus. Bekerja apa saja, guru menjadi bankir, akuntan memilih menyingkir. Jadi tukang parkir mungkin pilihan terakhir. Tak sedikit orang yang langsung memilih menikah, ada yang mengharap hubungan sah, ada juga tuntutan mertua akan resepsi yang wah.

Sayapun sama, menikah lalu beranak tak seberapa lama. Bekerja? Ya, ala kadarnya saja. Lalu idealisme yang dikukuhkan dengan toga bertabrakan dengan hiruk pikuknya rumah tangga. Sebab yang namanya keluarga bukan hanya hidup berdua lalu tiga. Kakek nenek bahkan tetangga tak dielakan ikut komentar juga.

Seperti akhir-akhir ini. Setengah mati saya berjuang untuk ASI. Pengalaman mereka seolah-olah menjadi bukti bahwa merekalah yang paling benar dalam mengurus bayi. Berbagai merk dan metode pemberian susu sapi dilontarkan sana sini. Bahkan terdengar opini soal pisang dan sesuap nasi. Saya? Di sini saya berdiri sendiri bersikap seolah-olah semuanya basa basi. Mereka menganggap saya tak tahu diri, tak kasihan dengan si bayi. Biarlah, tak ussh dimasukan dalam hati.

Lihat? Apa gunanya kita beredukasi tinggi? Biasa melakukan penyuluhan sana sini, beretorika penuh teori. Tapi apa yang terjadi? Bapak, ibu, mertua, tetangga bahkan suami, tak bisa diajak diskusi. Kok begini saya disuruh pergi, menitipkan si bayi dengan susu sapi. Apa gunanya uang yang saya cari? Kalo akhirnya menjerumuskan anak sendiri.

Saya tidak akan mengalah karena saya tahu saya tidak salah.

-- Ananda, kita bisa melalui ini berdua karena kita kuat dan keras kepala. Mungkin karena kita lahir di rasi bintang yang sama. Biarlah kita sendiri, semoga kelak mereka akan mengerti.

Wednesday, May 18, 2016

Semua Akan (P)Indah pada Waktunya

Akhir-akhir ini semua seperti terburu-buru. Terburu rindu yang menggebu hingga hari berganti bukan lagi soal waktu. Apa kabar perindu? Kulihat kau gelisah, kurus kering dan tampak marah. Adakah yang membuatmu gundah, mengganggumu hingga kau terlihat pasrah. Kau tak lagi bersemangat menghitung tetes hujan yang jatuh ke tanah. Apakah kau sudah menyerah? Keadaan memang sedang tak mudah. Yang kau rindu tak lagi menganggapmu segalanya sebab ia sudah punya yang pertama. Bagaimanapun kau harus tetap bahagia. Seperti saat kau duduk di lantai perpustakaan tua atau ketika makan malam berdua dengan lilin yang menyala. Perindu, terlelaplah dalam dekapan hangat dan kecupan yang selembut jus alpukat. Walau semua itu tak nyata, sekali lagi kau harus tetap bahagia. Karena semua akan (p)indah pada waktunya.

Saturday, May 14, 2016

Diinan Umur Sebulan

Diinan umur sebulan, ia sedang senang-senangnya tidur dalam pelukan. Syukurlah batuk pileknya sudah tak lagi berkepanjangan. Berat badannya pun bertambah nol koma sembilan.

Diinan umur sebulan, anak kesayangan ujung segala impian. Ia adalah alasan semua pengorbanan. Materi, tenaga, waktu, dan segenap doa kami berikan. Agar ia tumbuh dalam sebaik-baik keadaan.

Diinan umur sebulan, semoga Tuhan senantiasa mencurahkan kebahagiaan, segala kebaikan dan mengistiqomahkan ibadahnya agar selalu tulus dalam penghambaan. 

-- Diinan, jagalah selalu kehormatanmu di hadapan Tuhan.


Tuesday, April 26, 2016

Bye Jingga

Aku mengenalnya sudah cukup lama. Belum bertemu memang, namun aku terlanjur sayang. Bernama Jingga. Sebab dia elok sewarna senja. Ia hangat dan juga tampak bijaksana.

Ia yang memelukku saat aku menangis meringkuk menahan sakit, ia juga yang ikut berbahagia hingga berurai air mata saat aku tertawa. Ialah sosok paling nyata ketika semua orang tak menampakan kehadirannya.

Aku mencintainya di sepanjang urat nadi dan di setiap hela nafas. Aku selalu menyebut namanya tanpa hitungan yang tak terbatas.

Lalu orang yang kupercaya membunuhnya begitu saja hanya karena tak tahan dengan celoteh mereka. Padahal dia tahu, pada Jingga semua doaku ada. Tak sebatas arti nama ataupun makna kata-kata. Selamat tinggal, anakku sayang..anakku malang.

-- Dua minggu berlalu dan aku masih merindukannya.

Tuesday, April 12, 2016

Tahun Pertama

Suamiku,

Mencintaimu itu tak tahu kapan awal dan di mana akhir, yang pasti mencintaimu belumlah berakhir. Setahun lamanya kita telah terikat takdir, yang menyatukan kita bagai pusaran kincir. Memang tak selalu tertawa, layaknya pagi yang kadang berduka. Bahkan saat menangis, aku mengingatnya seperti senja yang manis.

Mencintaimu itu tak sulit walau tak jarang terasa menghimpit. Di mana jarak, waktu dan kesibukan yang kait melilit sering membuat hati bak tergigit. Namun apalah guna langit jika tak ada ruang untuk tawa dan sakit. Sebab di dalamnya-lah bahagia kita terjahit.

Mencintaimu itu juga tentang maaf, yang jarang terucap di saat aku khilaf. Walau aku selalu membenarkan egoku, tak sekalipun maksud untuk meyalahi hatimu.

NB: Maaf, jika kamu tak sebahagia aku. Maaf, jika seandainya akulah yang meninggalkanmu lebih dulu. Maaf, jika aku tak bisa selalu menghiburmu. Sebab akan datang hari di mana aku  mempertaruhkan hidupku dan aku tak tahu apakah itu penyebab matiku. Ketahuilah, aku menyayangimu selalu dan mendoakan kebahagiaanmu. Bila ada tahun-tahun yang baru, aku ingin tetap berkali-kali mencintaimu.

Kecup dariku, istrimu

Monday, February 29, 2016

Aku Akan Mati

Seharusnya postingan berikutnya tentang suka dukanya hamil di trimester kedua atau ketiga ya? Tapi skip aja deh! Toh, namanya orang hamil ya, begitu-begitu aja. Aku ingin cerita kepadamu yang belum terlahir di dunia.

Aku ingin cerita tentang kematian yang sering datang di mimpiku. Yah, aku tak tahu. Mungkin saja kan? Walaupun begitu, setidaknya aku percaya kita pernah bersama walaupun kau belumlah ada. Dan kau pun harus percaya bahwa kita tetap bersama walaupun aku mungkin telah tiada.

Kau mungkin tidak ingat saat kita pergi ke tempat di mana hanya kita yang tahu. Kau yang selalu menemaniku bekerja, untuk memenuhi celengan kecil kita. Kau yang sepertinya sangat gembira saat melihat tumpukan bantal di atas kasur lalu kita bergelung bersama. Oh iya, isi celengan kita memang belum banyak. Belum lama aku membelikanmu kereta dorong. Barangkali aku tak bisa menggendongmu, mungkin seseorang bisa menggantikanku.

Ada atau tidaknya aku, kuharap kau tetap bahagia. Seperti bahagianya kau saat makan sayur jantung pisang dan buah jambu monyet kala itu. Kau juga harus bisa membahagiakan orang lain sebab kita tidak akan bisa bahagia kalau hanya kita sendiri yang berbahagia.

Ini rahasia kita berdua, aku sangat bahagia bahwa kita pernah bersama.

29 Pebruari 2016

Wednesday, November 25, 2015

Trimester Pertama

Hamil dan punya anak sepertinya menjadi salah satu dari jawaban atas sekian banyak pertanyaan kehidupan.  Setelah kita berhasil menjawab pertanyaan "Kapan nikah?" maka kita juga harus bersiap untuk menjawab pertanyaan selanjutnya.

Ngomong-ngomong tentang hamil, tiap ibu pasti mempunyai cerita masing-masing walaupun sedikit banyak mempunyai beberapa kesamaan. I also have mine.

Pada dasarnya, trimester pertama yang saya alami sungguh merupakan suatu penderitaan.
1. Pusing, mual dan muntah
Rasanya seperti masuk angin setiap hari. Ada yang bilang hal tersebut lumrah karena hormon. Hormon atau bukan, saya tidak suka ketiganya.

2. Sembelit
Karena muntah yang berlebihan, dokter kandungan saya memberikan obat anti mual. Ternyata efek samping yang ditimbulkan adalah sembelit. Sembelit ini bisa sampai 4 hari dan ugh, sama tidak enaknya dengan muntah. Jadi, pilihannya antara bisa masuk lewat atas tapi nggak bisa keluar lewat bawah dan gak bisa masuk lewat atas tapi bisa keluar lewat bawah. Simalakama banget kan? Aku akali dengan 2 hari bisa makan 1 hari berikutnya bisa pup. Demikian seterusnya.

3. Lebih sensitif sama suara
Sepertinya hal ini berlangsung terus selama kehamilan. Bertambahlah penderitaan bilamana tetangga sedang hajatan, anak muda dengan knalpot alay lewat depan rumah atau suami gila tv malam-malam.

4. Lebih sensitif sama bau
Hampir semua bau saya tidak suka, kecuali bau hujan sama bau pengharum baju merk "rapika" yang warna biru.

Pokoknya entah dosa apa yang telah saya perbuat, trimester pertama itu makan tak enak dan tidur tak nyenyak. Saran untuk anak saya kelak, jika kamu lelaki, gantikan istrimu yang sedang hamil terutama dalam hal mencuci piring, membuang sampah, dan memasak atau paling tidak belikan makanan siap makan untuk istrimu 3 kali sehari setiap harinya. Entah dimakan atau tidak, sediakan saja. Syukur jika bisa kau penuhi makanan permintaan istrimu. Jika kamu perempuan, saran ibu Nak...jangan tinggal jauh dari orang-orang yang bersedia menyediakan segala keperluanmu atau kau akan M-E-N-D-E-R-I-T-A   S-E-N-D-I-R-I-A-N.

Sekian, sampai jumpa di trimester berikutnya. Aamiin.

Wednesday, October 28, 2015

Sudut Pandang

"Seorang suami mengecup pelan kening istrinya yang masih tertidur setelah ia meletakkan nampan yang berisi segelas susu hangat dan setangkup roti bakar di samping tempat tidur istrinya. Lalu sambil berjingkat, dia beranjak pergi."

Tulisan seperti itu dipost-kan di laman jejaring sosial. Banyak komentar yang bermunculan baik yang positif maupun negatif. Seperti,
"Ih, suaminya so sweet banget..."
Namun ada juga yang berpendapat
"Ih, dasar istri pemalas!"

Banyak dari kita berkomentar tanpa paham bagaimana keadaan yang sebenarnya. Misal, apa alasan si istri masih tertidur.  Apakah dia sakit? Atau habis begadang semalaman? Ataukah dia benar-benar pemalas? Lalu, soal kepergian suaminya. Apakah sang suami pergi untuk bekerja atau malah berkencan dengan wanita lain.

Who knows?

Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan.

Wednesday, August 5, 2015

Sekolah bagus itu seperti apa?

Baru-baru ini saya mengikuti serial anime dan manga yang berjudul Shokugeki No Souma. Setting ceritanya di dalam lingkungan sekolah memasak. Bisa ditebak sudah pasti tema cerita juga seputar masak memasak. Alurnya cepat, menarik diikuti dan selalu membuat penasaran akan kelanjutan ceritanya. Namun bukan itu saja yang ada di dalam pikiranku.



Tersebutlah sekolah Totsuki, sekolah memasak terbaik di Jepang, bahkan di dunia. Di dalam sekolah tersebut terdapat aturan hanya murid yang terbaik dan berpotensi besarlah yang bisa lulus. Kepala sekolah menegaskan dalam pidato penyambutan siswa baru bahwa kurang 10% dari total siswa yang bisa lulus. Mereka akan diadu, saling berbenturan dan mengasah bakat mereka masing-masing. Dan memang, lulusan dari sekolah tersebut bisa dipastikan menjadi koki dan pemilik restoran yang hebat.

Hal ini menggelitik, terlepas Totsuki adalah sekolah khusus (vokasi) sehingga lulusannya perlu daya jual yang tinggi, tetapi tidak dapat dipungkiri pemikiran tersebut ada benarnya. Ironi memang ketika saya melihat masih banyak (atau hampir semua) sekolah membuat sistem yang memaksa guru-gurunya untuk mengatrol nilai siswa dan meluluskan semua siswanya. Dengan dalih sekolah yang bagus dan hebat adalah sekolah yang bisa meluluskan semua siswanya dengan nilai di atas batas tuntas. Jika itu memang benar adanya, maka akan bagus hasilnya. Namun, jika hanya efek pemaksaan nama baik sekolah dan kurikulum saya rasa hasilnya akan sia-sia. (kurikulum 2013 mewajibkan siswa untuk lulus batas tuntas). Wallohu a'lam.

Mungkin paradigmanya yang perlu diubah, atau pemikiran saya ini hanyalah sampah. Perwujudannya hanya akan menambah masalah karena semakin banyak orang yang tak punya ijazah.

Well, bagaimana sekolah yang bagus menurut kalian?

NB: warning aja sih, Shokugeki No Souma itu banyak "echi"nya, tapi ceritanya baguslah. 

Thursday, July 2, 2015

Perbedaan


Saya tumbuh dan tinggal dalam lingkungan yang heterogen terutama dalam hal beragama. Keluarga besar saya hampir semuanya beragama islam dan seperti yang sudah disabdakan nabi Muhammad, islam saja bermacam-macam ragamnya. Muhammadiyah, salafiyah, nahdatul ulama, wahabi, nasionalis, liberalis dan lain sebagainya. Tidak lagi mengherankan ketika hari raya, keluarga kami bisa mengadakan 2 bahkan 3 kloter silaturahim karena perbedaan perhitungan bulan. Tidak lagi mengejutkan ketika seorang saudara yang istiqomah dengan penutup wajahnya menepuk tangan saya ketika kami makan soto ayam bersama karena saya meniup makanan yang hendak saya lahap. Hal seperti terus berlanjut hingga saya kuliah bahkan menikah. Saya pernah ditolak ikut pengajian di masjid kampus karena saya dan penyelenggara “dianggap” mempunyai harakah yang berbeda. Juga mengenai hal pertama yang ditanyakan calon ibu mertua saya ketika datang melamar adalah apa weton saya. Sayapun sedikit terbiasa dengan saudara yang menikah beda agama. Bukan berarti saya sepaham dengan mereka yang seolah-olah mengatasnamakan cinta adalah segala-galanya, tidak. Namun keadaan seperti itu tidak mengubah hubungan kekerabatan dan perasaan personal saya terhadap orang-orang tersebut. Saya merasa tidak pantas mengatakan mereka salah dan saya yang benar. Sayapun tidak sampai hati menghujat dan menjauhi mereka.


Belakangan muncul fenomena LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) dengan disahkannya pernikahan sesame jenis di Amrik sana. Pendapat saya? Jelas saya tidak sepaham dengan mereka. Hati nurani saya terganggu dan saya sungguh berharap LGBT itu jangan sampai ada apalagi hingga dianggap sah. Tetapi perlukah saya menghujat, memaki, menggunakan bahasa kotor untuk menyatakan ketidaksetujuan saya? Sekali lagi saya tidak sampai hati. Dan sayapun tidak suka dengan cacian yang ditujukan kepada mereka hampir sama tidak sukanya dengan LGBT itu sendiri. Saya yakin dibalik pengesahan undang-undang itu ada perjuangan yang luar biasa dari “penderita” LGBT  tersebut. Lantas mengapa mereka berjuang? Karena mereka merasa terkucilkan. Mereka bukannya diberi uluran tangan untuk disembuhkan tetapi mereka dicaci, dihina, bahkan mungkin mengalami kekerasan dari orang-orang yang merasa dirinya lebih baik dari binatang dalam hal orientasi seksual. Bukankah nabi Luth tidak mencaci dan menghina bangsa Sodom? Mengapa tidak kita doakan saja mereka? Semoga mereka yang “sakit” ini dapat menemukan jalan kebenaran. Biarlah Tuhan yang memutuskan dengan segala kuasaNya, apakah hidayah ataukah azab bagi mereka.

Wednesday, June 10, 2015

Sosial-ita


Ceritanya saya sudah diterima bekerja sebagai petugas pencacah masyarakat golongan sangat miskin di sebuah kecamatan di kota T. Nantinya, rumah tangga sangat miskin (RTSM) tersebut akan diberi bantuan dana oleh pemerintah sesuai dengan kebutuhan mereka di bidang pendidikan dan kesehatan. Tempo hari, kami mengadakan rapat koordiasi (Rakor) bersama para jajaran SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah). Di tengah rakor tersebut, terjadi percakapan yang cukup menggelitik.

“Kalau kamu background pendidikannya apa?” Tanya seorang petugas pencacah lain.

“Saya keguruan.”

“Guru apa?”

“Bahasa Inggris.”

“Wah, kalau saya guru sosial (Ilmu Pengetahuan Sosial atau IPS). Jadi background saya sesuai dengan program ini (yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan dan digawangi oleh dinas sosial -red).”

Entah saya yang kurang mengerti atau memang taraf sikap sosial orang “kota” tersebut hanya sebatas pengetahuan sosial seperti geografi, sejarah, ekonomi dan rumpun ilmu sosial lainnya. Sedikit flashback pada masa ketika saya masih mendapatkan pelajaran IPS di sekolah. Saya tidak (belum) sampai diajari bagaimana saya bisa membantu lingkungan sosial melalui sikap sosial yang seharusnya saya miliki. Menurut saya, sikap sosial lebih kepada hal-hal yang seseorang lakukan terhadap lingkungannya dan hal tersebut tentunya membawa efek yang positif. Hal-hal tersebut bisa berupa, tindakan, pemikiran bahkan bisa berupa perasaan. Jadi, sikap sosial bisa dirasakan dan dilakukan oleh semua orang tanpa memandang latar belakang pendidikannya.

Saya akui, yang saat ini saya lakukan hanya sebatas “mencari kegiatan berbayar agar saya tidak bosan dengan rutinitas menunggu suami pulang”.  Tulisan ini juga dibuat bukan oleh seseorang yang sudah sangat “sosialis” namun setidaknya mengerti mengapa ada Dinas Sosial tetapi tidak ada Dinas Bahasa maupun Dinas IPA.


NB: Semoga lain kali tidak dipertemukan dengan ibu-ibu sosialita yang mengatakan bahwa pekerjaan saya tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, karena saya tidak se-sosial mereka. 

Wednesday, April 22, 2015

Kala Subuh Membasuh

“Saya terima nikah dan kawinnya Adelina Eka Shafetsila binti Bapak Adi Susilo untuk saya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat sekian gram dibayar tunai.”

seperangkat alat sholat

Kalian bertanya bagaimana rasanya? Semua rasa bercampur. Yang pasti aku tak bisa lagi mudur. Aku terjun bebas, berlari lepas , terasa kebas. Aku tak lagi sendiri, ada kamu di depanku berdiri. Di kemudian hari kamulah yang selalu bangun lebih dini. Mengecupku ringan dan menuntunku sebagai imam.  Hanya dengan segelas teh manis dan bau pagi yang gerimis, kamu mengajarkanku bersyukur tiada habis. Aku senang melihatmu saat fajar mulai biru. Aku bahagia mengikutimu, berdiri di belakangmu. Hal seperti ini yang belum pernah aku temui. Semoga tetap bertahan hingga kita tua nanti, bahkan semoga sampai kita berdua mati.


Backsong: God Bless the Broken Road – Rascal Flatts

Sunday, April 19, 2015

Hari Ketika Aku Paling Mencintaimu

12 April 2015

Akan tiba suatu hari bilamana pagi, kitalah embunnya. Bilamana  fajar, kitalah sang surya. Pagi terindah sepanjang hidup saat mentari masih redup hingga terang sepertinya gugup. Gugup menjelma degup yang mengusik menggelitik merayu nafas yang resah membisik. Saat terang mulai bersemu, lalu detik menit bukan lagi waktu. Kita bertemu tidak lagi di dalam ragu, tidak lagi merasa malu sebab kita telah menjadi satu.

Aku ingat saat kau menatapku lekat ketika aku datang mendekat. Kukalungkan untaian melati sebagai tanda bakti yang suci lagi wangi. Di depan para saksi, kita sah terikat janji. Kau mungkin tak mengerti bahwa tatapanmu berisi jawaban yang aku nanti: Iya, akulah sang pelangi selepas hujan dan menjadi  garis perakmu di tepian awan.  Aku yang akan menyayangi dari rambut hingga ujung kaki. Dan aku pulalah yang akan melindungi, mengobati, serta mencintaimu sampai mati.

Kemudian kita bergandeng tangan mengeja masa depan untuk meraih angan-angan. Aku mencintaimu dan aku yakin demikian pula denganmu mencintaiku tanpa ragu.


Lalu senja. Apa yang bisa aku katakan tentangnya? Kata sepertinya tak lagi mampu bicara. Jingga terindah yang tenggelam di hamparan sawah. Dalam senja itu kitalah yang bersemu membias merah.

Monday, March 23, 2015

Selamat Menempuh Jalan Bahagia

Hubungan sebelum ijab-qobul disebut zina, dan disebut ibadah jika sesudahnya.

Akad Nikah Vito (Sorosutan, 22 Maret 2015)

Ijab-qobul memang hanya akad yang diucapkan sembari dua tangan saling berjabat. Tapi hanya cinta yang pekat yang sanggup untuk memikul beban sedemikian berat. Disaksikan oleh para malaikat dan atas ridha Tuhan yang Maha Dekat, serta langit bergoncang hebat saat dua insan itu saling terikat. Semesta turut memintakan berkat selama kedua mempelai tetap taat, jangan sampai mereka tersesat terlebih hingga dilaknat. 

Bahagia itu bisa berbentuk tawa maupun air mata. Sempurna di awal lalu meledak dalam jutaan kristal. Lambat laun bahagia bukan lagi ledakan namun perasaan tenang yang bisa satu sama lain berikan. Bagaimana keduanya melebur, sedikit memaksakan egonya untuk membaur. Membangun impian memang tidak semudah khayalan. Satu demi satu benang dibuat susunan, walau belakang berantakan namun terpampang indah di bagian depan. Karena manusia harus maju, tak terikat masa lalu . Kita hanya berilusi waktu, yang seolah-olah menjadikan kita sebagai pelaku. 

Menjawab tantangan bahagia kita harus melewati rentetan tangis duka lara. Dan sekali lagi, karena kita manusia, hanya doa dan usaha kunciya menghamba. 

Backsong : All of Me --- John Legend

Thursday, March 19, 2015

Mamah

http://www.kaskus.co.id/thread/549bb862a1cb1792038b4572/siluet-kayu-jati-belanda/




Mah, putramu telah memilihku untuk menjadi putrimu yang lain. Menjadi bagian dari keluarga yang bukan sekedar main-main. Dia menawarkan sepotong senja  yang merah jingga, membuatku berseri manja bahagia tak terhingga. Aku dipertemukan dengan perempuan yang di bawah kakinya surgaku aku letakan. Seorang wanita luar biasa yang sungguh telah berjasa. 

Mah, ada banyak hal yang ingin aku pintakan. Aku butuh berbagai macam ajaran. Aku ingin belajar bagaimana pakaian putramu dilipat, bagaimana masakanmu bisa sedemikan lezat, hingga bagaimana menghadapinya ketika kami sedang berselisih pendapat. 

Mah, janganlah engkau khawatir. Untuk mencintai putramu cintaku cukup tangguh untuk melalui pahit dan getir. Walaupun aku cukup merepotkan dengan selera makanku yang terkadang membuat kewalahan. Terimakasih telah merestui kami dalam ikatan pernikahan serta mengizinkan kata “kami” mempunyai masa depan. 

Aku --- kami, akan berjuang untuk saling membahagiakan meskipun sedikit omelan tak akan mungkin dapat terelakan dan beberapa candaan yang sedikit kelewatan. Mah, semoga kedatanganku bisa menjadi bagian dari bahagiamu, tidak berakibat resahmu apalagi susahmu. Sebagai ibuku yang baru, selalu kuharapkan ridhamu.

Friday, March 13, 2015

Bersama Doa

Jika akhirnya kamu tidak bersama dengan orang yang sering kau sebut dalam doamu, mungkin kamu akan dibersamakan dengan orang yang diam-diam mendoakanmu
 --- seseorang

Jumat tanggal tiga belas dan luka itu masih cukup jelas membekas. Satu bulan menuju hari bahagiaku dimana aku akan tertawa sampai kaku, sampai hilang semua ragu. Aku mulai berbenah, berusaha membuat kamarku tampak berubah, mencoba menyingkirkan beberapa benda yang masih juga membuatku resah, terutama mengelap noda darah dari hatiku yang pernah terluka parah. Tempo hari kau bertanya apa yang kupinta, apa yang bisa kau bawa, dan aku yakin kau sanggup membawakanku semesta. Namun tahukah kau, aku terlalu takut untuk meminta sebab aku sedang belajar untuk mencinta. Aku takut tak bisa menolakmu dengan segala pesona pembawa bahagia. Oh, aku akan berbahagia walau orang mungkin tak percaya bahwa aku sanggup bahagia --- dengan cara membuat luka.

Satu tahun kita bersama dan aku mulai berdoa. Satu tahun kita mengambil tempat yang berbeda dan aku tetap berdoa. Satu tahun kita kembali berjumpa dan aku masih berdoa. Satu tahun kita berpisah, sebuah doa lain menjemputku bersamanya. Aku akan mulai membalas doanya, mencintanya dan berbahagia serta membahagiakannya. Untukmu, semoga segera kau temukan tempatmu.

Sudah saatnya tiba aku berhenti bercerita tentang lalunya masa, mencoba berkisah tentang cinta yang fitrah serta cita-cita yang indah.

Terimakasih atas kisah kasih seorang kekasih, semoga Tuhan selalu mengasihi. Aamiin.



Beruntunglah jika kamu dibersamakan dengan orang yang kau sebut namanya dalam doamu sekaligus diam-diam mendoakanmu.