Taraaaa..
Fin.
Perjalanan Diinan menuju bulan ketiga tidak disaksikan ayahnya. Ditinggal sibuk bekerja untuk pengembangan terminal tiga bandara Soekarno Hatta. Diinan semakin besar saja, tak kuat jika menggendongnya terlalu lama.
Diinan umur tiga bulan mulai belajar memiringkan badan. Digendongpun maunya hadap depan. Sempat sakit di waktu lebaran tapi sembuh tak lama kemudian.
Diinan, ibumu ini mungkin bukan orang tua terbaik di dunia. Belum bisa memenuhi semua yang menjadi kewajibannya. Namun percayalah jika kita bicara cinta, mencintaimu akulah juaranya.
Semoga doa terbaik selalu mengalir untukmu dan Tuhan senantiasa ridha padamu.
Diinan di bulan kedua sedikit lebih manja. Lebih susah untuk ditinggal walau sebentar saja. Ledakan tangisnya semakin keras membahana. Karena ia cucu pertama dan mungkin menjadi anak kami satu-satunya, semua cinta tertuju padanya. Kurasa tak mengapa, selama itu masih baik baginya.
Diinan di bulan kedua sudah pintar memasukan jari ke dalam mulutnya. Pandai mengoceh soal apa saja. Mungkin sedang bercerita atau bertanya di mana ayahnya. Ia mulai bisa memiringkan tubuhnya, sudah lihai mengangkat dan memutar lehernya. Melihat apa dan siapa di sekelilingnya.
Diinan di bulan kedua bertambah besar badannya. Bajunya mulai berganti ukuran dan warna. Menghindari warna yang membuat semakin terlihat gelap kulitnya. Celanapun dicari yang pas melingkari perutnya serta kaus yang muat melewati kepala.
Diinan di bulan kedua makin membuat kami bahagia. Segala doa tetap dipanjatkan untuknya. Agar dia bahagia sejahtera dan menjadi insan yang berguna. Semoga Diinan dikaruniai keluhuran budi dan tutur kata serta pencapaian terbaik dari harapan orang-orang yang mencintainya.
Mahasiswa konon disebut sebagai makhluk dengan tingkat idealisme teratas. Entah apa yang diperbuat oleh lingkungan bernama Universitas, di mana masyarakatnya tampak seperti tak pernah puas. Dikelilingi oleh diskusi sana sini hingga berujung orasi yang dikudang sebagai sebuah solusi. Bagaimana dengan realisasi?
Keluar kampus orang tak lagi bergelut dengan rumus. Bekerja apa saja, guru menjadi bankir, akuntan memilih menyingkir. Jadi tukang parkir mungkin pilihan terakhir. Tak sedikit orang yang langsung memilih menikah, ada yang mengharap hubungan sah, ada juga tuntutan mertua akan resepsi yang wah.
Sayapun sama, menikah lalu beranak tak seberapa lama. Bekerja? Ya, ala kadarnya saja. Lalu idealisme yang dikukuhkan dengan toga bertabrakan dengan hiruk pikuknya rumah tangga. Sebab yang namanya keluarga bukan hanya hidup berdua lalu tiga. Kakek nenek bahkan tetangga tak dielakan ikut komentar juga.
Seperti akhir-akhir ini. Setengah mati saya berjuang untuk ASI. Pengalaman mereka seolah-olah menjadi bukti bahwa merekalah yang paling benar dalam mengurus bayi. Berbagai merk dan metode pemberian susu sapi dilontarkan sana sini. Bahkan terdengar opini soal pisang dan sesuap nasi. Saya? Di sini saya berdiri sendiri bersikap seolah-olah semuanya basa basi. Mereka menganggap saya tak tahu diri, tak kasihan dengan si bayi. Biarlah, tak ussh dimasukan dalam hati.
Lihat? Apa gunanya kita beredukasi tinggi? Biasa melakukan penyuluhan sana sini, beretorika penuh teori. Tapi apa yang terjadi? Bapak, ibu, mertua, tetangga bahkan suami, tak bisa diajak diskusi. Kok begini saya disuruh pergi, menitipkan si bayi dengan susu sapi. Apa gunanya uang yang saya cari? Kalo akhirnya menjerumuskan anak sendiri.
Saya tidak akan mengalah karena saya tahu saya tidak salah.
-- Ananda, kita bisa melalui ini berdua karena kita kuat dan keras kepala. Mungkin karena kita lahir di rasi bintang yang sama. Biarlah kita sendiri, semoga kelak mereka akan mengerti.
Akhir-akhir ini semua seperti terburu-buru. Terburu rindu yang menggebu hingga hari berganti bukan lagi soal waktu. Apa kabar perindu? Kulihat kau gelisah, kurus kering dan tampak marah. Adakah yang membuatmu gundah, mengganggumu hingga kau terlihat pasrah. Kau tak lagi bersemangat menghitung tetes hujan yang jatuh ke tanah. Apakah kau sudah menyerah? Keadaan memang sedang tak mudah. Yang kau rindu tak lagi menganggapmu segalanya sebab ia sudah punya yang pertama. Bagaimanapun kau harus tetap bahagia. Seperti saat kau duduk di lantai perpustakaan tua atau ketika makan malam berdua dengan lilin yang menyala. Perindu, terlelaplah dalam dekapan hangat dan kecupan yang selembut jus alpukat. Walau semua itu tak nyata, sekali lagi kau harus tetap bahagia. Karena semua akan (p)indah pada waktunya.
Diinan umur sebulan, ia sedang senang-senangnya tidur dalam pelukan. Syukurlah batuk pileknya sudah tak lagi berkepanjangan. Berat badannya pun bertambah nol koma sembilan.
Diinan umur sebulan, anak kesayangan ujung segala impian. Ia adalah alasan semua pengorbanan. Materi, tenaga, waktu, dan segenap doa kami berikan. Agar ia tumbuh dalam sebaik-baik keadaan.
Diinan umur sebulan, semoga Tuhan senantiasa mencurahkan kebahagiaan, segala kebaikan dan mengistiqomahkan ibadahnya agar selalu tulus dalam penghambaan.
-- Diinan, jagalah selalu kehormatanmu di hadapan Tuhan.
Aku mengenalnya sudah cukup lama. Belum bertemu memang, namun aku terlanjur sayang. Bernama Jingga. Sebab dia elok sewarna senja. Ia hangat dan juga tampak bijaksana.
Ia yang memelukku saat aku menangis meringkuk menahan sakit, ia juga yang ikut berbahagia hingga berurai air mata saat aku tertawa. Ialah sosok paling nyata ketika semua orang tak menampakan kehadirannya.
Aku mencintainya di sepanjang urat nadi dan di setiap hela nafas. Aku selalu menyebut namanya tanpa hitungan yang tak terbatas.
Lalu orang yang kupercaya membunuhnya begitu saja hanya karena tak tahan dengan celoteh mereka. Padahal dia tahu, pada Jingga semua doaku ada. Tak sebatas arti nama ataupun makna kata-kata. Selamat tinggal, anakku sayang..anakku malang.
-- Dua minggu berlalu dan aku masih merindukannya.
Suamiku,
Mencintaimu itu tak tahu kapan awal dan di mana akhir, yang pasti mencintaimu belumlah berakhir. Setahun lamanya kita telah terikat takdir, yang menyatukan kita bagai pusaran kincir. Memang tak selalu tertawa, layaknya pagi yang kadang berduka. Bahkan saat menangis, aku mengingatnya seperti senja yang manis.
Mencintaimu itu tak sulit walau tak jarang terasa menghimpit. Di mana jarak, waktu dan kesibukan yang kait melilit sering membuat hati bak tergigit. Namun apalah guna langit jika tak ada ruang untuk tawa dan sakit. Sebab di dalamnya-lah bahagia kita terjahit.
Mencintaimu itu juga tentang maaf, yang jarang terucap di saat aku khilaf. Walau aku selalu membenarkan egoku, tak sekalipun maksud untuk meyalahi hatimu.
NB: Maaf, jika kamu tak sebahagia aku. Maaf, jika seandainya akulah yang meninggalkanmu lebih dulu. Maaf, jika aku tak bisa selalu menghiburmu. Sebab akan datang hari di mana aku mempertaruhkan hidupku dan aku tak tahu apakah itu penyebab matiku. Ketahuilah, aku menyayangimu selalu dan mendoakan kebahagiaanmu. Bila ada tahun-tahun yang baru, aku ingin tetap berkali-kali mencintaimu.
Kecup dariku, istrimu
Seharusnya postingan berikutnya tentang suka dukanya hamil di trimester kedua atau ketiga ya? Tapi skip aja deh! Toh, namanya orang hamil ya, begitu-begitu aja. Aku ingin cerita kepadamu yang belum terlahir di dunia.
Aku ingin cerita tentang kematian yang sering datang di mimpiku. Yah, aku tak tahu. Mungkin saja kan? Walaupun begitu, setidaknya aku percaya kita pernah bersama walaupun kau belumlah ada. Dan kau pun harus percaya bahwa kita tetap bersama walaupun aku mungkin telah tiada.
Kau mungkin tidak ingat saat kita pergi ke tempat di mana hanya kita yang tahu. Kau yang selalu menemaniku bekerja, untuk memenuhi celengan kecil kita. Kau yang sepertinya sangat gembira saat melihat tumpukan bantal di atas kasur lalu kita bergelung bersama. Oh iya, isi celengan kita memang belum banyak. Belum lama aku membelikanmu kereta dorong. Barangkali aku tak bisa menggendongmu, mungkin seseorang bisa menggantikanku.
Ada atau tidaknya aku, kuharap kau tetap bahagia. Seperti bahagianya kau saat makan sayur jantung pisang dan buah jambu monyet kala itu. Kau juga harus bisa membahagiakan orang lain sebab kita tidak akan bisa bahagia kalau hanya kita sendiri yang berbahagia.
Ini rahasia kita berdua, aku sangat bahagia bahwa kita pernah bersama.
29 Pebruari 2016
Hamil dan punya anak sepertinya menjadi salah satu dari jawaban atas sekian banyak pertanyaan kehidupan. Setelah kita berhasil menjawab pertanyaan "Kapan nikah?" maka kita juga harus bersiap untuk menjawab pertanyaan selanjutnya.
Ngomong-ngomong tentang hamil, tiap ibu pasti mempunyai cerita masing-masing walaupun sedikit banyak mempunyai beberapa kesamaan. I also have mine.
Pada dasarnya, trimester pertama yang saya alami sungguh merupakan suatu penderitaan.
1. Pusing, mual dan muntah
Rasanya seperti masuk angin setiap hari. Ada yang bilang hal tersebut lumrah karena hormon. Hormon atau bukan, saya tidak suka ketiganya.
2. Sembelit
Karena muntah yang berlebihan, dokter kandungan saya memberikan obat anti mual. Ternyata efek samping yang ditimbulkan adalah sembelit. Sembelit ini bisa sampai 4 hari dan ugh, sama tidak enaknya dengan muntah. Jadi, pilihannya antara bisa masuk lewat atas tapi nggak bisa keluar lewat bawah dan gak bisa masuk lewat atas tapi bisa keluar lewat bawah. Simalakama banget kan? Aku akali dengan 2 hari bisa makan 1 hari berikutnya bisa pup. Demikian seterusnya.
3. Lebih sensitif sama suara
Sepertinya hal ini berlangsung terus selama kehamilan. Bertambahlah penderitaan bilamana tetangga sedang hajatan, anak muda dengan knalpot alay lewat depan rumah atau suami gila tv malam-malam.
4. Lebih sensitif sama bau
Hampir semua bau saya tidak suka, kecuali bau hujan sama bau pengharum baju merk "rapika" yang warna biru.
Pokoknya entah dosa apa yang telah saya perbuat, trimester pertama itu makan tak enak dan tidur tak nyenyak. Saran untuk anak saya kelak, jika kamu lelaki, gantikan istrimu yang sedang hamil terutama dalam hal mencuci piring, membuang sampah, dan memasak atau paling tidak belikan makanan siap makan untuk istrimu 3 kali sehari setiap harinya. Entah dimakan atau tidak, sediakan saja. Syukur jika bisa kau penuhi makanan permintaan istrimu. Jika kamu perempuan, saran ibu Nak...jangan tinggal jauh dari orang-orang yang bersedia menyediakan segala keperluanmu atau kau akan M-E-N-D-E-R-I-T-A S-E-N-D-I-R-I-A-N.
Sekian, sampai jumpa di trimester berikutnya. Aamiin.
"Seorang suami mengecup pelan kening istrinya yang masih tertidur setelah ia meletakkan nampan yang berisi segelas susu hangat dan setangkup roti bakar di samping tempat tidur istrinya. Lalu sambil berjingkat, dia beranjak pergi."
Tulisan seperti itu dipost-kan di laman jejaring sosial. Banyak komentar yang bermunculan baik yang positif maupun negatif. Seperti,
"Ih, suaminya so sweet banget..."
Namun ada juga yang berpendapat
"Ih, dasar istri pemalas!"
Banyak dari kita berkomentar tanpa paham bagaimana keadaan yang sebenarnya. Misal, apa alasan si istri masih tertidur. Apakah dia sakit? Atau habis begadang semalaman? Ataukah dia benar-benar pemalas? Lalu, soal kepergian suaminya. Apakah sang suami pergi untuk bekerja atau malah berkencan dengan wanita lain.
Who knows?
Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan.