Lagi-lagi aku salah. Salah karena gampang capek. Salah karena gampang baper. Salah karena kurang sabar. Salah karena kurang kuat. Salah karena kurang tabah. Salah karena kurang mandiri. Salah karena kurang bersyukur. Aku salah karena... aku salah. Seandainya....
Thursday, December 30, 2021
Tuesday, December 21, 2021
Berani Beraninya
Suami: Dulu pas nyanding anak, pulang kerja mah cuek main HP, gegoleran, alasannya capek pulang kerja. Sekarang nggak nyanding anak bilangnya, ya walaupun ibu capek kerja lebih perhatian lagi ke anak lah.
Bos: Pas banyak kerjaan semua dilempar anak buah. Giliran kerjaan kelar, semuanya diaku kerjaan dia.
Hidup: Pas lagi mulus, "Tuh kan makanya pikiran harus selalu positif biar semesta juga mendukung". Pas lagi ruwet, "Nggak ada yang namanya mental breakdown, kurang ibadah doang itu."
Monday, November 22, 2021
Beri Aku Alasan untuk Jatuh Cinta Padamu Lagi
Hampir 7 tahun menikah dan hampir 1 tahun LDR udah berasa "biasa aja" nih roman romansanya. B aja gitu. Padahal uang bulanan mah lancar (wkwkwk,,) dan video call tiap hari. Cumaa..cuma nih ya.. pas lagi asyik-asyik cerita doi sering tiba-tiba "udah ya, mau cari makan." Atau "udah ya, mau siap-siap kerja." Atau apalah-apalah gitu. Tapi sebenarnya kita gak pernah berantem. Adem ayem gersang aja gitu. Hahaha,, Aneh gak tuh? Emang suami pulang berapa minggu sekali? Sigh... tau deh..apalagi covid begini. Pulang juga palingan.. yahh..gitu deh..
Masalahnya, saya punya rekan kerja nih.. Lawan jenis. (Jangan nethink doloo). Kita tuh sering ngobrol. Ngobrol aja. Gabut kan sama kerjaan di depan laptop dan kita seringnya duduk sebelahan. Ya ngobrolnya paling ghibahin dunia dan segala multiverse nya doang. Cuma tuh dia "dengerin" omongan saya dan menanggapi dengan antusias yang sama. Kayak emak-emak bawel sih dia emang. Sampai di suatu titik saya merasa "Duh, lama-lama bisa gawat keknya ini." Sampai saya ngomong ke dia, "Eh, lo jangan terlalu care sama guwe dong.. Ntar guwe baper nih. Guwe udah merit gilak!" Dan dia cuma ketawa doang. Asyem..
Ya Alloh..berikanlah hamba iman yang kuat. Buatlah hamba untuk jatuh cinta terus ke suami hamba ya Alloh... Limpahkanlah hamba kesabaran dan kekuatan menghadapi long distance married ini. Berikanlah teman hamba yang satu itu jodoh biar dia baperin pacar atau istrinya aja. Jangan istri orang. Aamiin. 🤲🤲
Monday, March 1, 2021
Dewasa itu Melelahkan dan Menakutkan
Aku selalu bertanya-tanya tentang seberapa sering wanita dewasa menangis dalam hidupnya. Apakah seminggu sekali atau mungkin setiap tiga hari. Apa sebab dia menangis. Apa karena setrikaan yang selalu menumpuk? Atau sebab rumah yang selalu berantakan? Akhir-akhir ini aku berlagak seperti anak indie yang suka senja, berpura-pura isi cangkirku adalah kopi pahit dan lagu-lagu yang kudengarkan bertemakan akustik sendu. Mungkin itu memang menjadi starter pack orang kesepian. Aku yang berkhayal lewat novel roman picisan dan memanggil kenangan lewat deru hujan. Wohooo...semua itu tidak terdengar dewasa. Bukankah wanita dewasa itu memikirkan hal-hal bergaya seperti kemandirian, emansipasi, lalu ada prestige di balik dekorasi rumah, biaya sekolah anak yang mahal hingga barang-barang bermerk terkenal. Haa! Sepertinya aku wanita dewasa yang lain. Penuh dengan ketakutan-ketakutan, kekhawatiran tentang esok hari, penyesalan tentang masa lalu. Aku wanita dewasa yang menghembuskan nafas lega setelah maghrib dan sudah mulai khawatir selepas isya. Dan itu sama sekali tidak keren. Semoga suatu hari aku bisa menjadi wanita dewasa yang bergaya :)
Wednesday, October 11, 2017
Diinan Umur Satu Setengah Tahun
Iyeeiiy..kita udah pindah Tangerang.. Alkhamdulillah.. banyak yang perlu disyukuri.
Diinan masih belum bisa ngomong jelas 😅. Tapi udah bisa bilang "tah" antara truk sama minta minum teh sama nadanya. Juju, kalo minta susu botol. Terus ada reta dari kereta. Ya, masih sebatas itu. Soal pola makan Diinan udah lumayan. Walaupun tidak bisa dibilang banyak juga, tapi setidaknya ada yang masuk dalam bentuk nasi. (harus nasi ya, Mak? 😂). Yang menggembirakan, Diinan sudah terbiasa makan sambil duduk. Saya kurang sreg nyuapin anak sambil jalan-jalan. Padahal karena gak mau repot aja sih. He,, Karena sekarang udah misah dari orangtua, jadi udah gak ada yang nyuruh nyuapin sambil ngegendong. (Eh, tapi masa ada anak depan kontrakan kalo makan harus sambil berendam di ember). Sumpah, itu aturan makan paling aneh yang pernah aku temui.
Akhir-akhir ini bergaul dengan beberapa orang (baru) ternyata membuka wawasan dan kemandirian juga keberanian tentunya. Saya baru sadar kalau saya sudah dianggap "dewasa". Sudah ibu-ibu. Yang diikutkan masalah RT, RW dan lain-lain 😅. Telat banget yak!
Bagaimanapun juga, semoga keluarga kita diberkahi Alloh ya, Nan.. aamiin.
Thursday, September 14, 2017
Diinan Umur Tujuh Belas Bulan
Sedang luar biasa melelahkan rasanya mengejar-ngejar Diinan lari-lari. Verbalnya yang belum begitu berkembang juga menambah emosi. Aku terkadang gak ngerti maksud dia minta apa. Jadinya Diinan teriak-teriak dan aku banyakin tarik nafas dalam-dalam.
Kami juga belum pindahan. Masih di Maos aja, padahal rencana bulan lalu mau update Diinan umur 16 bulan udah di tempat baru 😞
Sekarang Diinan sudah bisa ditinggal tanpa ibunya beberapa jam. Tapi kadang tiba-tiba mewek terus manyun kalo keinget ibunya lagi pergi. 😂
Sehat-sehat ya, Nak... Maem nasi dong.. udah seminggu nih, nasi jarang masuk. Nelen nasi kan enak..seenggaknya biar ibu gak stress nelen omongan orang. 😅😅 Sayang Diinan selalu 😘😘😘
Thursday, July 13, 2017
Diinan Umur Lima Belas Bulan
Akhir-akhir ini sepertinya saya jadi lebih sensitif. Banyak hal yang saya pikirin. Termasuk perkataan orang-orang. Atau mungkin karena akhir-akhir ini banyak orang yang menyinggung prinsip saya. Seperti pola asuh anak, yah..cuma perkara cara makan sih. Menurutku, makan minum itu ya sambil duduk. Apa salahnya melatih anak untuk duduk ketika makan dan minum? Atau cuma perkara ucapan. Kenapa harus berbohong di sana tikus cuma karena nggak ngebolehin anak mainan sepeda? Atau perkara kemandirian. Kenapa harus selalu nuntun anak yang sudah bisa jalan? Selama tidak berpotensi cedera parah, kenapa gak dibiarkan saja? Oke, saya bisa lalai. Tapi bukan berarti over protektif.
Lagi soal keuangan. Saya bukan orang yang suka menghambur-hamburkan uang. Saya bukan orang yang punya selera fashion mahal. Tapi memang tidak terlalu "ngeman" sama uang. Ada penjual sayur datang ke rumah. Ibu-ibu ngerubung. "Alaah, wong barang elek kayak kiye koh regane semeno? Nang nggone kae be mung semene" (Alaah, barang jelek kayak gini kok harganya segitu? Di tempat si anu aja cuma segini). Nawar 1000 r-u-p-i-a-h. Saya oke aja dengan nawar. Tapi kenapa harus menghina "jelek"? Kalo situ tahu barang jelek, ngapain beli? Orang penjualnya udah dateng nyamperin. Kalo kita beli di tempat lain kan kita harus "lebih repot". Juga apa iya uang seribu lantas bikin kita jadi melarat? atau langsung bikin penjualnya jadi kaya? Lalu soal ngontrak rumah yang kata suami harganya puluhan juta di Tangerang. Dia bilang "eman-eman". Well, saya bilang "tidak". "Iyalah, orang aku yang kerja." katanya. Oke, saya bertekad untuk ganti suami, eh kerja maksudnya. Suatu saat. Karena bagi saya, uang puluhan juta itu untuk membayar kebersamaan keluarga, menikmati perkembangan anak dalam masa golden age, uang segitu itu gak ada apa-apanya. Tapi suami berpendapat lain. Yasudah.
Lalu suami cerita, "istrinya temenku juga orangnya kayak kamu. Gak mau kredit rumah. Gak mau riba." Ada yang salah dengan kata-kata itu? Tidak? Bagiku terdengar aneh. Iya, sepertinya saya yang kelewat sensitif. Coba bandingkan, "istrinya temenku juga orangnya kayak nabi Muhammad dan orang-orang yang gak mau dilaknat Alloh karena riba. Gak mau kredit rumah. Gak mau riba." Iya sih, kepanjangan. Tapi seolah-olah aku sok suci dan semuanya penuh dosa. 😂
Eh, ini malam jumat kliwon. Wetonnya Diinan. Kalo kata kakak ipar, waktunya Diinan dicekokin. Iya, iyaaa..syirik. Tauuk! Kalo kata penganut sunnah yang entu, waktunya hubungan suami istri. Iya..iyaa..gak ada sunnah begituan malem jumat. Besok juga tepat 15 bulan usia Diinan. Postingan ini sekalian jadi remindernya ya? Aku ubah judulnya deh! Juga tepat H+19 lebaran. Suami masih belum pulang. Ngapain? Nyari uang dooongg..untuk orang yang gak mau KPR kayak gueee.. 😉 Jadi TKI sampe H+19 belum mudik? Au ah, lap! Lusa, juga doi ulang tahun. Mumpung inget. Ngucapin sekarang. Selamat ulang tahun (ah, belum tentu doi baca). Semoga tetap sabar menghadapi istri macam saya dan juga tetap dalam batas kesabaran saya. Wah, penutupnya panjang ya? Biarin! 😝 Diinaaaaannnn...sehat terus ya. Nggak gendut gak papa kok! Kemarin nimbang 8,6. Gak papa, alkhamdulillah. Kita pasti bisa melawan dunia yang keras inih! Semangaaattt!! 😍😘
Wednesday, July 12, 2017
Keluarga
Baru aku sadari kemungkinan akar masalah keluargaku. Kami ini prematur. Suamiku dulu belum siap berkeluarga. Mungkin dulu dia merasa "terpaksa". Saat kami baru menikah, kami tinggal di tempat yang seharusnya hanya dihuni 1 orang, dan kini sampai anak kami hampir berusia 15 bulan kami menempati hunian yang seharusnya untuk 2 orang. Bagiku bukan soal huniannya, tapi sepertinya itu masalah baginya.
Dari awal, ternyata kami beda prinsip. Suamiku sangat mengutamakan materi. Menikah butuh dana sekian-sekian-sekian. Seserahan dan mas kawin bagiku hanya nominal yang toh sewaktu-waktu bisa kami gunakan bersama. Tidak baginya.
Oleh orangtuaku, uang seserahan diberikan padaku untuk biaya hidup merantau di awal menikah. Tadinya orangtuaku menyarankan mengontrak daripada tinggal di kos-kosan. Tapi suamiku berpendapat lain. Sayang kalo ngontrak, katanya. Membuka tabungan haji akhirnya jadi pilihan. Semoga ini menjadi lebih berkah. Lalu saat ingin kujual semua perhiasan-perhiasan yang seharusnya sudah jadi milikku, juga tak dibolehkan. Padahal bukan haknya melarang. Tapi aku tak mau ribut. Biarlah benda-benda itu entah apa gunanya.
Kini kami hidup (masih) terpisah. Suamiku mungkin romantis tapi ternyata bukan tipe family man yang mengutamakan keutuhan keluarga. Lagi-lagi materi. Semoga ada perubahan.
Diinan, maafkan ibu. Ibu gak tau harus bagaimana. Bisa saja pemikiran ibu ini yang salah. Ah, entahlah.
#randomthought
Wednesday, June 14, 2017
Diinan Empat Belas Bulan
Diinan sudah sangat membuat lelah. Tidur cuma sekali kalo siang. Di luar itu, MAIN! Main yang menguras energi fisik, psikis dan juga deterjen.
Iya..iyaa...bakal lebih melelahkan lagi nantinya. Iyaaa...baru anak satu. Iyaaa... ah, sudah sajalah ceritanya.
Friday, May 5, 2017
Diinan Umur Satu Tahun
Jiaahhh...telat amaattt. Habis ini kayaknya bakal nulisnya setahun sekali nih? 😂 Ini juga inget karena baca-baca hari ini adalah ulang tahun Luffy dan hari anak nasional. Oke, lanjut ke catatan bulanan. Diinan udah bisa apa aja yaa.. Kurang lebih masih sama kaya bulan lalu lah..makanya bingung nih, mau nulis apa. 😅
Bisa berdiri sendiri. Melangkah 1-2 langkah. Tambah tengil pastinya. Udah bisa melewati rintangan ember. Beratnya baru 8 kilo. Diinan juga belum bisa ngomong jelas satu katapun. Ini yang bikin puyeng. Ayahnya jarang ngajakin ngobrol dan saya terlalu sibuk dengan masak memasak dan cucian. #sedih
Ahh...udah setahun ya.. Time flies. Bagaimanapun, saya percaya sama Diinan. I love him full package. I know he tries to be better so hard. Kiss 😘
Tuesday, March 14, 2017
Diinan Umur Sepuluh dan Sebelas Bulan
Jiahhh...dirapel. Lama-lama nggak tiap bulan, tapi tahunan ini bakalannya. Dua bulan ini sibuuukkk... Diinan diboyong ke Tangerang. Kalau ada yang mikir makin gedhe bayi makin gampang diurus, itu salah sodara-sodara. Saya kerja, ngurus rumah, ngurus Diinan dan ayahnya. Hampir opname. Oke, setel kendho.
Diinan udah bisa apa ya? Emmm...tambah cerewet, gak begitu pemalu, aktif, makannya lumayan masuk banyak. Kurang? Oh, saya bukan tipe emak mompetition. Apa itu? Yang jelas, mau anak orang udah bisa jalan, naik odong-odong, makan kerikil, fotokopi KTP, terserah lah.. Diinan ya, Diinan. Apa adanya. Dan seperti kata boboboi, ter-baaik.
Nikmati, perbaiki, doakan. Sholeh ya, nak.. Sehat selalu. Kita bisa bahagia 😘😘😘
Tuesday, January 17, 2017
Diinan Umur Sembilan Bulan
Udah lebih dari dua minggu ini Diinan sakit batuk pilek dan sayapun ikut ketularan. Diinan mengalami kemunduran. Sudah, saya akui saja. Kemajuan perkembangan Diinan semuanya tertutupi oleh kemundurannya. Kata-kata anak kurus, gak punya tenaga untuk berdiri, kapan bisa jalan kalo kayak gini, payah, ibunya gak becus. Iya, iya itu semua saya akui juga.
Harapan saya, sehat selalu tentunya. Santun dan tetap kokoh jiwanya. Apapun omongan orang, jika ada yang menyanjung jangan mudah hilang akal, jika ada yang menjatuhkan jangan mudah hilang sabar.
Maafkan ibumu, jika masih belum becus mengasuhmu.
Wednesday, December 21, 2016
Diinan Umur Delapan Bulan
Kalau nggak ada yang liat, Diinan suka saya biarkan mainan di lantai. Merangkak sana sini, panjat kipas angin, masuk lemari. Saya percaya Diinan punya kehati-hatiannya sendiri. Tentunya masih dalam pengawasan. Kalopun jatuh, selama tidak membahayakan, masih saya anggap wajar. He,,
Terus berkembang sayang, doa dan cinta selalu dari ibu 😘
Saturday, November 26, 2016
Piala
Akhir-akhir ini ayahnya Diinan mengikuti banyak kompetisi. Baik yang diadakan di kantornya maupun yang di luaran. Entah piala, juara, hadiah, atau hanya kepuasannya saja yang dia cari. Salah satu kompetisinya: bola. Saya tahu dia suka bola, gila bola. Tetapi ternyata pandangan saya masih jauh dari yang saya pikir. Dia jauh lebih dari sekedar gila bola.
Saya pikir yang paling penting baginya adalah pekerjaannya. Jika yang lain bisa skip kerja karena anak/istri sakit atau lahiran, dia tidak bisa. Tapi ternyata ada juga yang bisa membuatnya skip kerjaan. Ikut kompetisi bola.
Sekarang ini, sedang berlangsung piala AFF sejak tanggal 19 November lalu. (sekarang 26 Nov -red). Bisa ditebak, selama jangka waktu itu, berapa kali dia menelepon? Iya. Tidak satupun.
Untuk kamu yang bukan penikmat bola. Semoga Tuhan selalu memberkatimu.
Thursday, November 17, 2016
Diinan Umur Tujuh Bulan
Diinan umur tujuh bulan, telat tiga hari saya menuliskannya. Karena sibuk jalan-jalan dari kota kembali ke desa. Menyenangkan walaupun lelah luar biasa.
Diinan tujuh bulan umurnya, masih tipis rambut di kepala. Lalu ada bekas luka dibawah mata sebab loncat menabrak meja. Diinan makin aktif tak bisa ditinggal walau sekejap mata kalau tak mau dia menghilang tak terduga.
Diinan, ibu tak bisa menjadi sempurna tapi kan selalu berdoa dan berusaha agar kamu tumbuh sehat dan bahagia.
Friday, October 14, 2016
Diinan Umur Enam Bulan
Diinan umur enam bulan beratnya 7,4 kg. Saya sudah terjun langsung dengan mpasinya. Karena situasi yang tidak terkendali dan sebagai ibu saya sudah tidak tahan dengan semua hujatan ini, Diinan mpasi dini. Seharusnya dia baru mulai menu tunggal, dia sudah mulai mpasi 4 bintang. Yasudah, ampuni hamba ya Alloh..
Diinan sudah bisa menengok kalau dipanggil namanya, sudah suka nonton iklan di TV, dan tengkurap dengan posisi tangan lurus menyangga tubuhnya. Rambutnya? Masih a la kadarnya. Tapi yang paling menggembirakan Diinan sudah jarang sekali menangis dan sudah dekat dengan keluarga ayahnya.
Keluarga kami? Masih begini-begini saja. Ayah masih pulang sebulan atau dua bulan sekali. Yah..standar keluarga bahagiaku sepertinya harus diturunkan. Karena keluarga si ayah banyak yang LDR, jadi mungkin ini adalah hal yang biasa saja. Sudahlah, terima nasib.
Harapannya Diinan bisa menjadi lelaki sehat, sholeh, cerdas, rajin dan mementingkan kebahagiaan akhiratnya melebihi dunia dan seisinya. Aamiin.
NB: Ibu sayang Diinan
Friday, October 7, 2016
Depresi
Di berbagai media massa sedang marak pemberitaan ibu yang membunuh anaknya karena depresi. Lalu tiba-tiba seliweran postingan mengenai post partum syndrome (PPS) di Facebook. Sayapun sebagai wanita baru tahu soal PPS ini belakangan. Apalagi bagi kaum pria? Mereka ngerti? Mungkin seribu satu. Lha, suami saya sendiri pernah saya bagikan link mengenai PPS dia males baca. Padahal, peran kaum pria terutama sebagai suami sangatlah besar terhadap stabilitas psikologis wanitanya.
Kembali kepada si ibu yang "jahat" itu. Setelah saya merasakan menjadi ibu, saya mungkin bisa sedikit merasakan "kemarahan" yang kadang bergejolak. Entah karena anak rewel, nggak doyan makan, berat badan kurang, sakit-sakitan, belum tumbuh rambut, digigit nyamuk dan masih banyak lagi. Boleh percaya boleh tidak, menjadi ibu adalah siap menjadi pesakitan/terdakwa/tersangka yang selalu disalahkan atas segala sesuatu yang terjadi pada anak. Perkara kuku anak yang sedikit panjang bisa muncul stigma "ibunya pemalas". Baju anak ada bekas getah pisang, ibu dicap "ibu yang jorok". Dan masih banyak lagi.
Lalu bagaimana solusinya jika memang sudah "kodrat"nya demikian? Saya rasa, seberapa bagus komunikasi dengan orang terdekat bisa menjadi salah satu solusi selain tawakal kepada yang kuasa tentunya. Misal, orang terdekatnya adalah suami. Bagaimana posisi suami bagi sang istri atau sebaliknya. Apakah suami hanya sekedar mesim ATM. Sekalinya di rumah, ia akan sibuk dengan gadgetnya? Atau sejenak bermain dengan anak a la kadarnya lalu ketika anak tidur ia kembali ke laptop? Apakah istri hanya perlu makan, tidur dan shopping yang cukup? Apakah istri tidak perlu diposisikan sebagai teman tersayang lagi?
Oh, saya tidak meng-generalisir. Ada suami yang peka, yang mau belajar memperbaiki diri. Ada juga istri yang kuat dan masih berpijak di bumi tulus ikhlas hanya mengharap balasan dari Tuhannya. Dan tentunya saya selalu berharap semoga semakin banyak keluarga harmonis, sakinah mawaddah dan rahmah sehingga tidak ada lagi anak tak berdosa menjadi korbannya.
NB: Tentu tulisan ini tak bisa mentah-mentah menjadi solusi. Hanya sebagai bentuk keprihatinan. Ibu-ibu di manapun berada, yang kuat yaa.. Kita kudu bakoh. Ini tak akan selamanya. Ingatlah senyum manis anak-anak kita.
Sunday, October 2, 2016
Diinan Road to Jogja
Untuk yang pertama kalinya Diinan pergi ke Jogja. Untuk yang pertama kalinya pula Diinan naik kereta. Kamis siang jam 11.00 kami naik kereta Joglokerto dari Kroya. Pesan tiket KROYA-YOGYAKARTA. Kami turun di stasiun Lempuyangan. Dan itu SALAH. Kalau mau turun di Lempuyangan, maka beli tiketnya jurusan Lempuyangan. Kalau jurusan Yogyakarta, seharusnya turun di stasiun Tugu. Maafkan, baru pertama kali. Saya juga baru tahu ini ketika akan beli tiket pulang.
Joglokerto kereta ekonomi rasa bisnis. Cukup nyamanlah untuk perjalanan 2,5 jam dengan harga tiket 60K. Diinan tidur di separuh perjalanannya. Sisanya, tertawa gembira. Sampai Lempuyangan, kami naik taksi. Gak ada blue bird lho ya, di Jogja. Dari Lempuyangan - Condong Catur taksi tanpa argo dibandrol 70K. Dan itu kemahalan. Lagi-lagi, saya tahu kalau kemahalan sewaktu pulang. Naik taksi yang berargo gak nyampe 50K.
Ngapain di Jogja? Baru nge-Mall. Itupun yang dekat Condong Catur. Hartono Mall. Mall yang masih sepi. Belum ngetrip a la adventures gitu. Targetnya, masih sebatas belajar naik kereta. Lain kali, gembira loka, Jogja bay, malioboro, mangunan, gunung kidul dan segala pesonanya, taman pelangi, taman sari dan taman lainnya, lain kali. Semoga ada rejeki.
Joglokerto dari Lempuyangan (bukan Yogyakarta) depart jam 7 pagi. Wah, bakal buru-buru nih. Cari kereta yang siangan lah. Akhirnya naik KA Pasundan. Ternyata, tetoottt... Keretanya jauh dari ekspektasi Joglokerto. Tempat duduk 3-2, lutut ketemu lutut, barang bawaan banyak (tempat tas di atas penuh), lebih lama (lebih dari 3 jam perjalanan) dan lebih mahal (84K). Sempat khawatir Diinan bakal rewel, tapi ternyataaa.. Diinan anteng, seanteng naik Joglokerto. Ugh, legaaaa...cium-cium Diinan.
Ok, kereta ekonomi dinyatakan LULUS. Mission: ACCOMPLISHED
Tips:
1. Untuk ibu-ibu penumpang kereta ekonomi, punya bayi, nunggu di peron panas dan lama, bisa masuk ruang menyusui. Adem.
2. Lebih nyaman beli tiket online. Sehingga sampai di stasiun tinggal print tiket. Sebab, untuk stasiun seramai Lempuyangan, nggak tahan deh..bawa bayi ngantri.
3. Dalam kereta api ekonomi (pengalaman saya di KA Pasundan) terdapat tempat duduk no 1A, 1B, 2A dan 2B yang dikosongkan di setiap gerbong. Tempat duduk tersebut bisa ditukarkan khusus bagi IBU HAMIL, PEMBAWA BAYI, LANSIA dan PENYANDANG CACAT yang membutuhkan kenyamanan ekstra. Jadi, tidak perlu berjubel dengan penumpang lain.
Diinan suka ngeliatin orang lain makan sambil mulutnya keclap-keclap 😅😂
Saturday, September 17, 2016
Diinan Umur Lima Bulan
Diinan umur lima bulan beratnya 7,2 kg. Lebih rendah 0,2 kg dari target saya. Mungkin karena saya sempat opname tiga hari gara-gara tipus.
Diinan di bulan kelima digundul lagi. Tantrumnya sudah berkurang drastis, walaupun masih sulit akrab (mau digendong) dengan orang yang dia anggap asing.
Di usia Diinan yang kelima saya menyadari satu hal. Lebih mudah menutup kuping sendiri daripada menutup mulut orang lain. Susah memaksakan tindakan orang lain agar sesuai dengan keinginan kita. Lebih mudah berlapang dada dan tidak mengandalkan orang lain.
Diinan sudah dicoba makan pisang (tapi alkhamdulillah sepertinya dia belum doyan). Sudah juga mencicipi jeruk, jambu jamaika, semangka dan melon. Yasudahlah.. Capek untuk menjadi terlalu idealis. Berlapang dada saja. Satu hal, dia gak doyan susu formula (yes! Alkhamdulillah).
Ayah Diinan masih pulang 1-2 bulan sekali. Legowo saja. Nggak perlu memaksa. Paling kalo ada yang tanya, "Ayahnya pulang seminggu sekali?" Saya jawab seperlunya lalu menyingkir ke toko tas cari yang harganya di atas 2 juta.
Badan lebih sering sakit karena Diinan makin aktif. Berguling, menendang, "nggrawel" dan terakhir bibir berdarah karena kejedot dia. Tak apa, asal Diinan tetap sehat, santun dan sholeh.
Ibu sayang Diinan
NB: postingan telat tiga hari sebab sedang sibuk sekali
Sunday, August 14, 2016
Diinan Umur Empat Bulan
Diinan umur empat bulan, sudah bisa tengkurap dan kembali membalik badan. Kami kerap tidur sambil berpelukan atau sekedar menggandeng tangan. Kini dia sudah hapal mana ibunya sehingga tak suka bersama orang yang asing baginya.
Diinan umur empat bulan, secara pribadi saya ingin berterima kasih padanya. Karenanya saya bisa merasakan menjadi manusia yang benar-benar dibutuhkan dan dicintai apa adanya. Betapa menjadi segalanya bagi seseorang ternyata begitu membahagiakan. Bukan sekedar teman atau sahabat yang butuh saat ada PR atau sedang ujian.
Tawa yang apa adanya. Sekedar membalas senyum tanpa sebab, tanpa mengapa. Mungkin sebentar lagi dia akan lebih dekat dengan ayahnya. Terpesona dengan mobil, playstation atau bola. Tak mengapa, memang sudah kodratnya. Asal dia bahagia.
Saya sebagai orang tua masih terus berbuat salah. Kamupun tumbuh dalam gelimang masalah. Semoga dengan seperti ini tak menjadikanmu anak yang lemah.
Suatu saat nanti, Nak.. Kamu akan mendewasa dengan begitu santunnya. Aamiin.