Thursday, May 24, 2012

Kematian

Akhir-akhir ini aku sering berpikir tentang kematian. Jujur, kematian membuatku takut. Menakutkan jika aku berpikir bahwa siapa saja bisa dengan mudah dan tiba-tiba meninggalkanku secara sempurna. Orang-orang yang aku harapkan ada di dalam masa depanku, di dalam rencana yang aku susun, bahkan di dalam pondasi yang sudah mulai aku bangun bisa saja "gagal secara sempurna" karena kematian. Kematian itu begitu menakjubkan, mendasari tanda tanya agung akan keberadaan si pemilik nyawa. Aku tak pernah melihat secara gamblang bagaimana nyawa, ruh, jiwa (entah apa bedanya) ditiupkan ke dalam jasad. Sekedar tahu saat perut wanita semakin membesar dan beberapa waktu kemudian ter"produksi"lah tubuh berisi nyawa. Atau saat aku mengamati sebuah telur dan bertanya-tanya apa di dalam situ terdapat nyawa dan saat aku memecahnya di atas penggorengan maka aku telah melenyapkan sebuah nyawa? Ataukah nyawa itu tak bisa lenyap? Seperti jika tubuh termutilasi (ayam di pasar contohnya) namun nyawa yang tadinya mendiami si tubuh tetap utuh? Jadi apa itu nyawa? Dia yang membuat kata "hidup" itu ada. Semacam energi yang tercipta namun tak bisa musnah? 


Banyak orang yang dengan mudah mengatakan jika ia menginginkan kematian, "Jadi Elo selama ini selingkuh. Padahal gue tuh udah setia & cinta mati sama Elo. Mati aja Lo sana!" Benarkah kata-kata itu? Aku jadi membayangkan, jika si "Elo" tanpa sebab tiba-tiba mati dan si "gue" yang katanya cinta mati sama si "Elo"  jadi kehilangan harapan karena cinta matinya telah mati. (jadi bertanya-tanya kenapa sih, cinta harus diembel-embeli dengan kata mati juga? Maksudnya apa coba?) Apa si "gue" nggak menyesal dan balik bilang," Gue rela Elo tinggalin dengan orang lain, tapi jangan tinggalin Gue pake mati begini."? 

Sesuatu terasa begitu berharga saat sesuatu itu sudah tidak ada. Jadi pesan untuk "Gue", jikalau suatu ketika memang hal ini terjadi sama kamu, semenyebalkan apapun orang yang kamu cintai: pacar yang selingkuh, orang tua yang diktator, anak yang bandel setengah mati (lagi-lagi bertemu kata-kata "mati") jangan pernah mengharap mati kepada mereka. Bukankah orang idiot (atau bijaksana?) bilang, "Love sets you free". Jangan merasa terikat dan memiliki, karena kita memang tak pernah memiliki. Cintai saja mereka dengan cinta yang membebaskan.

Satu hal, bagaimana jika posisinya dibalik. Aku yang mati. Akankah sesuatu berubah? 
Sepertinya untuk tahu itu aku harus melakukan yang namanya "arti hidup" Aku harus melakukan perubahan yang berarti positif selama aku hidup, maka akan ada yang berubah saat aku mati. 

Kematian, kelak aku ingin memelukmu dalam kedamaian. Antar aku ke tempat yang lebih indah dari kehidupan. 


Saturday, April 7, 2012

Uban Pertama

Happy Birthday Adelina! 22...
WOW! Kira-kira berapa persen dari jatah umurku ya? Pertanyaan ironis: Apa yang sudah aku lakukan seumur hidupku? Jika 1/3 dari hidupku aku habiskan untuk tidur, berarti sudah 7 tahun lebih aku tertidur à pernyataan yang tragis. Hahaha,, Yah, seperti manusia pada umumnya, aku menginginkan hal-hal seperti muda foya-foya, tua kaya raya dan mati masuk surga (Tidak munafik kan?). Pertanyaannya, apa mungkin? Setidaknya aku berusaha mewujudkannya. Dimulai dari patuh terhadap orang tua (ridha orang tua, ridhanya Tuhan, betul?). Aku termasuk dalam kategori “anak patuh” bukan? Kalian yang mengenalku pasti akan menjawab “iya” --Eh, Tidak? Benarkah? Ya, mungkin aku sedikit keras kepala, keras hati, egois, dan “ngeyel”. Tetapi aku berusaha mewujudkan apa yang orang tuaku pinta kok! Mereka menginginkan aku juara kelas (aku pernah mendapat ranking 1 di SMP dan SMA, beberapa kali malah) dan mereka menginginkanku untuk lulus kuliah tepat waktu (aku lulus kuliah S1 empat tahun kurang 1 minggu, tepat waktu kan?) dan hal-hal lain seperti tidak hamil di luar nikah dan lain sebagainya. Orang tuaku sudah cukup membuatku bisa berfoya-foya di kala aku muda, seperti membelikanku komputer pentium 1 di usiaku 5 tahun (lengkap dengan permainan orang purba yang mengumpulkan poin dengan berburu dan meramu daging dinosaurus, “best game forever for me”), pesta barbeque di akhir bulan, dan memenuhi segala kebutuhan primer, sebagian kebutuhan sekunder, dan beberapa kebutuhan tersier. Kini aku sedang memikirkan agar tua-ku menjadi kaya raya dan tetap berusaha agar kelak setelah mati, aku bisa masuk surga. Hohoho,,
Ah, jangan anggap serius kata-kataku di atas yang sombong, kemaki, kemlithak, kementhus (banyumasan –red) itu ya? Untuk menghibur diri saja.

Di usiaku yang menginjak 22 tahun ini, aku sedang berlatih menjamah kehidupan yang mandiri, jauh dari orang tua. (Aceh-Cilacap jauh kan?). Sudah 4 bulan kurang 5 hari aku berada di tanah rencong ini. Sudah menjadi guru, sudah bisa tidur tanpa bantal guling di dalam rumah kayu beratap seng, bisa hidup tanpa bioskop dan ice cream, sudah pernah merasakan makan karena lapar (bukan karena suka/doyan), sudah merasakan hidup tanpa listrik dan sinyal beberapa kali, sudah pernah mandi di sungai dan banyak pengalaman menantang lain. Seperti pepatah, jika ingin merasakan kebahagiaan yang sempurna, kau harus pernah merasakan penderitaan puncak. Kebahagiaan dan penderitaan selalu bersisian, kau harus memilih dan mengorbankan salah satu. Sebagian darimu mungkin lebih memilih untuk hidup di kota dengan sejuta kerlip lampu di malam hari, namun disini aku bisa melihat milyaran bintang di langit yang tak bisa kau lihat dari kotamu. Atau disana kau bisa mendengar suara musik mendentum, disini aku bisa mendengar ribuan burung bernyanyi yang kau kira mungkin telah punah. Walaupun tekanan dari berbagai sisi tidak bisa dikatakan ringan, aku lebih memilih jalan yang indah, bukan jalan yang mudah. 



Oh ya, baru sore tadi aku menemukan sehelai uban di antara rambutku. Wah, rasanya seperti ditampar kesadaran bahwa aku sudah bukan anak kecil lagi. Sudah seharusnya mulai menata pondasi kehidupan dewasa. Mungkin pengalaman yang meletakanku pada titik terbawah kehidupanku ini bisa membuatku lebih menghargai dan mensyukuri kenikmatan-kenikmatan sederhana sebagai kenikmatan yang luar biasa. Juga dengan kembali merangkak dari bawah aku bisa merasakan setiap gradasi pencapaian yang aku raih. 



Di usia 22 tahun, aku menargetkan kematangan jiwa sebagai manusia dewasa, pekerjaan yang aku sukai dan sesuai dengan hati nurani, memperkaya diri (kaya itu relatif –kata seorang teman) dan satu hal yang ingin aku lakukan : mentraktir keluargaku makan di restoran. Haha,, Aamiin..

:: Ternyata aku memang anak muda yang sombong  (22 tahun itu masih muda Sob!) ^_^

Saturday, February 25, 2012

Ketika Menjadi yang Minoritas

Dulu rektor UNNES berkata saat pembekalan,"Jika disana kalian menangis, berarti kalian telah gagal!"
-- Dan itu berarti aku telah gagal, tidak hanya sekali, bahkan berkali-kali.
Berat? Iya. Bukan kalah medan atau susah makan, hanya merasa kesepian.
Menjadi SM-3T --Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Teluar dan Tertinggal yang ditempatkan di kabupaten Aceh Besar sebagian besar sudah mendapatkan fasilitas yang memadai. Aku ditempatkan di sebuah SMA Swasta Bina Nusa Lampanah yang baru 3 hari yang lalu berubah nama menjadi SMA Negeri 3 Seulimeum. Sebuah sekolah yang terletak di lembah Gunung Seulawah, berbukit-bukit namun sekaligus berbatasan dengan pantai selat Malaka. Walaupun dengan keterbatasan sarana transportasi umum, tempat ini adalah sebuah perpaduan alam yang sangat indah dengan ikan laut yang melimpah.


Sebuah sekolah dengan sejarah yang luar biasa. Di bangun untuk menampung anak-anak putus sekolah, yang tidak mampu melanjutkan sekolah di kota (Banda Aceh -red). Dibangun dari swadaya masyarakat setempat dengan kerja sama dan kerja keras sedikit demi sedikit. Lokasinya yang terletak > 2 KM dari kampung warga juga membuat anak-anak sekolah tersebut perlu mengorbankan sedikit peluh dan sol sepatunya untuk berangkat ke sekolah berjalan kaki. Dalam penglihatan sepintas hal itu terlihat sebagai pengorbanan yang luar biasa untuk pendidikan. Apa itu cukup? 

Selama 2 bulan 13 hari disini, aku sudah mulai merasakan, meraba, menelisik lapis demi lapis kehidupan masyarakat yang secara langsung atau tidak langsung bersinggungan dengan kegiatan yang aku lakukan. Sekolah ini tidak memiliki guru satu-pun. Semula, sekolah ini diampu oleh guru SMP N 4 Seulimeum yang letaknya bersebelahan dan yang juga dikepalai oleh kepala sekolah yang sama. Kini dengan kehadiran 6 orang peserta SM-3T, semua tugas guru dialihkan kepada kami. Hanya Tuhan yang tahu apakah akan membuahkan hasil yang baik membebankan tugas mengajar yang seharusnya diampu oleh 15 guru mata pelajaran, dipikul oleh hanya 6 guru. Kelas X kami beranggotakan 17 anak, kelas XI beranggotakan 21 anak, dan kelas XII beranggotakan 13 anak. Anak-anak yang sangat dibanggakan, yang diharapkan oleh semua orang serta yang di"gadhang-gadhang" kelak akan menjadi tentara, bidan, hingga pramugari. Bel masuk sekolah pukul 08.00 sepertinya kurang keras untuk memanggil mereka. Hanya mungkin sekitar 3 atau 4 anak yang baru menampakan batang hidungnya. Tak bisa disalahkan. Rumah yang jauh, kegiatan malam mereka yang padat (mengaji di malam hari, menginap di tempat mengaji dan baru pulang keesokan paginya) atau alasan membantu orang tua mereka di sawah. Pernah suatu ketika di kelas hanya duduk 3 orang anak dan surat izin menumpuk di atas meja guru. Sungguh anak yang berbakti terhadap orang tua, sungguh.
Kendala yang dihadapi di sini yaitu bahasa. Bahasa Aceh sungguh bahasa yang luar biasa, lebih sulit dibandingkan bahasa Inggris walaupun tidak memiliki tenses. Tulisan dan cara membacanya berbeda, serta memiliki kemiripan bunyi untuk beberapa kata. Saya akui, orang Aceh adalah orang yang sangat menjunjung tinggi bahasa daerah mereka. Dalam pidato formal bupati hingga khutbah sholat Jumat apalagi percakapan sehari-hari di rumah, mereka terbiasa menggunakan bahasa daerah. Kesulitannya, anak-anak sedari kecil tidak terbiasa dengan bahasa Indonesia. Mereka paham dan menggunakan bahasa Indonesia hanya ketika bercakap-cakap dengan orang non-Aceh, pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dan saat menonton acara televisi nasional.
Masalah yang lain adalah sifat, sikap, kepribadian, pekerti (bedanya apa ya?) anak-anak itu. Kepala dinas pendidikan Aceh Besar pernah mengatakan, "Orang sini pemalas. Ini terjadi karena kedai-kedai kopi itu".
Hanya sekedar info, kedai kopi di sini sungguh luar biasa. Banyak dan selalu ramai dikunjungi pelanggan. Di setiap perkampungan pasti memiliki lebih dari satu kedai kopi. Dan di kota? Ukh, komplit pakai wifi area.  Jika kita keluar rumah pukul 06.30 (setengah jam setelah sholat subuh di masjid), kita bisa melihat sederet orang sudah duduk santai sambil menyeruput kopi dan melahap timphan (sejenis kue basah dari ubi). Anehnya hingga kedai ini tutup (sekitar jam 22.00 jika di kampung), tetap saja ramai dikunjungi orang apalagi saat musim pertandingan sepak bola. 
Yah, di lingkungan seperti ini, anak-anak malas membaca, belajar, bahkan rasa ingin tahunya saja sangatlah kurang. Ada semacam kebiasaan yang sulit diubah bahkan tidak mungkin diubah oleh kami yang bukan orang pribumi. Sikap anak-anak tehadap guru yang kurang menghormati dan menghargai siapa kami.

Apa yang harus aku lakukan? Cuek? Tutup mata? Let it flow? Aku hanya ingin keberadaan aku disini setidaknya membawa manfaat, tak hanya sebagai formalitas program pemerintah. 
-- Tuhan, kumohon berikan jalan untuk semua tuntutan dan ujian...

-Desperately missing home-

Sunday, December 18, 2011

Kebahagiaan

kebahagiaan adalah seni merangkai buket dengan bunga yang ada di sekitar kita




Setiap pagi, sepanjang jalan menuju sekolah kami, di antara laju mobil, kereta (sepeda motor), dan labi-labi, aku menyempatkan diri membuat bouquet dari ilalang, putri malu, dan matahari kecil. Untuk diriku sendiri, hari yang akan ku jalani dan untukmu. Setelah semalam kukenakan kaos usangmu yang sangat kusuka, yang kuminta dengan sedikit paksa hari itu, hari ini kembali kucoret satu hari dari 365 hariku mendatang tanpamu.

-- Blang Bintang, 300 hari sejak "pertemuan" pertama kita

Thursday, December 15, 2011

Imam

Imam --teman baruku, yang selalu ceria, tertawa, pandai mengaji, pintar menari, juga menyanyikan lagu-lagu girl band zaman sekarang. "Kak, punya lagu dilema-nya Cherry Bell nggak? Kalau punya nanti aku ajarkan bahasa Aceh"





Walaupun tak berhasil menemukan lagu tersebut dalam file "music"ku, namun tetap dengan tawanya yang khas, Imam bersedia mengajariku beberapa rangkaian kata. "Loen meuteungeut that!" (Aku sangat mengantuk). Kalimat yang sangat sulit aku ucapkan yang akhirnya mengantarkanku ke alam mimpi menjelajah pantai Lhoknga seperti dalam cerita Imam. Imam putra ketiga dari empat bersaudara. Kakak lelakinya sedang melanjutkan studi di Universitas Syah Kuala, kakak perempuannya masih duduk di bangku SMA kelas 3 di Banda Aceh yang sepertinya masih berusaha keras menghapal genre dalam teks bahasa Inggris. Adik lelaki Imam yang masih berusia 16 bulan memiliki senyum yang Subhanallah bisa menawan hati semua orang. Ayahnya seorang kepala sekolah SMA swasta Bina Bangsa di kecamatan Blang-Bintang. Pria pendek, gemuk, berkulit hitam dan berkumis lebat ini sama sekali tak semengerikan tampangnya. Bisa dibilang wajah angry bird-nya kalah dengan kebaikan  hatinya yang seperti Hello Kitty. Beliau adalah pelopor yang mendirikan sekolah tersebut atas dana pribadi dan sebagian swadaya masyarakat. Pasca tsunami 2004, sekolah tersebut mendapatkan bantuan dari pemerintah Aceh sehingga bisa dibangun kembali. Amak Imam seorang bidan desa yang dengan sukses meyakinkanku bahwa postur tubuh seseorang (berat dan tinggi badan) seseorang hanya 5 % ditentukan oleh keturunan. Sisanya dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi ibu ketika mengandung dan menyusui. Entahlah jika posturku yang paling kecil dari kelima teman seperjuanganku disini adalah tercipta karena takdir Tuhan atau ada faktor lain karena sepertinya masa kecilku sudah cukup berlimpah asupan gizi.

Sungguh keluarga yang menyenangkan; sangar  dan berkharisma di waktu tua, namun berwajah malaikat di waktu muda.




Monday, November 14, 2011

Destiny

kepada "Hati"ku:

Apakah takdir namanya ketika kita dipersatukan di ruang bundar itu, mendengarkan ocehan tentang pos daya dan konservasi dengan tampang lusuh dan layu?

Apakah kebetulan namanya ketika kau menemukan arsip foto lamaku dan menyalinnya kembali tak hanya pada secarik kertas, tetapi juga pada hatiku?


Apakah ketidaksengajaan namanya ketika kita datang dari arah yang berbeda dan dipertemukan di tengah lautan manusia dan bising pedagang asongan?

Ataukah takdir itu adalah ketika kita melihat ada kebetulan dan ketidaksengajaan di depan mata tanpa kita tahu siapa yang berbuat?





Thursday, November 3, 2011

Keyakinan itu di Hati, Bukan di Kepala

Sambil mempertanyakan kewarasanku, kau bertanya "untuk apa?"
:: Kebutuhan kita berbeda. Ada ketakutan yang mesti aku taklukan, ada kesetiaan yang ingin aku perjuangkan, dan ada khayalan yang menanti tak hanya untuk diimpikan... (doakan aku, pintaku)
Maos, 3 November 2011

Thursday, October 27, 2011

Ingin Terbang

kali ini, ku tak lagi sabar dengan lambatnya waktu
karena aku tlah tau, kau akan terus memelukku (seperti aku memelukmu)
---dalam doa, antara kita dan Dia
# inside every girl is a swan, waiting to burst out in flight" (Harry Potter and the Goblet of Fire)

Monday, October 24, 2011

Jobless

aku belum juga mulai berjalan, bahkan berlari
mungkin karena aku takut untuk tak lagi makan, tertawa, berbisik, menangis dan saling mengecup hati untuk menyembuhkan 
---denganmu

Saturday, October 15, 2011

Skripsi

Skripsi adalah refleksi dari sebagian ilmu yang telah kita dapatkan dan dirangkum menjadi sebuah tulisan yang bermanfaat dengan dilandasi kejujuran (ReTweet DutaParamadina)



Mungkin kejujuran itu bukan milik semua, tapi itu adalah milik kita
dan suatu hari, aku, kamu --kita akan merasa bangga

*jika percayaku salah, kuharap alasanmu bukan aku

Thursday, October 13, 2011

Long Distance Relationship


Long Distance Relationship (LDR) dari zaman ke zaman sepertinya tidak ada yang enak. Dari yang ber-relationship lewat surat, kemudian beralih ke LMS (long message service), telephone (penyedot pulsa), hingga sekarang bisa ber-webcam-an gratis. Sepertinya susah untuk menghilangkan rasa cemburu, rindu, sampai air mata di suatu malam (tidak harus malam minggu). Padahal sering kudengar sebuah kalimat dari beberapa orang adoh mambu wangi, cedhak mambu tai (jawa). Entah mengapa kalimat itu tidak berlaku buatku.
Dan hubunganku kali inipun terancam terkena LDR dalam hitungan beberapa hari lagi. Dulu aku pernah menjalaninya. Dua tahun. (Hebat kan?). Namun sepertinya tak cukup hebat karena akhirnya berakhir. Sepertinya LDR menjadi hal traumatis tersendiri. Tapi harus dihadapi bukan? 
Aku hanya ingin beberapa hari ini (sebelum aku pergi), aku ingin meminta sangu darimu, bisa bersamamu, beberapa hari saja.

(hari ini hari Kamis)
Aku hari Selasa (mingggu depan) jadwal wisudanya, kamu bisa nemenin?
Bisa.
Kalau besok?
Bisa.
Sabtu? Bisa. Minggu? Bisa. Senin? Mmmm... Aku ada acara dari pagi sampai jam 10 malem.
Kok gitu?
Lha, kenapa? Kan udah aku temenin sampai minggu. Selasa lagi. Kamu kan acaranya hari Selasa.
Apa enggak bisa acaranya dimajukan? Kalau perlu dari besok sampai hari Minggu enggak apa-apa.
Enggak. Kenapa?
[lebih baik tak melanjutkan pembicaraan daripada air mataku keburu jatuh]
...............(mungkin) disaat teman-temanku sedang berpesta menyambut hari besarnya, aku akan ada di kamarku makan mie instan................

Dan ternyata sekali lagi kau melihatku menangis tanpa tahu sebabnya.

Depan Kos Annisa
13 Oktober 2011

Wednesday, October 12, 2011

My First Kanzashi

Yayy..!! Finally, it's done! Sedang tergila-gila dengan segala pernak-pernik berbau Jepang...

walaupun belum bisa rapi

Tuesday, October 11, 2011

Making Plans

Betapa senangnya kita ketika duduk di lantai dengan satu rak penuh buku di depan mata. Toko buku nan sepi pengunjung adalah tempat yang paling nyaman dan menyenangkan. Ada kata HOBI tertulis di atas rak. Kita bisa menemukan aneka kreasi Felt, Clay, Amigurumi, Quilling paper, mahar, cara menggambar sketsa, manga, dan masih banyak lagi. Punya usaha sendiri membuat benda-benda unik dan menjualnya serta mendirikan cafe mungil yang mempunyai taman bacaan di dalamnya adalah impianku. Sayangnya, belum ada modal untuk memulai atau lebih tepatnya belum menemukan cara untuk memulai. Sebagai lulusan sekolah keguruan, idealnya aku akan menjadi seorang guru SMP, SMA, SMK, atau dosen di perguruan tinggi jika memungkinkan dan sekaligus ibu rumah tangga. 
Kemudian kita bercerita, disebuah kedai donat di bawah toko buku. tentang cita-cita, benturan yang merintangi, dan solusinya. Berteman segelas lemon tea dan satu potong donat, aku mulai berpikir tentang hidupku dan hidup kita.

Sebut saja plan A. Entah dimana dan bagaimana aku akan mengajukan diri menjadi seorang guru. Mencoba konsisten berkeilmuan serta memberi sumbangsih yang diharapkan solutif dalam pendidikan tetap menjadi plan A buatku. Tidak hanya pintar mengkritik sistem pendidikan, tapi juga mampu mengakali sistem sehingga  menjadi lebih baik.

Tidak mau terikat kontrak dengan negara ataupun yayasan sekolah, aku tetap bisa menjadi guru. Guru privat. Mungkin aku bisa meminjam bangunan di depan rumah bapak untuk aku jadikan kelas-kelasku. Dan sebut saja itu sebagai plan B.

Mungkin salah satu dari rencana itu bisa terlaksana atau mungkin Tuhan yang selalu berbaik hati akan memberikan rencana yang tentunya lebih cocok untukku. Aku percaya bahwa jatah rejekiku tak akan diambil orang, entah itu pekerjaan maupun jodoh. Tersebutlah beberapa target yang sudah aku buat mengenai jodoh. Aku akan menikah pada bulan Suro (Ya, aku ingin bulan Suro. Awal tahun hijriyah yang konon katanya jarang ada orang punya hajat) serta pada awal bulan masehi dengan dalih saat orang baru mendapatkan gaji dan pada akhir minggu saat orang-orang mendapatkan libur, itulah rencananya walaupun terkesan matre. Brilian bukn? Hehehe,, Dengan modal kalender online, aku-pun menemukan beberapa tanggal, seperti pada hari Minggu tanggal 1 Desember 2013 (target 1), jika meleset, maka hari Sabtu tanggal 1 November 2014 (target 2) bisa menjadi pilihan berikutnya, atau hari Minggu tanggal 1 November 2015 sebagai deadline-nya. Semoga Alloh SWT mengabulkan diantaranya. Amin.

Kemudian aku menceritakannya padamu di bawah pohon rambutan yang sedang bernyanyi menanti hujan.

Thursday, October 6, 2011

Teori Pengawuran

Aku punya sebuah teori tentang suatu makhluk bernama "laki-laki". Teori yang aku cetuskan ketika aku mulai mengenal mereka dari beberapa golongan, kasta, kepribadian, hobi, dan lain sebagainya. Aku menyimpulkan bahwa di dunia ini hanya ada DUA tipe laki-laki. Pertama,  laki-laki EGOIS dan yang kedua adalah laki-laki BEGO. Kenapa? Laki-laki yang terlalu sangat super pencemburu sekali (bukankah cemburu itu lebih banyak cinta diri daripada cinta itu sendiri?), laki-laki yang terlalu kebangetan fanatiknya sama hobinya (bola, otomotif, musik dan lain sebagainya), laki-laki yang susah atur prioritas, dan laki-laki lain yang merasa dirinya superior adalah golongan laki-laki egois. Sedangkan yang masuk dalam kategori kedua adalah laki-laki lemah yang terlalu baik hati sampai-sampai telihat pasrah saja mengikuti kemauan perempuan.

Jadi intinya, laki-laki emang tidak bisa berada tepat, persis, exactly ada di tengah-tengah antara EGOIS dan BEGO. Mereka pasti memiliki kecenderungan pada salah satunya. Jadi bagi para perempuan tolong belajar lah untuk mengerti. Dan bagi laki-laki tolong untuk bisa sedekat mungkin dengan garis batas itu.

Wednesday, October 5, 2011

Sekumpulan Kertas Tersenyum Lagi

Salah satu origami kami. Origami yang kami (aku dan Pupu) buat, adalah 3D origami Chinese folding. Dari kegiatan itu kami mendapat banyak kenalan, sedikit uang dan banyak sekali tawa. 
Pupu --dia aneh, menyentuh, menginspirasi, konyol, tengil, usil, "bego". Dia sahabat, guru, psikolog, badut, tukang pijet profesional, kucing kecil yang rapuh dan bos yang galak. Dia manusia pertama yang mengecup hatiku, membuatku cemburu, berbunga-bunga, susah untuk menangis, mengejek pipiku, bibirku, lafal "u" ku. Selalu ada senyum di bibirku untuk bayangannya, ocehannya, kecupannya.

Lagi, sekali lagi dan berulang kali, selalu merindukanmu

Banyumanik-Semarang, 5 Oktober 2011

Monday, September 26, 2011

Tindak Lanjut Soal Nama

Aku yang sudah dinyatakan lulus sebagai pengangguran pada tanggal 23 Agustus 2011, membulatkan tekad untuk mengurus SKCK (surat keterangan catatan kepolisian) guna melamar pekerjaan yang entah niatnya akan aku serahkan pada siapa. Untuk itu diperlukan surat keterangan ReTe (plus uang sepuluh ribu) ReWe (plus sepuluh ribu lagi) yang sudah aku urus tiga hari yang lalu. Hari ini dengan semangat membara aku pergi ke balai desa untuk menindaklanjuti uang dua puluh ribu yang sudah saya keluarkan dengan alasan untuk membeli tinta. Masalah mengenai nama yang sudah menghantuiku selama kurang lebih sepuluh tahun sejak 2001 (lulus SD) hingga sekarang (2011), akhirnya muncul ke permukaan. Ketidaksesuaian nama di KTP, Kartu Keluarga dan Ijasah kembali dipertanyakan. Akhirnya diputuskan aku akan mengganti KTP dan KK. Dengan segala pikiran negatif tentang ribetnya birokasi ini itu, aku berlanjut ke kecamatan. Singkat cerita, dengan uang sembilan belas ribu lima ratus yang aku bayarkan di loket YANMUM, akhirnya aku mendapatkan KTP dan KK baru... Semoga akan ada hikmahnya...

setidaknya kini aku bisa mengarang arti namaku. Shafetsila >> SHAF = barisan ; ET = @ atau pada ; SILA = dasar >> Barisan yang terletak di dasar / menjadi tumpuan / pondasi , ah, entahlah... ^_^

Kembali ke permasalahan SKCK, dari kecamatan aku beralih ke KORAMIL (kantor tentara) yang aku baru tahu ternyata letaknya di sebelah dokter gigi langganan bapak. Setelah mengucapkan terima kasih dan mendengar "dehem"an serta kalimat "lima ribu mba!" aku membayar "biaya operasional" serta beranjak ke POLSEK (kantor polisi). Begitu datang, saat itu menunjukan pukul 12.16 PM. Ternyata petugas pengurus SKCK sedang istirahat yang konon katanya hingga jam 13.00 (berdasarkan tulisan yang tertera pada kertas di depan pintu). Baiklah, berhubung jam biologisku-pun sudah berdering, aku ngeluyur ke warung mie ayam tempat tongkrongan dulu semasa SMP-SMA. Sendirian? Iya.. Sepertinya makan mie ayam sendirian tidak lazim dilakukan karena banyak membuat orang bertanya. Jam 12.59 (aku ingat betul) aku sudah duduk di kursi ruang tunggu bapak AIPDA Sunari (petugas layanan SKCK) daaannnn LIMA PULUH TIGA menit kemudian Aipda Sunari datang dengan cengiran lebar dan perut kenyang. Setelah membersihkan lumut dan sarang laba-laba yang menempel di tubuh (hiperbola aja), aku diberi beberapa lembar formulir yang harus aku isi. Bla-bla-bla...taraaa!! Jadilah SKCK atas nama Adelina Eka Shafetsila (untuk kali ini tidak ada kesalahan lagi). Baiklah, sya-la-la-la-laa...Pulang! Yayy..!! Tiba-tiba "Mba, itu plat nomernya udah hangus. Sedang ada "operasi" di pertigaan depan lho!" Dan semua (SEMUA tak terkecuali) Polisi yang berada di Polsek tersebut tertawa. Masya Alloh, (tepok jidat) aku benar-benar bunuh diri...


Perlu diketahui ini tahun DUA RIBU SEBELAS (2011)

Hanya berbekal cengiran innocent, aku melaju dan memutar arah menuju rumah dengan mengambil rute perjalanan panjang. Indahnya hari ini... T_T (Trima kasih atas pengertianmu pak polisi) >> Bapaaaakkk..!!!!!

Saturday, September 24, 2011

Perkenalan

Adelina Eka Shafetsila adalah seorang gadis yang saat ini berusia 21 tahun 5 bulan 17 hari. Nama itu diambil dari ADi susilo dan ELI panca susilowati aNAk no 1 (EKA).. Begitulah hasil pengakuan bapak dan ibu. Sedangkan Shafetsila lahir atas beberapa kesalahan beruntun yang konon katanya diambil dari pahlawan nasional Thailand: Shiddi Savetsila, namun karena petugas pencatat akte kelahiran pada zaman itu terlalu kreatif, sehingga ada sisipan "h" di antara huruf "s" dan "a". Jadilah Shavetsila. Nama Adelina Eka Shavetsila sempat aku sandang selama kurang lebih 11 tahun, hingga suatu ketika terbitlah ijazah sekolah dasar yang menerangkan bahwa Adelina Eka Shafetsila dinyatakan LULUS dengan predikat terbaik di sekolah tersebut. Mungkin orang dikala itu kurang memahami perbedaan mendasar antara huruf "f" dan "v" yang hingga saat ini sangatlah mengganggu hubungan sosialku dengan masyarakat. Mengapa? Di dalam KTP (Kartu Tanda Penduduk) dan SIM (Surat Izin Mengemudi) masih tertulis Nama: Adelina Eka Shavetsila sedangkan untuk ijazah SMP hingga Perguruan Tinggi tertulis Adelina Eka Shafetsila. Hal ini sungguh membingungkan dalam beberapa hal seperti tatkala aku akan mengurus SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) untuk keperluan melamar pekerjaan dua hari yang lalu. Sepertinya kedua huruf antara (e)F dan V(e) tidak bisa disatukan dan hingga saat ini belum juga ditemukan titik temunya.
Ada permasalahan lain terkait dengan namaku. Jika berkaitan dengan keperluan formal, nama belakangku menjadi masalah, akan tetapi jika berkenaan dengan masalah informal, nama depanku-lah yang mengalami nasib sial. Begitu aku lahir, kedua orang tuaku serta kerabat memanggilku dengan nama LINA. Nama yang cukup pasaran memang. Begitu aku menginjakan kaki di sekolah menengah atas, Tuhan mengeluarkan leluconNya dengan mempertemukanku dengan seorang gadis bernama INA dalam satu kelas. (Yah, nyaris sama). Alhasil, akulah yang harus mengalah karena nama sahabat karibku itu INA ANDRIANI. Layak kiranya jika diputuskan nama paling depan yang akan dijadikan nama panggil. Tercetuslah ADEL dari seorang teman. Damn! Hingga saat ini akupun mengalami dilema berkepanjangan saat memperkenalkan diri. ADELINA-pun menjadi alternatif pada akhirnya (walaupun terlalu panjang). Sampai saat ini bapak ibuku masih shock ketika ada teman yang bertamu ke rumah dan menanyakan ADEL. HARAP MAKLUM








SIM










KARTU MAHASISWA