Wednesday, October 28, 2015

Sudut Pandang

"Seorang suami mengecup pelan kening istrinya yang masih tertidur setelah ia meletakkan nampan yang berisi segelas susu hangat dan setangkup roti bakar di samping tempat tidur istrinya. Lalu sambil berjingkat, dia beranjak pergi."

Tulisan seperti itu dipost-kan di laman jejaring sosial. Banyak komentar yang bermunculan baik yang positif maupun negatif. Seperti,
"Ih, suaminya so sweet banget..."
Namun ada juga yang berpendapat
"Ih, dasar istri pemalas!"

Banyak dari kita berkomentar tanpa paham bagaimana keadaan yang sebenarnya. Misal, apa alasan si istri masih tertidur.  Apakah dia sakit? Atau habis begadang semalaman? Ataukah dia benar-benar pemalas? Lalu, soal kepergian suaminya. Apakah sang suami pergi untuk bekerja atau malah berkencan dengan wanita lain.

Who knows?

Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan.

Wednesday, August 5, 2015

Sekolah bagus itu seperti apa?

Baru-baru ini saya mengikuti serial anime dan manga yang berjudul Shokugeki No Souma. Setting ceritanya di dalam lingkungan sekolah memasak. Bisa ditebak sudah pasti tema cerita juga seputar masak memasak. Alurnya cepat, menarik diikuti dan selalu membuat penasaran akan kelanjutan ceritanya. Namun bukan itu saja yang ada di dalam pikiranku.



Tersebutlah sekolah Totsuki, sekolah memasak terbaik di Jepang, bahkan di dunia. Di dalam sekolah tersebut terdapat aturan hanya murid yang terbaik dan berpotensi besarlah yang bisa lulus. Kepala sekolah menegaskan dalam pidato penyambutan siswa baru bahwa kurang 10% dari total siswa yang bisa lulus. Mereka akan diadu, saling berbenturan dan mengasah bakat mereka masing-masing. Dan memang, lulusan dari sekolah tersebut bisa dipastikan menjadi koki dan pemilik restoran yang hebat.

Hal ini menggelitik, terlepas Totsuki adalah sekolah khusus (vokasi) sehingga lulusannya perlu daya jual yang tinggi, tetapi tidak dapat dipungkiri pemikiran tersebut ada benarnya. Ironi memang ketika saya melihat masih banyak (atau hampir semua) sekolah membuat sistem yang memaksa guru-gurunya untuk mengatrol nilai siswa dan meluluskan semua siswanya. Dengan dalih sekolah yang bagus dan hebat adalah sekolah yang bisa meluluskan semua siswanya dengan nilai di atas batas tuntas. Jika itu memang benar adanya, maka akan bagus hasilnya. Namun, jika hanya efek pemaksaan nama baik sekolah dan kurikulum saya rasa hasilnya akan sia-sia. (kurikulum 2013 mewajibkan siswa untuk lulus batas tuntas). Wallohu a'lam.

Mungkin paradigmanya yang perlu diubah, atau pemikiran saya ini hanyalah sampah. Perwujudannya hanya akan menambah masalah karena semakin banyak orang yang tak punya ijazah.

Well, bagaimana sekolah yang bagus menurut kalian?

NB: warning aja sih, Shokugeki No Souma itu banyak "echi"nya, tapi ceritanya baguslah. 

Thursday, July 2, 2015

Perbedaan


Saya tumbuh dan tinggal dalam lingkungan yang heterogen terutama dalam hal beragama. Keluarga besar saya hampir semuanya beragama islam dan seperti yang sudah disabdakan nabi Muhammad, islam saja bermacam-macam ragamnya. Muhammadiyah, salafiyah, nahdatul ulama, wahabi, nasionalis, liberalis dan lain sebagainya. Tidak lagi mengherankan ketika hari raya, keluarga kami bisa mengadakan 2 bahkan 3 kloter silaturahim karena perbedaan perhitungan bulan. Tidak lagi mengejutkan ketika seorang saudara yang istiqomah dengan penutup wajahnya menepuk tangan saya ketika kami makan soto ayam bersama karena saya meniup makanan yang hendak saya lahap. Hal seperti terus berlanjut hingga saya kuliah bahkan menikah. Saya pernah ditolak ikut pengajian di masjid kampus karena saya dan penyelenggara “dianggap” mempunyai harakah yang berbeda. Juga mengenai hal pertama yang ditanyakan calon ibu mertua saya ketika datang melamar adalah apa weton saya. Sayapun sedikit terbiasa dengan saudara yang menikah beda agama. Bukan berarti saya sepaham dengan mereka yang seolah-olah mengatasnamakan cinta adalah segala-galanya, tidak. Namun keadaan seperti itu tidak mengubah hubungan kekerabatan dan perasaan personal saya terhadap orang-orang tersebut. Saya merasa tidak pantas mengatakan mereka salah dan saya yang benar. Sayapun tidak sampai hati menghujat dan menjauhi mereka.


Belakangan muncul fenomena LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) dengan disahkannya pernikahan sesame jenis di Amrik sana. Pendapat saya? Jelas saya tidak sepaham dengan mereka. Hati nurani saya terganggu dan saya sungguh berharap LGBT itu jangan sampai ada apalagi hingga dianggap sah. Tetapi perlukah saya menghujat, memaki, menggunakan bahasa kotor untuk menyatakan ketidaksetujuan saya? Sekali lagi saya tidak sampai hati. Dan sayapun tidak suka dengan cacian yang ditujukan kepada mereka hampir sama tidak sukanya dengan LGBT itu sendiri. Saya yakin dibalik pengesahan undang-undang itu ada perjuangan yang luar biasa dari “penderita” LGBT  tersebut. Lantas mengapa mereka berjuang? Karena mereka merasa terkucilkan. Mereka bukannya diberi uluran tangan untuk disembuhkan tetapi mereka dicaci, dihina, bahkan mungkin mengalami kekerasan dari orang-orang yang merasa dirinya lebih baik dari binatang dalam hal orientasi seksual. Bukankah nabi Luth tidak mencaci dan menghina bangsa Sodom? Mengapa tidak kita doakan saja mereka? Semoga mereka yang “sakit” ini dapat menemukan jalan kebenaran. Biarlah Tuhan yang memutuskan dengan segala kuasaNya, apakah hidayah ataukah azab bagi mereka.

Wednesday, June 10, 2015

Sosial-ita


Ceritanya saya sudah diterima bekerja sebagai petugas pencacah masyarakat golongan sangat miskin di sebuah kecamatan di kota T. Nantinya, rumah tangga sangat miskin (RTSM) tersebut akan diberi bantuan dana oleh pemerintah sesuai dengan kebutuhan mereka di bidang pendidikan dan kesehatan. Tempo hari, kami mengadakan rapat koordiasi (Rakor) bersama para jajaran SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah). Di tengah rakor tersebut, terjadi percakapan yang cukup menggelitik.

“Kalau kamu background pendidikannya apa?” Tanya seorang petugas pencacah lain.

“Saya keguruan.”

“Guru apa?”

“Bahasa Inggris.”

“Wah, kalau saya guru sosial (Ilmu Pengetahuan Sosial atau IPS). Jadi background saya sesuai dengan program ini (yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan dan digawangi oleh dinas sosial -red).”

Entah saya yang kurang mengerti atau memang taraf sikap sosial orang “kota” tersebut hanya sebatas pengetahuan sosial seperti geografi, sejarah, ekonomi dan rumpun ilmu sosial lainnya. Sedikit flashback pada masa ketika saya masih mendapatkan pelajaran IPS di sekolah. Saya tidak (belum) sampai diajari bagaimana saya bisa membantu lingkungan sosial melalui sikap sosial yang seharusnya saya miliki. Menurut saya, sikap sosial lebih kepada hal-hal yang seseorang lakukan terhadap lingkungannya dan hal tersebut tentunya membawa efek yang positif. Hal-hal tersebut bisa berupa, tindakan, pemikiran bahkan bisa berupa perasaan. Jadi, sikap sosial bisa dirasakan dan dilakukan oleh semua orang tanpa memandang latar belakang pendidikannya.

Saya akui, yang saat ini saya lakukan hanya sebatas “mencari kegiatan berbayar agar saya tidak bosan dengan rutinitas menunggu suami pulang”.  Tulisan ini juga dibuat bukan oleh seseorang yang sudah sangat “sosialis” namun setidaknya mengerti mengapa ada Dinas Sosial tetapi tidak ada Dinas Bahasa maupun Dinas IPA.


NB: Semoga lain kali tidak dipertemukan dengan ibu-ibu sosialita yang mengatakan bahwa pekerjaan saya tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, karena saya tidak se-sosial mereka. 

Wednesday, April 22, 2015

Kala Subuh Membasuh

“Saya terima nikah dan kawinnya Adelina Eka Shafetsila binti Bapak Adi Susilo untuk saya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat sekian gram dibayar tunai.”

seperangkat alat sholat

Kalian bertanya bagaimana rasanya? Semua rasa bercampur. Yang pasti aku tak bisa lagi mudur. Aku terjun bebas, berlari lepas , terasa kebas. Aku tak lagi sendiri, ada kamu di depanku berdiri. Di kemudian hari kamulah yang selalu bangun lebih dini. Mengecupku ringan dan menuntunku sebagai imam.  Hanya dengan segelas teh manis dan bau pagi yang gerimis, kamu mengajarkanku bersyukur tiada habis. Aku senang melihatmu saat fajar mulai biru. Aku bahagia mengikutimu, berdiri di belakangmu. Hal seperti ini yang belum pernah aku temui. Semoga tetap bertahan hingga kita tua nanti, bahkan semoga sampai kita berdua mati.


Backsong: God Bless the Broken Road – Rascal Flatts

Sunday, April 19, 2015

Hari Ketika Aku Paling Mencintaimu

12 April 2015

Akan tiba suatu hari bilamana pagi, kitalah embunnya. Bilamana  fajar, kitalah sang surya. Pagi terindah sepanjang hidup saat mentari masih redup hingga terang sepertinya gugup. Gugup menjelma degup yang mengusik menggelitik merayu nafas yang resah membisik. Saat terang mulai bersemu, lalu detik menit bukan lagi waktu. Kita bertemu tidak lagi di dalam ragu, tidak lagi merasa malu sebab kita telah menjadi satu.

Aku ingat saat kau menatapku lekat ketika aku datang mendekat. Kukalungkan untaian melati sebagai tanda bakti yang suci lagi wangi. Di depan para saksi, kita sah terikat janji. Kau mungkin tak mengerti bahwa tatapanmu berisi jawaban yang aku nanti: Iya, akulah sang pelangi selepas hujan dan menjadi  garis perakmu di tepian awan.  Aku yang akan menyayangi dari rambut hingga ujung kaki. Dan aku pulalah yang akan melindungi, mengobati, serta mencintaimu sampai mati.

Kemudian kita bergandeng tangan mengeja masa depan untuk meraih angan-angan. Aku mencintaimu dan aku yakin demikian pula denganmu mencintaiku tanpa ragu.


Lalu senja. Apa yang bisa aku katakan tentangnya? Kata sepertinya tak lagi mampu bicara. Jingga terindah yang tenggelam di hamparan sawah. Dalam senja itu kitalah yang bersemu membias merah.

Monday, March 23, 2015

Selamat Menempuh Jalan Bahagia

Hubungan sebelum ijab-qobul disebut zina, dan disebut ibadah jika sesudahnya.

Akad Nikah Vito (Sorosutan, 22 Maret 2015)

Ijab-qobul memang hanya akad yang diucapkan sembari dua tangan saling berjabat. Tapi hanya cinta yang pekat yang sanggup untuk memikul beban sedemikian berat. Disaksikan oleh para malaikat dan atas ridha Tuhan yang Maha Dekat, serta langit bergoncang hebat saat dua insan itu saling terikat. Semesta turut memintakan berkat selama kedua mempelai tetap taat, jangan sampai mereka tersesat terlebih hingga dilaknat. 

Bahagia itu bisa berbentuk tawa maupun air mata. Sempurna di awal lalu meledak dalam jutaan kristal. Lambat laun bahagia bukan lagi ledakan namun perasaan tenang yang bisa satu sama lain berikan. Bagaimana keduanya melebur, sedikit memaksakan egonya untuk membaur. Membangun impian memang tidak semudah khayalan. Satu demi satu benang dibuat susunan, walau belakang berantakan namun terpampang indah di bagian depan. Karena manusia harus maju, tak terikat masa lalu . Kita hanya berilusi waktu, yang seolah-olah menjadikan kita sebagai pelaku. 

Menjawab tantangan bahagia kita harus melewati rentetan tangis duka lara. Dan sekali lagi, karena kita manusia, hanya doa dan usaha kunciya menghamba. 

Backsong : All of Me --- John Legend

Thursday, March 19, 2015

Mamah

http://www.kaskus.co.id/thread/549bb862a1cb1792038b4572/siluet-kayu-jati-belanda/




Mah, putramu telah memilihku untuk menjadi putrimu yang lain. Menjadi bagian dari keluarga yang bukan sekedar main-main. Dia menawarkan sepotong senja  yang merah jingga, membuatku berseri manja bahagia tak terhingga. Aku dipertemukan dengan perempuan yang di bawah kakinya surgaku aku letakan. Seorang wanita luar biasa yang sungguh telah berjasa. 

Mah, ada banyak hal yang ingin aku pintakan. Aku butuh berbagai macam ajaran. Aku ingin belajar bagaimana pakaian putramu dilipat, bagaimana masakanmu bisa sedemikan lezat, hingga bagaimana menghadapinya ketika kami sedang berselisih pendapat. 

Mah, janganlah engkau khawatir. Untuk mencintai putramu cintaku cukup tangguh untuk melalui pahit dan getir. Walaupun aku cukup merepotkan dengan selera makanku yang terkadang membuat kewalahan. Terimakasih telah merestui kami dalam ikatan pernikahan serta mengizinkan kata “kami” mempunyai masa depan. 

Aku --- kami, akan berjuang untuk saling membahagiakan meskipun sedikit omelan tak akan mungkin dapat terelakan dan beberapa candaan yang sedikit kelewatan. Mah, semoga kedatanganku bisa menjadi bagian dari bahagiamu, tidak berakibat resahmu apalagi susahmu. Sebagai ibuku yang baru, selalu kuharapkan ridhamu.

Friday, March 13, 2015

Bersama Doa

Jika akhirnya kamu tidak bersama dengan orang yang sering kau sebut dalam doamu, mungkin kamu akan dibersamakan dengan orang yang diam-diam mendoakanmu
 --- seseorang

Jumat tanggal tiga belas dan luka itu masih cukup jelas membekas. Satu bulan menuju hari bahagiaku dimana aku akan tertawa sampai kaku, sampai hilang semua ragu. Aku mulai berbenah, berusaha membuat kamarku tampak berubah, mencoba menyingkirkan beberapa benda yang masih juga membuatku resah, terutama mengelap noda darah dari hatiku yang pernah terluka parah. Tempo hari kau bertanya apa yang kupinta, apa yang bisa kau bawa, dan aku yakin kau sanggup membawakanku semesta. Namun tahukah kau, aku terlalu takut untuk meminta sebab aku sedang belajar untuk mencinta. Aku takut tak bisa menolakmu dengan segala pesona pembawa bahagia. Oh, aku akan berbahagia walau orang mungkin tak percaya bahwa aku sanggup bahagia --- dengan cara membuat luka.

Satu tahun kita bersama dan aku mulai berdoa. Satu tahun kita mengambil tempat yang berbeda dan aku tetap berdoa. Satu tahun kita kembali berjumpa dan aku masih berdoa. Satu tahun kita berpisah, sebuah doa lain menjemputku bersamanya. Aku akan mulai membalas doanya, mencintanya dan berbahagia serta membahagiakannya. Untukmu, semoga segera kau temukan tempatmu.

Sudah saatnya tiba aku berhenti bercerita tentang lalunya masa, mencoba berkisah tentang cinta yang fitrah serta cita-cita yang indah.

Terimakasih atas kisah kasih seorang kekasih, semoga Tuhan selalu mengasihi. Aamiin.



Beruntunglah jika kamu dibersamakan dengan orang yang kau sebut namanya dalam doamu sekaligus diam-diam mendoakanmu. 

Wednesday, December 31, 2014

Aku Hanya Manusia

Aku, kau dan dia, kita berbagi peran,
mengocok dadu lalu mengambil bagian
Kita bisa bergaya apa dengan cara bagaimana
Hanya kita tak bisa menentukan alur cerita

Ini tentang waktu di mana
kau terlampau dini untuk hadir
karena waktumu sudah ditentukan di akhir
Lalu kau  seperti memaksa berbalik aliran air
yang terlampau sulit penuh pahit dan getir

Ini tentang waktu bilamana
dia terlalu lambat untuk berperan
karena waktunya seharusnya di depan
Lalu dia seperti mendobrak pintu bendungan
yang terlalu keras susah untuk diruntuhkan

Kemudian aku terjepit dan berdarah
Di antara saling silang alur cerita yang tak tentu arah
Aku bisa saja berlaku marah bukannya pasrah
Namun ketahuilah akupun manusia lemah


Backsong : Human, Christina Perri 

Saturday, December 13, 2014

Sepotong Lasagna dari Tempat yang Jauh



Hubungan jarak jauh bagaimanapun itu ADA dan banyak orang yang menjalaninya. Beragam orang memandang hubungan tersebut dengan cara yang berbeda. Dari anggapan romantis tentang “Selalu berteduh di bawah abadinya rindu” hingga pemikiran “Seperti berpacaran dengan hantu”

Namun satu hal yang saya yakini dengan pasti (setidaknya hingga tulisan ini dibuat) bahwa tidak ada orang waras satupun di semesta raya ini yang menginginkan hubungan jarak jauh. Rindu itu bagai sembilu, yang mengiris pilu pembuat sendu.

Saya ingin menganalogikannya begini:
Saya mempunyai hubungan yang sulit dijelaskan dengan sebuah makanan bernama lasagna. Sangat disayangkan di kota tempat saya tinggal saat ini tidak kunjung dibuka kedai makanan magis ini. Saya merindukannya dan berbagai cara saya berusaha untuk mendapatkannya. Melihat videonya di youtube, memasang gambarnya sebagai wallpaper handphone saya, membayangkan dan memimpikannya, Lalu apa? Hal yang saya lakukan tersebut sama sekali tidak mengobati kerinduan saya, justru memperparah. Tentu akan sangat berbeda ceritanya jika saat ini ia terhidang di depan saya lengkap dengan segelas jus semangka.

Begitulah, sepasang kekasih bisa saja saling menyapa melalui suara, pesan pendek hingga video call, tetapi rasanya akan sangat jauh berbeda jika mereka dapat bersama. Apapun sebutannya, entah berdua atau bersatu, sepasang kekasih yang berada di ruang dan waktu yang sama, itulah yang disebut bahagia bersama.

Tuesday, December 9, 2014

Jenuh

Saya jenuh dengan kata "tunggu" yang bergaung sendiri
Saya jenuh dengan janji yang tak kunjung tertepati
Saya jenuh dengan kesabaran yang tak bisa abadi
Saya jenuh dengan ego yang maunya menang sendiri
Saya jenuh dengan dosa yang tak layak diampuni
Saya jenuh dengan kita yang masih saja begini

Monday, November 24, 2014

Pilihan



Andy terpaksa melakukan semuanya. Dia terpaksa mengubah penampilannya. Dia terpaksa "mengkhianati" rekan kerjanya. Dia terpaksa memutuskan hubungan dengan pacarnya. Dia terpaksa "menomorsekiankan" hal-hal yang dia sayangi karena dia "harus" mengikuti Miranda. Benarkah demikian? Benarkah ia tak bisa melawan? Benarkah ia sama sekali tak punya pilihan? 

Oh, tentu saja ia bisa menentukan apa yang seharusnya diprioritaskan. Demikian pula denganku, begitu juga denganmu.

Friday, November 21, 2014

Seberapa Sayang?

Mengapa kita sering membiarkan orang yang kita sayang menunggu?

“Sebentar Nak, tangan ibu masih belepotan.” Jawab seorang ibu yang sedang sibuk di dapur ketika diminta anaknya mengucirkan rambut. Itu sebelum telepon berdering dan si ibu asyik bergossip dengan dharma wanita lain sambil tak sadar melumuri gagang telepon dengan bumbu kuning.

“Nanti ya, kalau ayah udah pulang kantor.” Jawab seorang ayah yang sedang sibuk memakai sepatunya bersiap pergi ke kantor ketika anaknya sedang meminta pendapat sang ayah tetang tugas menggambarnya di sekolah. Kemudian si ayah pulang larut malam dan sama sekali lupa.

“Sebentar Mah!" Jawab seorang suami yang sedang asyik memainkan PS4-nya ketika dimintai bantuan oleh istrinya untuk mengangkat jemuran. Kemudian hujan keburu datang dan membuat semua kembali basah.

“Sebentar, Pah!” Jawab seorang istri yang sedang asyik berdandan ketika diklakson suaminya yang sudah berada di atas motor yang sudah menyala sejak 30 menit yang lalu. Lalu si istri keluar rumah dengan penampilan biasa saja.

“Sebentar Bund!” Jawab seorang anak yang sedang sibuk membuka facebook, twitter, path, instagram, dan blog-nya ketika  ibundanya meminta bantuan untuk berbelanja di warung sebelah.


Lalu pertanyaanya adalah, “Seberapa sayangkah kita?”



Backsong : When you love someone --- Endah n Resha

Wednesday, November 19, 2014

Time Capsule


Hai, apa kabar? Jika kau membaca surat ini berarti kau masih hidup. Semoga hidupmu diberkahi Tuhan dengan kesehatan. Dulu kau sering mengeluh maag dan migraine sebab makan dan tidurmu kurang teratur. Mungkin saat ini kau sudah bisa menenangkan pikiran dan mengelola emosi dengan lebih baik. Katanya, waktu mengajarkan perubahan. Kuharap badanmu tak sekurus dulu. Aku selalu prihatin ketika memandang cermin melihat deretan tulang yang menonjol di pangkal leher dan dada. 
Oh ya, bahagiakah dirimu? Sibuk apa sekarang? Siapa suamimu? Berapa anakmu? Saat kutulis surat ini, hal-hal itulah yang memenuhi benakku. Kau pasti menganggapku bodoh setengah mati. Kau ingat, saat aku patah hati berulang kali dan  menangis menjadi-jadi? Kau pasti akan menasehatiku dengan bawel bahwa aku ini perempuan yang teramat rewel. Sebelum kau mengomeliku, kiranya aku akan mendahuluimu.

Serahkanlah segala sesuatu kepada Tuhan, jika usahamu tidak lagi bisa kau paksakan maka sudah saatnya kau memasrahkan. Kau bisa memulainya dengan membaca Al-Quran. Ingatkah kau dengan ayat sakti yang aku baca dengan tidak sengaja ketika sakit hati? fabiayyi alaa 'iraabikumaa tukadzdzibaann? Kau pasti lebih tahu tentang hal itu. Tentang syukur dan sabar. Kuharap kau bukan sosok emak-emak yang berpikiran repot dan merepotkan. Eh, kau bukan perawan tua yang judes, bawel, dan menyebalkan kan? Kalau iya, berubahlah. Kudoakan kau masuk surga dan punya suami tampan di sana. Oh iya, tentang hal itu. Kau ingat, sudah berapa kali dulu kau jatuh cinta? Secara pribadi aku meminta maaf yang sebesar-besarnya karena kelakuanku dulu memberimu lara yang tragis bahkan lebih banyak dari cinta bahagia.

Kau punya anak? Berapa? Cantik dan tampankah? Pasti mereka segalanya. Tentang anakmu, ada yang ingin aku pintakan: bekali mereka dengan ilmu agama yang baik, bebaskan mereka melakukan apa yang mereka suka sejauh mereka mampu menjadi yang terbaik dalam hal itu, dan jangan persulit mereka ketika mereka mulai menemukan belahan hatinya juga restui mereka selama ikatan mereka dalam kaidah norma yang baik. Aku tahu, kau mempunyai pemikiran sendiri, kaupun orang yang selalu merasa benar sendiri. Kau bisa menilai tetapi jangan sekali-kali memaksa tanpa alasan yang cukup bagus. Oh, kau pasti bisa membedakan alasan logis dan sangat pintar membuat serta berargumen tentangnya.


Sudah ya, kapan-kapan kita berbincang lagi. Aku selalu mendukung dan mendoakanmu. Kau tak pernah sendiri.

Tuesday, November 18, 2014

Guru Honorer



Dalam sebulan, kami bekerja (dengan dibayar) selama satu minggu, sisanya kerja bakti. Jadi perhitungannya seperti ini.
Misal:
Gaji pokok = Rp. 15.000,00 / jam
Dalam seminggu kami mengajar sebanyak 24 jam. (24 jam adalah standar guru profesional yang disertifikasi)
Berarti gaji yang kami dapat (hanya)        = 24 x Rp. 15.000,00
                                                                   = Rp. 360.000,00 / bulan

Beberapa di antara kami cukup banyak yang berani mengambil resiko keberlangsungan hidupnya (dan keluarganya) dari penghasilan yang demikian.


-- Maaf, teman-teman…… karena saya pernah meng-iya-kan anggapan orang bahwa pekerjaan tersebut hanya pengisi waktu luang, bukan sumber penghidupan.

Monday, November 17, 2014

Idul

Saya punya kucing. Sebenarnya ada tiga, namun saya ceritakan salah satunya saja. Idul, namanya. Kucing berwarna cokelat jingga yang (tadinya) gemuk. Idul senang sekali merebahkan tubuhnya di samping kaki kami berharap untuk dijadikan keset. 

Suatu hari, berbulan-bulan lalu Idul pulang ke rumah dengan muka bersimbah darah. Bola mata kirinya terluka. Ajaib, Idul bisa sembuh walau dengan mata kiri yang buta. Runtut cerita, Idul berkelahi dengan pejantan lain karena memperebutkan seekor betina. Iyalah, dia kalah. Tipe kucing rumah yang melawan tikuspun ia pasrah. 

Kemudian tiga malam lalu, Idul ditemukan tergeletak di tengah jalan. Diam tak bergerak, mendengking pelan. Di sebelahnya, masih betina yang sama, yang menjadi alasan dia buta, tergeletak dengan usus terburai tak bernyawa. Ayah yang malam itu sedang ronda, mengangkat Idul dan membawanya ke rumah. Semenjak itu Idul selalu diam, Tampaknya dia telah terpuruk terlalu dalam.


-- Manusia saja tak sebaik dirimu, kawan.


Thursday, October 30, 2014

UUN = Ujung-Ujungnya Nikah

“Kenapa sih ya, sekarang ini obrolanku sering banget tentang nikah? UUN. Ujung-ujungnya nikah. Apa kamu juga iya?”
 – Dwi, 25 tahun, Guru Matematika

Dan saya-pun akhirnya meng-iya-kan pertanyaannya setelah “kena batu”nya sendiri. Saya yang sebelumnya sudah cukup lama menjalani hubungan yang (katanya) serius namun akhirnya putus, terjatuh pada lubang yang sama. Saya jatuh pada hubungan abu-abu yang TIDAK BISA saya putihkan maupun saya hitamkan (dengan segera). Iya, saya tidak tegas, pengecut dan bodoh setengah mati. Saya kembali bertaruh dengan waktu, bahkan setelah saya merasakan sendiri betapa magisnya kekuatan waktu. Saya kembali tertampar oleh teguran Tuhan bahwa DIALAH YANG MENENTUKAN! 

Saya kembali teringat akan tulisan alay seorang Adelina di masa silam. Boleh dicek di adelataulina.blogspot.in/2011/10/making-plans-and-targets.html. Kemudian, (mungkin) atas jalan-Nya pula belum lama ini saya kembali mengaktifkan handphone butut saya yang lama. Ada note  beralarm pada aplikasi kalender yang isinya:




Saya membayangkan jika seandainya pesan tersebut tidak saya buka di hari itu, esok pada tanggal 1 November tepat tengah malam akan ada alarm berbunyi yang mengingatkan saya tentang target menikah yang saya buat entah sedari kapan. Jika anda tidak percaya ada orang yang bisa menertawakan kebodohannya hingga terpingkal-pingkal lalu menangis sejadi-jadinya segera setelah ia tertawa, mulai saat ini, percayalah. Saya sudah melakukannya.

Lalu apa yang harus saya lakukan?

Tuhan,
“Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Oh, saya harus beriman, berbuat baik, mentaati kebenaran dan menetapi kesabaran.


NB: saya tidak akan selamanya murung. Saya hanya sedang memulihkan perasaan dari perasaan tertolak dan gagal. Saya jelas tidak akan membiarkan diri saya berantakan, apalagi di usia saya yang bisa dibilang "wagu" untuk bersedih secara lebay. Saya hanya butuh waktu. Katakanlah, saya sedang merasa patah hati untuk kesekian kali. Dan kepadamu, juga siapapun, saya akan lebih berhati-hati.

Backsound: Berhenti Berharap -- So7

Saturday, September 6, 2014

Seorang Guru


 

Selalu terbesit dalam hati saya ketika berhenti di persimpangan lampu merah, “akankah saya patuh ataukah kebiasaan buruk membuat saya kalah.” Saya seorang guru, dan sayalah orang yang seharusnya ditiru. Lalu saat tangan saya menggenggam sampah, akankah saya membuang pada tempatnya atau cuek melemparnya tak tentu arah. Karena saya seorang guru, dan sayalah orang yang tak pantas berbuat saru.

Saya sadar ternyata saya bukanlah mengajar siswa, tetapi sayalah yang belajar dari mereka. Saya belajar tentang perjuangan, tentang beragam indahnya “skenario” hidup garapan Tuhan. Suatu hari seorang siswi membentak saya ketika saya memaksa dia menyebutkan nama kecil ibunya. Masalah kecil, sekedar data peserta didik biasa, sebuah administrasi belaka. Namun tidak baginya. Dia tak pernah tahu, dan tak ada yang mau memberi tahu siapa sebetulnya sang ibu. Terlalu banyak sakit hati, terlalu banyak duri, yang lebih baik disimpan tanpa peduli perihal jati diri.

Di lain hari, seorang siswi mengeluh sakit pada pinggang sebelah kiri. Kami bicara pelan, kemudian terurai kisah tragis yang memilukan. Tentang pekerjaannya mencari uang, dari para pendatang yang masuk lewat pelabuhan. Para lelaki hidung belang, yang ingin sekedar mencari hiburan di kala senggang.  

Dan hari ini, saya tersentak kembali. Penyebabnya adalah seorang siswa lelaki yang begitu sering aku marahi sebab rambutnya panjang berponi. Berkali-kali dia selalu lari dan hanya meringis geli ketika dia berhasil membuat saya berteriak emosi. Lalu tadi, kami duduk saling berbagi. Dengan ancaman gunting di tangan kiri, dia berjanji akan memperbaiki diri esok hari. Dengan buku catatan pelanggaran siswa di tangan kanan, aku catat nama ayahnya untuk sasaran aduan. Namun katanya, ayahnya tak lagi ada. Bukan karena pergi tertutup nisan tetapi memang tak ada yang tahu di mana si ayah gerangan. Dia hanya tinggal bersama sang eyang karena ibunyapun sedang merantau di negeri seberang.

Guru itu belajar. Belajar tentang syukur dan sabar. Bukankah kunci hidup bahagia ada di keduanya? Dan guru itu mengajar. Mengajar berdasarkan apa yang sudah dia dapat dari prosesnya belajar. Bukankah hidup memang berputar begitu adanya?



-- Untuk Novian, pemilik cengiran tengil a la Monkey D Luffy, maafkan ibu sudah begitu sering memarahimu. Tetapi kamu memang begitu menyebalkan. XD

Thursday, August 28, 2014

Pusing yang Bercerita

Belum pernah ada hari dimana aku tak mengingatmu. Sedari hal makan nasi hingga potong kuku, bahkan saat tawaku bukan lagi karenamu. Banyak hal yang aku rindu, entah itu kau sekedar mendengar atau beri nasehat tak bermutu. Banyak hal yang ingin aku ceritakan, cerita berulang yang biasa membuat kamu bosan. Seperti rusaknya (lagi) laptopku dan banyaknya (lagi) administrasi guru. Kau tahu, aku tak lagi semanja dulu. Lebih sedikit tidak merepotkan, atau mungkin memang hanya padamu aku bisa mengutarakan keluhan. Setidaknya aku mau tetap makan walaupun duduk sendirian. Akupun tetap rutin nonton walaupun hanya berteman popcorn.

Sekarang aku sadar, bahwa kau dulu begitu sabar. Aku lebih bergantung padamu daripada dirimu akanku. Mungkin karenanya lebih sulit bagiku untuk menahan tangis saat kenangan tajam mengiris. Hari ini aku kembali cengeng. Eh, mungkin hanya karena bensin tak lagi cukup dua kali goceng. Atau laptopku yang sekarang sudah jadi rombeng.


*maaf, mungkin ini yang disebut pusing tujuh keliling. Seharusnya saya sedang mengetik RPP bukan malah curhat lewat HP.